Calon Gubsu Dan Wagubsu 2013 Sumut

Calon Gubsu Dan Wagubsu 2013 Sumut

Calon Gubsu Dan Wagubsu 2013 Sumut | BALON Gubsu 2013 Sumut ,Sepertinya dipastikan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumut 2013 akan diramaikan lima pasang calon. Setelah Jumat, (16/11) sore, pendaftar bakal calon (balon) Gubsu hanya ada lima pasang. Kita hanya menunggu keputusan KPU untuk nenetapkan mereka menjadi calon Gubsu.
Kelima pasangan itu, 
  1. Gatot Pujonugroho-T. Erry Nuradi (Ganteng), 
  2. Effendi Simbolon-Jumiran Abdi, 
  3. Gus Irawan Pasaribu-Soekirman, 
  4. Chairuman Harahap-Fadly Nurzal, dan 
  5. Amri Tambunan-RE Nainggolan.

Kelima pasangan, bukan "orang baru" bagi kalangan masyarakat Sumut. Setelah sebelumnya juga muncul sejumlah tokoh seperti Soetan Batughana, Cornel Simbolon, dan lainnya. 

Gatot Pujonugroho, misalnya. Masih menjabat Plt Gubsu yang tentu saja popularitasnya tidak diragukan. Semua yakin, popularitas mampu mendukung ektabilitas nantinya.

Perebutan poisi paling wahid di Sumut ini menjadi genderang perang bagi para birokrat dan politisi. Selain Gatot, ada birokrat lain yang juga sudah mengakar di Pemprov Sumut sebelumnya, yakni Amri Tambunan. Sedangkan politisi Chairuman dan Efendi Simbolon, juga akuntabel untuk memimpin Sumut lima tahun ke depan.

Empat tahun menjadi pemimpin Sumut dan masih menjabat, tentu Gatot punya peluang lebih dibanding lainnya. Dimana pun, incumbent selalu menjadi sorotan: baik untuk peluang dukungan maupun sebaliknya, incaran untuk terus dikontrol dan diawasi. Apalagi masih banyak "PR" yang belum diselesaikan Gatot.

Megaproyek Bandara Kuala Namu misalnya, bisa menjadi batu sandungan perolehan suara atau sebaliknya sebagai tangga untuk kesuksesan memenangkan Pilgubsu nantinya. Tapi bolehlah masyarakat berujar: sudahkah pendidikan yang layak dirasakan warga Sumut sehingga tidak ada masyarakat yang bodoh atau meratakah jangkauan layanan kesehatan untuk menjadikan rakyat tidak sakit?

Beda kepentingan

T Erry Nuradi yang adik Almarhum T Rizal Nurdin (mantan Gubsu yang meninggal karena kecelakaan pesawat Mandala), mulai menggeliat menjadi birokrat sejak terpilih menjadi orang nomor satu di Sergai. Dua priode, ia berpasangan dengan Soekirman. Namun kini, ia dan wakil bupatinya menjadi rival: satu tujuan namun beda kepentingan untuk menjadi orang nomor dua di Sumut. Keduanya mendaftar sebagai wakil.

Meski tidak sepopuler Gatot, Amri Tambunan (kini Bupati Deli Serdang) pantas diperhitungkan para rivalnya. Jika tidak andal, tentu partai pemenang Pemilu 2009, Demokrat tidak berani mengusungnya menjadi balon. Rekam jejak Amri Tambunan dibuktikan dengan jabatannya di Pemprovsu hingga dua priode dipercaya masyarakat Deli Serdang menjadi bupati.

Bahkan kemenangan pada pilbup priode keduanya sangat mengejutkan. Sebab dari sembilan pasangan calon, Amri mampu merebut lebih 50 persen suara. Tentu ini menjadi modal besar untuk memenangkan Pilgubsu 2013 nanti. Hanya saja, kemampuannya mendekati masyarakat harus lebih diupayakan.

Dua priode memimpin Deli Serdang, Amri Tambunan yang kaya prestasi iu terdongkrat melalui Gerakan Deli Serdang Membangun (GDSM). Gerakan yang melibatkan partisipasi masyarakat dan swasta dalam mendukung pembangunan yang dimotori pemkab itu, sepenuhnya mengembalikan semangat gotongroyong.

Sembilan tahun berjalan memimpin Deli Serdang, GDSM telah mampu merubah perilaku masyarakatnya untuk lebih peduli terhadap sesama. Dibuktikan dengan Konsep Percepatan Rehabilitasi dan Apresiasi Sekolah (Cerdas), Konsep Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Anak (Ceria), dan Bedah 10.000 Unit Rumah Masyarakat Miskin (Baru Yakin).

GDSM ini pun selanjutnya menjadi "trademark" bagi Amri Tambunan. Banyak daerah provinsi maupun kabupaten/kota se-Tanah Air yang berkunjung ke Deli Serdang untuk menyerap dan mendalami konsep tesebut.

Nama Chairuman juga bukan asing bagi masyarakat Sumut. Sedangkan Gus Irawan, meski sebelumnya bukan birokrat maupun politisi, namun gebrakannya membangun UMKM dan membangkitkan perekonomian rakyat kelas bawah menjadikannya populer hanya dalam hitungan bulan.

Nasionalisme

Dari awal, masyarakat sudah boleh menimbang agar dalam empat bulan ke depan tidak keliru menentukan pilihan. Agar pada tahapan kampanye nanti, masyarakat juga teliti menyimak program yang dijual para kandidat. Yang tentu saja, dalam memilih pemimpin pijakannya adalah sikap nasionalisme.

Keberpihakan kepada rakyat adalah hal biasa yang akan dijual para kandidat dalam kampanye nanti. Menjadi biasa pula jika para kandidat juga mengobral janjinya. Tapi logis dan tidaknya janji-janji itu, tentu berpulang pada telaah warga secara individual.

Masih terlalu dini jika masyarakat harus diyakinkan pada pasangan tertentu saat ini. Masing-masing pasangan memiliki keunggulan dan tentu saja hal negatif yang mengiringi. Siapa yang bisa menyimpulkan Gatot yang ramah dan murah senyum, namun selama menjadi Plt Gubsu berhasil membangun Sumut? Siapa pula yang bisa menjamin keberhasilan Gus Irawan memimpin BUMN akan sama prestasinya ketika memimpin Sumut kelak?

Atau Amri Tambunan yang ber-GDSM, akankah kelak memiliki kecermerlangan ide mambangun dan kebhinnekaan masyarakat Sumut ?

Begitu halnya dengan Chairuman dan Effendi Simbolon yang akan ditakar kepemimpinan dan apresiasinya memajukan Sumut saat kampanye nantinya.

Sembari menunggu KPU menetapkan para balon menjadi calon. Warga Sumut boleh bersenandung: "Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya..." 
Oleh: Rhinto Sustono.- analisadaily.com