Renungan Di Malam Minggu


Renungan Di Malam Minggu | Sudah sekitar sebulan, malam minggu selalu menjadi waktu yang dinanti. Setiap malam minggu, selalu ada suara merdu yang terdengar. Menambah semangat langkah kaki menuju cinta yang hakiki.

Ya, sudah sekitar sebulan ini, setiap malam minggu, ada pelajaran tahsin ba’da sholat isya. Sholat isya setiap malam minggu jadi terasa beda, karena kali ini imam sholatnya punya bacaan yang lebih mantap, bacaannya ‘ngain banget, sang imam ini adalah pengajar tahsinnya. :) 


Selesai sholat isya berkumpullah sedikit anak muda dan beberapa bapak-bapak untuk belajar tahsin. Terkadang saya merasa malu juga melihat semangat bapak-bapak

yang luar biasa ingin belajar tahsin, padahal usia mereka rata-rata sudah di atas 40 tahun, bahkan di atas 50 tahun. 

Andai saja semua anak muda punya semangat belajar seperti bapak-bapak ini, pasti bangsa ini akan lekas maju. Teringat perkataan Bung Karno, berikan aku 10 pemuda maka aku akan goncangkan dunia. Tentu yang dimaksud Bung Karno bukan 10 pemuda yang asal-asalan. Jika yang ada hanya 10 pemuda yang ‘tak berbobot’, mana mungkin dunia bisa terguncang oleh mereka, merekalah yang akan diguncang dunia.

Agama saya, Islam, mengajarkan bagaimana pentingnya menuntut ilmu. Ayat pertama yang diturunkan pun langsung memerintahkan umat Islam untuk membaca, iqro! Tidak sekedar membaca buku dan kitab saja, tapi lebih dari itu umat Islam diajarkan untuk membaca setiap kejadian yang ada di sekitarnya, karena di situlah terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berpikir, orang-orang yang tidak berpikir tidak akan dapat mengambil pelajaran dari sekitarnya. Satu bahasan tentang ilmu ini saja sudah menggambarkan bahwa di dunia ini sudah disediakan ilmu yang sangat luas, di manapun kita berada. 

Luasnya ilmu ini tidak akan bisa kita capai tanpa semangat menuntut ilmu yang dapat mengimbanginya.
Rasulullah saw pun telah mencontohkan bagaimana beliau punya perhatian yang luar biasa terhadap ilmu dan pendidikan umat Islam. Ketika di Madinah, 70 tawanan perang Badar dari kaum Qurasy beliau manfaatkan untuk mengajarkan baca tulis kepada masyarakat Madinah. Satu orang tawanan perang diharuskan mengajarkan baca tulis kepada 10 orang penduduk Madinah. Luar biasa visi rasulullah saw terhadap ilmu dan pendidikan, beliau dapat mengambil manfaat yang besar dari para tawanan perang Badar. 

Jika saat ini rasulullah saw masih ada, dan melihat kita (pemuda, pelajar, dan mahasiswa) bermalas-malasan dalam menuntut ilmu, mencari-cari pembenaran atas lemahnya semangat menuntut ilmu karena dirinya adalah seorang aktivis, atau dengan alasan-alasan lainnya, pasti rasulullah saw akan sangat sedih melihat pemuda Islam dengan kondisi seperti ini.

Semangat menuntut ilmu harus terus kita jaga, karena ilmu begitu luas, dan mungkin memang benar bahwa kita tidak akan mungkin meraih seluruh ilmu di dunia karena luasnya ilmu pengetahuan. Tapi paling tidak kita berusaha untuk meraih sebanyak-banyaknya ilmu yang terhampar di dunia ini, toh ilmu yang bermanfaat akan menguntungkan diri kita juga, bahkan sampai kelak kita mati, karena ini adalah salah satu amalan yang tidak akan terputus walaupun kita telah mati.

Hmm.. Namun, katanya Ibnu Jauzi, beliau menggambarkan bahwa setan itu dapat mencari celah untuk selalu menggoda manusia, bahkan untuk orang yang berilmu sekalipun. Oleh karena itu, ilmu pun harus diimbangi dengan iman. Seorang yang mempunyai bacaan al Qur’an yang baik mungkin ketika sholat berjama’ah akan berbicara dalam hati, “coba liat nih, bacaan ni imam bener apa nggak ya? ………… (sesaat mendengar bacaan imam) wah ternyata bacaannya ada yang gak bener” Ketika ini terjadi pada kita, maka saat itulah kita telah takluk dari setan. Atau mungkin ketika kita belajar di kelas, dan selalu merasa dosen kita ilmunya cetek dan punya banyak salah, saat itulah setan telah merasuk ke dalam diri kita dan menyelipkan rasa sombong dalam hati kita.

Semoga kita dapat terus menjaga semangat menuntut ilmu kita dan terhindar dari sifat sombong yang selalu mengintai dan siap menerkam kita kapanpun dan dimanapun.