Pemimpin 2014, Harus Berdasarkan Kecerdasan

Pemimpin 2014, Harus Berdasarkan Kecerdasan |  Menteri K0ordinator Perekonomian era presiden (alm) Abdurrahman Wahid, Rizal Ramli mengatakan, pemimpin bangsa dan masyarakat Indonesia yang lahir di pemilu 2014 mendatang bukan berdasarkan pencitraan, tetapi kecerdasan.

Artinya sebut Rizal, tokoh yang sudah teruji, baik dari segi akademik dan pengalaman di masyarakat, mengedepankan aspek atau kriteria integritas dan kompetensi serta amanah untuk memilih seorang presiden, bukan berdasarkan popularitas.

"Bisa dibayangkan dengan penduduk 200 juta, jika hanya mengandalkan foto, baliho spanduk maupun iklan, maka Indonesia tak akan maju. Jadi saya kira ada tiga kriteria untuk memilih pemimpin di masa depan, yaitu amanah, integritas dan kompetensi,’’ kata Rizal Ramli kepada pers di Jakarta, Rabu (20/2).

Dia juga menyebutkan, negara Indonesia sulit menyamai negara yang sudah maju dan berkembang, seperti Cina, Jepang maupun Korea, jika hanya mengandalkan popularitas dalam mencari seorang pemimpin.

"Indonesia jangan bermimpi akan menjadi negara tersebut, jika hanya mengandalkan popularitas, sementara integritas maupun kompetensi dikesampingkan," tegas Rizal sembari mengatakan, jika itu masih terjadi, maka bangsa Indonesia telah meniru politik negara

Pilipina yang memilih pemimpinnya hanya berdasarkan faktor kekayaan dan pesohor.Rizal Ramli merasa prihatin, Indonesia yang dikenal super kaya raya, tetapi 60 persen penduduknya masih kategori miskin. Kondisi itu menurutnya, akibat banyaknya masalah sosial tak kunjung tuntas, karena pemimpinnya tidak amanah, kurang memahami persoalan yang sedang dihadapi bangsa dan bagaimana langkah memperbaikinya.

"Mimpi reformasi adalah rakyat sejahtera, demokratis dan supremasi hukum terpelihara, tetapi apa yang terjadi, jauh dari harapan. Bahkan kegiatan kenegaraan kita bagai pasar malam, siapapun bisa masuk berbaur ke dalam,’’ terangnya.(Sumber: m.riaupos.co)