Umat Hindu Gelar Prosesi Melasti Terkait Nyepi

Umat Hindu Gelar Prosesi Melasti Terkait Nyepi |   Umat Hindu Dharma di Bali menggelar prosesi ritual Melasti, yakni membersihkan "pratime" atau benda suci yang disakralkan, mengawali perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1935, Selasa (12/3/2013).

"Prosesi Melasti sesuai dengan pedoman dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali dapat dilakukan sesuai dengan kondisi setempat (desa, kala, patra) antara hari Sabtu (9/3/2013) dan Minggu (10/3/2013)," kata Ketua PHDI Provinsi Bali, Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. di Denpasar, Minggu (10/3/2013).

Ia mengatakan, kegiatan ritual bermakna membersihkan "pratime" atau benda yang disucikan itu ke laut bagi masyarakat yang bermukim di sepanjang pantai atau danau bagi masyarakat di daerah pegunungan dan sumber mata air setempat bagi masyarakat yang jauh dari laut maupun gunung.
Pelaksanaan upacara Melasti disesuaikan dengan kesempatan dan tradisi desa yang diatur oleh prajuru desa adat masing-masing. Masing-masing desa adat di Bali dapat memilih salah satu dari dua hari baik yang ditetapkan untuk melaksanakan ritual Melasti, tutur Ngurah Sudiana.

Masyarakat di Kota Denpasar telah melaksanakan ritual Melasti itu ke Pantai Padanggalak Sanur, Sabtu pagi. Sementara itu, masyarakat Desa Adat Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kabupaten Tabanan melaksanakan ritual melesti ke Danau Beratan, Bedugul, Kecamatan Baturiti yang berjarak sekitar 15 km ke arah utara dari desa Pekraman bersangkutan pada Minggu pagi.
Desa Adat Ole yang berpenduduk 287 kepala keluarga (KK) melaksanakan Melasti pada hari kedua sesuai dengan pedoman PHDI tersebut, bersamaan dengan desa adat di sekitarnya, tutur Jero Bendesa adat setempat I Wayan Dana.

Sebagian besar warga masyarakat Ole ikut ambil bagian dalam kegiatan ritual itu yang menggunakan belasan kendaraan maupun sepeda motor menuju lokasi yang berjarak sekitar 15 km arah timur laut dari desa adat bersangkutan.

Ratusan warga berbondong-bondong mengikuti rangkaian upacara Melasti sambil membawa sesaji dan peralatan suci yang diiringi dengan alunan musik tradisional Bali (gamelan) yang bertalu-talu. Kegiatan ritual tersebut berlangsung dari pagi hingga sore, baik di danau maupun di desa adat Ole.
Umat Hindu di Bali dalam memperingati pergantian tahun saka dari 1934 ke tahun baru saka 1935 melakukan serangkaian upacara keagamaan yang diawali dengan Melasti.

Selesai Melasti dilanjutkan dengan melaksanakan upacara "Tawur Kesanga" pada hari Senin (11/3/2013), sehari menjelang Nyepi, dilaksanakan secara berjenjang mulai dari tingkat Provinsi Bali yang dipusatkan di Pura Besakih, tingkat kabupaten/kota, kecamatan, desa adat, hingga rumah tangga masing-masing.

Kegiatan tersebut, menurut Ngurah Sudiana, bermakna untuk meningkatkan hubungan yang harmonis dan serasi sesama umat manusia, lingkungan, dan Tuhan Yang Maha Esa.

Tawur Kesanga yang berakhir pada petang hari itu dilanjutkan dengan "Ngerupuk" dan arak-arakan ogoh-ogoh bertujuan menetralkan semua kekuatan dan pengaruh negatif. Selasa, umat Hindu merayakan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1935 dengan melaksanakan Tapa Berata penyepian.
Empat pantangan wajib dipatuhi meliputi tidak menyalakan lampu/api (Amati Geni), tidak melakukan aktivitas (Amati Karya), tidak bepergian (Amati Lelungan), serta tidak mengadakan rekreasi atau bersenang-senang (Amati Lelanguan).

"Pelaksanaan Catur Brata penyepian diawasi secara ketat oleh petugas keamanan desa adat (pecalang) di bawah koordinasi prajuru banjar setempat," ujar Ngurah Sudiana.
Sumber :
Editor :
Benny N Joewono