Percayalah, Lelah ini Hanya Sebentar Saja

Percayalah, Lelah ini Hanya Sebentar Saja

Bukan seberapa besar masalah yang dihadapi, tapi seberapa lapang hati kita dalam menghadapi masalah tersebut.

Apa sih cobaan terberat dalam hidup kalian hingga saat ini? Cobaan yang menjadikan kalian merasa terpuruk dalam waktu yang berkepanjangan. Yang membuat kalian merasa putus asa dan lelah dalam menghadapi hidup ini. Dapat nilai jelek dalam ujian? Tidak lulus pada suatu mata kuliah? Kehilangan barang berharga? Memiliki usaha kemudian bangkrut?

Ketika rasa lelah itu mulai muncul, ketika kita sudah merasa hidup kita berada pada titik terendah, ingatlah bahwa orang lain mungkin merasakan lebih dari itu. Bisa jadi, cobaan yang kita anggap sangat besar hanyalah butiran pasir yang menggelitik telapak kaki bagi orang yang lain. Ketika kita sedang dalam masa sulit dan hanya bisa makan 1 hari sekali, maka ingatlah mereka yang bahkan untuk makan 1x sehari saja butuh pengorbanan, butuh perjuangan keras. Mudah menyerahkah kita? Bukankah Allah memberikan cobaan tidak melebihi dari kemampuan kita?

Do’a apa yang lebih sering kalian panjatkan? Meminta diberikan kemudahan atas cobaan yang diberikan? Atau meminta kekuatan agar dapat melewati cobaan yang diberikan?

Meminta kemudahan melewati cobaan atau Meminta kekuatan menghadapi cobaan?

Pelaut yang tangguh lahir dari ombak yang ganas. Bukankah segala cobaan dan ujian yang diberikan olehNya semata-mata untuk meningkatkan kadar keimanan kita? Untuk menjadikan kita pelaut-pelaut yang lebih tangguh. Menjadikan kita manusia-manusia yang lebih kuat dalam mengarungi kehidupan ini.

Jangan pernah berkata “Ya Allah, sesungguhnya aku takut, aku sedang menghadapi cobaan yang sangat besar” TAPI katakanlah “Wahai masalah, takutlah karena aku memiliki Allah Yang Maha BESAR”.

Kuncinya sederhana, lapangkanlah hati kita, lapangkanlah kesabaran kita, jauh lebih besar dari masalah yang ada. Sekantung garam apabila dituangkan ke dalam sebuah danau yang besar hanya akan memberikan pengaruh yang amat sangat kecil dan tidak menjadikan danau itu berubah rasa menjadi asin. Kalau surga yang memang menjadi tujuan kita, lalu mengapa harus terlalu lama terlena dengan kamuflase dunia? Sudah cukup kuatkah kita? Sudah cukup sabarkah kita?

Percayalah, lelah ini hanya sebentar saja, Kawan!