Isu Perempuan yang Tidak Berubah Sejak 100 Tahun Lalu

dok. Thinkstock
Isu Perempuan yang Tidak Berubah Sejak 100 Tahun Lalu | Lebih dari 100 tahun lalu penulis dan aktivis radikal, Emma Goldman, menulis sebuah esai "Tragedi Emansipasi Perempuan". Esai tersebut mengangkat isu ketidaksetaraan gender antara pria dan wanita terkait upah dan kehidupan dalam rumah dan keluarga. 

Meskipun telah diangkat sejak 100 tahun yang lalu, isu-isu terkait kesetaraan gender masih dibahas hingga sekarang. Berikut empat isu yang masih dibahas:

1. Laki-laki mendominasi lapangan pekerjaan profesional dan mendapat gaji lebih
Dalam esai tersebut Goldman menulis "Memang fakta kalau wanita bisa berprofesi sebagai guru, pengacara, arsitek, dan teknisi tetapi kedudukannya tidak dianggap setara dengan kolega pria." Menurut studi yang dilakukan National Association for Law Placement pada 2004, hanya 16,8 persen wanita masuk di firma hukum besar. Dan berdasarkan riset WIT’s Girls in Technology (GIT) Committee pada 2003, hanya 6 persen wanita yang menduduki chief executives di 100 perusahaan teknologi.

Bekerja tentunya menguras tenaga dan pikiran, hal itu berlaku untuk pria maupun wanita. Namun menurut survei 'Work And Well-Being' yang dilakukan oleh Asosiasi Psikologi Amerika, ketimbang pria, wanita lebih stres saat bekerja. Sesuai riset tersebut ada 37 persen wanita yang merasa stres, sedangkan laki-laki 33 persen. Dan hanya 34 persen wanita yang merasa memiliki cara untuk menghilangkan stres, sementara laki-laki 38 persen.

Melegakannya sejak isu tersebut diangkat oleh Goldman, wanita mulai berusaha mencari solusi untuk mengatasi stres tersebut. Mereka menuntut fleksibilitas dan menolak lingkungan kerja yang menyebabkan stres.

3. Diskriminasi di tempat kerja
Walaupun sering disebut tidak ada lagi diskriminasi berdasarkan gender, sampai saat ini hal tersebut masih terjadi. Seperti dikatakan Goldman, masih ada perbedaan yang diberlakukan antara pria dan wanita. Perbedaan ini mulai dari masalah kenaikan gaji, tunjangan kesehatan di mana wanita kerap dianggap single, kenaikan jabatan dan lain-lain.

4. Bekerja dua kali, di rumah dan di luar rumah
Menurut Sosiolog Arlir Hochschild, ada sebuah istilah yaitu 'shift kedua' yang menggambarkan pekerjaan wanita harus dilakukan di rumah dan di luar rumah. Istilah 'home sweet home' pun susah dirasakan karena setelah seharian bekerja di kantor dan kembali di rumah, wanita masih harus mengerjakan pekerjaan rumah.

Berdasarkan laporan Bureau of Labor Statistic pada Juni tahun ini, 'shift kedua' masih menjadi masalah bagi wanita karena hanya 20 persen pria yang membantu pekerjaan rumah seperti bersih-bersih dan mencuci pakaian. Sedangkan 39 persen pria mengaku membantu menyiapkan makanan dan bersih-bersih rumah. 'Shift kedua' ini menjadi hambatan bagi wanita untuk berhenti menjadi pengurus rumah dan digantikan oleh pasangannya.