Pasca Gempa, 22 Meninggal, Telekomunikasi di Aceh Kondusif

Pasca Gempa, 22 Meninggal, Telekomunikasi di Aceh Kondusif

Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo Gatot S. Dewa Broto, membenarkan komunikasi telekomunikasi di Aceh pasca gempa sempat terganggu.

Namun ia menerangkan gangguan itu tidak sampai terputus total, dan tidak ada kerusakan infrastruktur telekomunikasi yang berarti.

"Adanya gangguan komunikasi semata-mata hanya karena sempat terjadinya kelangkaan suplai catu daya listrik yang berada tidak jauh dari lokasi gempa bumi. Namun dapat di-backup dengan penggunaan genset dan baterai yang tersedia," terang Gatot kepada hidayatullah.com, Rabu (03/07/2013).

Gatot mengatakan Kementerian Kominfo sejak semalam dan hingga kini terus mendorong ORARI dan RAPI di Aceh dan sekitarnya, khususnya untuk mengatasi masalah komunikasi di daerah-daerah terpencil yang belum tersentuh fasilitas telekomunikasi.

"Kementerian Kominfo terus melakukan monitoring dan koordinasi dengan para komunitas telekomunikasi terhadap komunikasi," ujarnya.

Hingga kini Gatot mengatakan pihaknya telah melakukan koordinasi secara cepat dengan para komunitas telekomunikasi.

Berdasarkan laporan terkini yang diterima pihaknya, diketahui pada interval 10 menit setelah terjadinya gempa bumi hingga sekitar 2 jam berikutnya (jam 16.37 WIB) telah terjadi lonjakan trafik telekomunikasi yang cukup tinggi baik yang incoming maupun outgoing.

Hal itu, kata Gatot, sangat dimungkinkan baik karena komunikasi antar keluarga, koordinasi antar instansi, kootrdinasi lintas internal media dan berbagai komunikasi lainnya.

22 Meninggal

Sebagaimana diketahui, pada Selasa (02/07/2013) kemarin terjadi musibah gempa bumi yang berkekuatan 6,2 SR terjadi pada jam 14.37 WIB berpusat di Bener Meriah.

Setelah itu ada gempa susulan berkekuatan 5,5 SR itu berpusat di daerah yang berada sekitar 27 kilometer sebelah barat daya Kabupaten Bener Meriah, tetangga Aceh Tengah. Pusat gempa berada di kedalaman 10 KM.

Kepala BNPB Syamsul Maarif telah melaporkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengenai perkembangan dan upaya penanganan gempa berkekuatan 6,2 skala Richter di Aceh.

Data sementara menunjukkan gempa tersebut menyebabkan 22 orang meninggal dunia, 210 orang luka-luka, dan ribuan bangunan dan rumah rusak.

Berdasarkan laporan dari BPBA Aceh Tengah terdapat 10 orang meninggal dan 140 orang luka-luka dan dirawat di RSUD. Bangunan yang meliputi rumah, masjid, meunasah, dan kantor pemerintah mengalami kerusakan.

Diperkirakan 1.500 unit bangunan lainnya mengalami kerusakan. Beberapa ruas jalan longsor. Pengungsian tersebar di 10 titik.*