Konser Metallica Di Jakarta

Konser Metallica Di Jakarta | "Kami tidak menyangka bisa main di sini lagi setelah 20 tahun. Kalian bersama kami lagi, keluarga besar Metallica. Follow me!" kata James Hetfield (50), gitaris dan vokalis Metallica, dari atas panggung konser Metallica Live in Jakarta, di Gelora Bung Karno, Minggu (25/8) malam, yang digelar Black Rock Entertainment.
 

Para penonton di Kelas Festival menunjukkan salam metal ketika menunggu band Metallica tampil dalam konser mereka di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (25/8/2013) malam.

Ucapan Hetfield itu merupakan salam hangat dari band cadas asal Amerika Serikat. Gelora Bung Karno pun menggelora dalam pekik persaudaraan ala rock. Ribuan penonton serempak mengacung-acungkan tinju pertanda rasa persaudaraan itu. Di antara pekik riuh tersebut terdengar massa menyebut-nyebut nama Jokowi, Gubernur DKI Jakarta, yang hadir dalam konser. Padahal, sebelumnya, Joko Widodo juga menghadiri resepsi pernikahan Marah Laut C Noer dengan Chairani Jusuf Kalla di Pacific Place, Jakarta.

Selain Jokowi, hadir Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang yang sudah lama menunggu konser ini. Teras menonton bersama 16 rekannya yang berusia 50 tahun ke atas.

Rock yang keras serasa merangkul ribuan orang dalam rasa kekeluargaan. Satu lapangan sepak bola, plus lebih dari setengah tempat duduk di tribune dipadati penonton. James Hetfield, Lars Ulrich (drums), Kirk Hammett (gitar utama), dan Robert Trujillo (bas) benar-benar merangkul mereka dalam satu keluarga besar rock. Usia mereka kini sekitar 50 tahun, tetapi energi rock mereka masih sekeras baja. Energi rock mereka masih sama seperti ketika tampil di Jakarta 20 tahun lalu.

Simak ketika Metallica membawakan "Enter Sandman", stadion serasa meledak oleh sorak super riuh. Massa penonton seisi stadion melonjak-lonjak hingga tanah serasa bergetar. Lagu yang dilepas tahun 1991 itu memang tampaknya paling ditunggu dan menjadi semacam lagu wajib. Secuil intro saja massa sudah histeris. Para penonton yang berambut gondrong serentak mengibas-ngibaskan rambut, bahkan penonton berkepala botak pun melakukan hal serupa.

"Dua puluh tahun lalu saya masih gondrong," kata salah seorang dari mereka yang pernah menikmati Metallica di Jakarta.

Gebukan drum Lars Ulrich berdentum, getarannya sampai ke dada. Hetfield tak kalah cadasnya. Dari jari-jari tangannya terbaca tato bertuliskan RIFF. Dalam istilah gitar, itu adalah pola nada yang tersusun menjadi tema. Bisa dikatakan, kekuatan Metallica adalah variasi riff. Pola dimainkan dengan distorsi dan nada gitar yang cenderung rendah. Metallica memainkannya dengan irama cepat ala band Inggris 1970-an, Motorhead. Media di AS dan Eropa kemudian menabalkan gaya itu sebagai trash metal.

Di tangan Hetfield ada juga tato inisial M yang dimodifikasi bentuk petir dan angka 81 di bawahnya. Itulah tahun kelahiran Metallica di San Francisco. Album penuh pertamanya, Kill 'em All keluar dua tahun setelahnya. Di album ini mereka menyisipkan lagu "Seek and Destroy" yang membawa Metallica makin diperhitungkan. Lagu itu menjadi jagoan di setiap konser Metallica di mana pun. Di Jakarta, lagu itu menjadi pemungkas konser yang aman itu.

Konser yang digelar setelah 20 tahun silam tersebut menjadi pengobat rindu pencinta musik cadas Tanah Air. Mereka memadati Gelora Bung Karno sejak pagi. Hingga pertunjukan pun ribuan penonton masih berada di luar stadion. Hetfield melayangkan senyum ketika lirik lagunya ditirukan ribuan penggemar. Lagu "Sad but True" dan "Master of Puppets" menjadi koor massal.

Penonton makin terbakar antusiasnya, bukan hanya di panggung festival, di tribun pun mereka berdiri. Yeaaaah, metaaaaalll! (BSW/HEI/NDY)
Sumber :
Editor :
Ati Kamil