Polisi Malaysia Tembak Mati 3 WNI

Polisi Malaysia Tembak Mati 3 WNI
Kepolisian Malaysia dikabarkan telah menembak mati tiga warga Indonesia di Johor Baru karena dicurigai sebagai pelaku kriminal. Demikian pengakuan keluarga korban, Senin (20/1/2014).

Ketiga korban itu adalah Wabah, Sudarsono, dan Gusti Randa alias Agus. Ketiganya dikabarkan ditembak polisi pada 11 Januari lalu di jalan raya Lebuhrasa Senai-Desaru, Johor Bahru.

Ketiga warga Indonesia itu tewas dengan beberapa luka tembakan di dada dan perut.
Fadil, kerabat Agus dan Sudarsono, mengatakan, keluarga korban sangat terkejut mendengar kabar duka itu. Fadil menambahkan, pihak keluarga sangsi kedua korban melakukan kejahatan di Malaysia.

"Seorang pejabat dari konsulat jenderal Indonesia di Johor Bahru mengatakan patroli polisi melihat ketiga korban dan mencurigai mereka. Saat didekati, ketiganya langsung menyerang polisi," kata Fadil.

Fadil melanjutkan, Agus dan Sudarsono tidak mungkin melakukan kejahatan dan menyerang polisi karena keduanya sudah memiliki pekerjaan tetap di Malaysia. Keduanya sudah bekerja di Malaysia selama lima tahun.

"Kami meragukan klaim polisi itu karena keduanya memiliki pekerjaan di Malaysia. Agus bekerja di perkebunan sawit dan Sudarsono bekerja di pabrik besi. Selain itu, bagaimana mungkin warga Indonesia memiliki senjata api di sana?" tanya Fadil.

Kementerian Luar Negeri Indonesia sudah mengantarkan ketiga jenazah ke keluarga mereka di Lombok Tengah pekan lalu. Dari pemerintah, tiap keluarga mendapatkan uang Rp 15 juta untuk mengganti biaya pemulangan jenazah.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Migran Care Anis Hidayah mengkritik kepolisian Malaysia yang begitu mudahnya menembak orang yang diduga kriminal.

"Polisi seharusnya tidak menembak tersangka hingga tewas. Kami memiliki banyak saksi bahwa di banyak kasus polisi Malaysia tidak memberikan penjelasan apa pun tentang alasan mereka menembak mati tersangka," ujar Anis.

Menurut data Migran Care antara 2007-2014, sebanyak 165 warga Indonesia ditembak mati kepolisian Malaysia.

"Pemerintah telah gagal mendesak Malaysia untuk lebih transparan soal insiden penembakan seperti ini," Anis menegaskan. 

Sumber   : The Jakarta Post