4 Strategi Hadapi Anak yang Melawan

Saat anak mulai melawan, tetaplah bersikap tenang, jangan sampai terpancing emosi.

Tingkah anak yang membantah atau melawan tentu kerap membuat orangtua naik darah. Misalnya, menolak tidur, tidak mau makan, menunda-nunda saat diminta mandi, merengek karena permintaannya membeli sesuatu di mall tidak dikabulkan, atau tak mau dilarang ketika memanjat-manjat pohon.

Wining Rohani, MSi, psikolog dari Sanggar Kreativitas Bona Jakarta, mengatakan sikap melawan orangtua biasanya dilakukan anak karena temper tantrum. Temper tantrum adalah letupan kemarahan anak yang sering terjadi saat anak menunjukkan sikap penolakan. Perilaku ini diikuti dengan tingkat menangis, berguling-guling di lantai, menjerit, melempar barang, memukul, menendang, dan lain-lain.

Menurut Wining, saat hal itu terjadi, orangtua harus menunjukkan otoritas. "Tentu bukan dengan kekerasan, melainkan dengan memegang erat si anak dan minta dia untuk belajar menyampaikan keinginannya dengan baik. Perlu diingat, jangan mengabulkan permintaan anak hanya karena merasa malu dengan tangis atau teriakannya di depan umum," jelas Wining.

Tetapi perlu diingat, untuk dapat mengontrol emosi anak, orangtua harus bisa mengontrol emosi mereka lebih dulu. Anda harus memberikan contoh yang baik agar ditiru anak. Berikut beberapa sikap yang disarankan Wining pada orangtua saat menghadapi anak melawan:

1. Tetaplah bersikap tenang, jangan sampai terpancing emosi. 

Usahakan agar orang di sekitar juga bersikap demikian, misalnya suami atau orangtua.

2. Setelah emosi anak menurun, dekati perlahan. 

Peluklah erat dengan penuh kasih sayang agar anak merasa nyaman dan aman. Ketika sudah tenang, tanyakan dengan lembut mengapa dia melawan.

3. Sampaikan pada anak bagaimana sikap yang baik dan positif. 

Jangan menyudutkan atau menyalahkannya. Satu hal yang perlu diingat, gunakan selalu bahasa yang lembut dan halus. Jangan mengumpat atau memarahi dengan bahasa kasar.

4. Setelah kejadian anak melawan itu berlalu, jangan diungkit-ungkit atau dingat-ingat terus. 

Anak bisa malu atau kesal. "Anda juga tidak perlu memberikan hadiah dalam bentuk barang sebagai bentuk penghargaan karena dia sudah tidak melawan. Yang penting, beri cinta dan rasa aman," tegas Wining.

Sebenarnya orangtua dapat meminimalisasi munculnya sikap melawan dari anak. Caranya? Kenali betul kebiasaan-kebiasaan buah hati. Perhatikan kapan emosi si anak muncul dan bagaimana ekspresinya ketika bereaksi. Dari situ bisa diperkirakan sikap yang harus diambil.

"Kalau anak selalu melawan saat sedang lelah atau habis bermain, jangan memintanya melakukan sesuatu pada saat seperti itu. Tentulah dia akan membantah atau melawan," papar Wining.

Tetapi tentu tidak setiap saat orangtua bisa menunggu mood anak. Oleh karena itu, yang perlu selalu diingat, orangtua harus menjalin hubungan dan komunikasi yang baik dengan buah hati. Buatlah mereka merasa aman dan nyaman. Dengan begitu, anak-anak pasti akan lebih percaya dan mau mendengarkan omongan orangtua.

(kompas)