Aksi Teror Masih Mengintai Pesta Demokrasi

http://dangstars.blogspot.com/2014/03/aksi-teror-masih-mengintai-pesta-demokrasi.html
Aksi Teror Masih Mengintai Pesta Demokrasi
Perhelatan pesta demokrasi pada 9 April mendatang memerlukan pengamanan ekstra. Ancaman datang dari kelompok radikal yang selama ini sering berbuat onar.

"Secara ideologis musuh paling besar kelompok radikal adalah demokrasi. Sementara pemilu adalah pilar demokrasi. Jadi pasti ada jihad lawan pemilu," ujar Kepala BNPT Ansyaad Mbai dalam acara short course menekan kaderisasi pelaku terorisme di Indonesia di Pesantren Luhur Al Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (22/3/2014).

Sejatinya, lanjut Ansyad Mbai, aksi teror sudah mewarnai tahapan pemilu. Dia menyebut terungkapnya pengiriman bom dari Surabaya ke Poso, kemudian serangkaian aksi kekerasan terhadap anggota partai di Aceh, serta terungkapnya pengiriman bom dari Trenggalek ke Wajo.

"Harus dilihat secara keseluruhan bahwa ini bukan lagi potensi tapi sudah terjadi," tegasnya.

Lontaran Ansyad Mbai diamini oleh Sekjen NII Crisis Center Ken Setiawan. Kepada Okezone, dia memaparkan memang ada potensi besar gerakan menggagalkan pemilu. "Karena kebencian mereka terhadap pemerintah, kalau sudah klimaks bisa saja muncul aksi teroris nyata," ungkapnya.

Pencegahan aksi teror untuk mengacaukan pemilu saat ini, kata dia, juga relatif lebih susah ditangkal lantaran bersifat acak. Itu terjadi lantaran kelompok radikal kini telah kehilangan sentral kepemimpinan. Sehingga siapapun bagian dari kelompok radikal yang memiliki keterampilan melakukan aksi teror bisa bergerak sendiri.

"Hari ini mereka tanpa kepemimpinan, jadinya bersifat acak, yang saya takutkan kita tidak tahu kapan dan di mana," ujarnya.

Intelijen negara, menurut dia, bukannya tanpa usaha. Upaya pengumpulan informasi juga relatif mudah karena anggota kelompok radikal rata-rata menggunakan alat komunikasi yang bisa disadap. "Hanya saja merek punya keterbatasan plus kepentingan," bebernya.

Selain berpotensi melancarkan ancaman fisik, kelompok radikal juga telah intens mengkampanyekan gerakan golput, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Salah satu pemicunya adalah fenomena pencalegan yang semakin amburadul. Artis film syur, koruptor, serta tukang becak ramai-ramai ikut mencalonkan diri.

Dalam kaitan ini anggota kelompok radikal yakin jika para caleg tersebut terpilih bakal membuat kerusakan secara massif di Republik ini. "Orang-orang radikal ini pesimis caleg bisa mengubah bangsa lebih baik," tegasnya. (okezone)