Awas! Teror Merajalela Jelang Pemilu

Ikrar pemilu damai di Aceh


Tujuannya, mengintimidasi masyarakat agar ragu menentukan pilihan.
Peringatan keras disampaikan Badan Intelijen Negara. Isinya, teror bakal merajalela menjelang perhelatan Pemilu yang akan dilaksanakan 9 April 2014 nanti.

“Ancaman (terorisme) ini akan terus diciptakan,” kata Kepala BIN Marciano Norman di Istana Negara, Jakarta, Jumat 7 Maret 2014.

Teror ini, kata Norman, sengaja dilancarkan untuk menghancurkan stabilitas negara. Tujuannya satu, mengintimidasi peserta pemilu agar ragu menentukan pilihan. Dan, mereka kini telah tersebar ke mana-mana dengan sasaran utamanya wilayah-wilayah rawan di Indonesia.

BIN pun meminta penegak hukum mengantisipasi soal ancaman ini agar pelaksanaan pemilu dapat berlangsung dengan aman. Dan, yang lebih penting memastikan tidak ada intimidasi dari berbagai pihak agar rakyat bisa memilih sesuai dengan keinginan mereka.

Komisi Pemilihan Umum tidak tinggal diam. Ketua KPU Husni Kamil Malik menegaskan, KPU saat ini telah berkoordinasi dengan Kepolisan untuk pengamanan Pemilu, terutama instalasi-instalasi dan fasilitas milik KPU.

Sementara anggota KPU Ferry Kurnia Rizkiyansyah berharap situasi tetap kondusif menjelang pelaksanaan pemungutan suara hingga tahapan akhir.

Pemilu, menurutnya, harus menjadi milik bersama, sehingga masyarakat bisa memilih pemimpin yang terbaik dengan rasa nyaman dan aman.

Meski tak ada kerjasama khusus guna mengantisipasi aksi teror, KPU terus berkoordinasi untuk memastikan pendistribusian logistik pemilu berjalan dengan baik. "Kita berharap lancar," kata dia.

Kepala Polisi Jenderal Sutarman mengungkap beberapa daerah memang menjadi kawasan rawan kerusuhan jelang pemilu. Seperti Aceh, Papua, dan Poso.

Berdasarkan pengalaman pilkada beberapa waktu lalu. Kerap terjadi aksi kekerasan di daerah itu, mulai dari intimidasi hingga penembakan. Bahkan sepekan ini, penembakan dan kekerasan sudah terjadi di Aceh. Aceh dianggap daerah paling rawan. Setelah itu Papua dan Poso.

Wakil Ketua Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat TB Hasanuddin menduga konflik di Aceh dipicu rivalitas antara partai daerah dengan partai nasional. Partai lokal merasa tersaingi dengan partai nasional. Dan, belakangan ini juga terjadi gesekan antar calon. Lebih parah lagi, gesekan itu justru terjadi di daerah yang banyak memegang senjata.

Karena itu, operasi teritori perlu dilakukan. Aceh harus mendapat penanganan khusus untuk menghindari berkembangnya konflik.

"BIN, Polri, dan TNI secara bersama-sama harus memberi pengamanan yang lebih di Aceh. Sebab, masih ada ribuan pucuk senjata yang di simpan di hutan Aceh," katanya.

Teror di Aceh

Di Aceh, Jumat dini hari, 7 Maret 2014, posko Partai Nasional Aceh (PNA) dirusak orang tak dikenal. Pelaku diperkirakan berjumlah belasan orang. Korban aksi brutal itu adalah Rusli Z, yang juga kader Partai Nasional Aceh (PNA). Dia selamat dari upaya penganiayaan setelah lari dan bersembunyi di kuburan tak jauh dari posko yang berlokasi di Aceh Utara itu. 


Saat akan pulang ke rumahnya di desa Nga LB. Dia dihentikan paksa sekelompok orang yang menggunakan mobil. Dia ditarik dari atas motornya dan dipukuli.

"Mereka mengeroyok saya. Saya dipukul, diinjak-injak dan dilempari dengan parang dan batu," kata Rusli pada VIVAnews.

Rusli tidak mengenal siapa orang-orang yang hampir membunuhnya dan melakukan perusakan di posko pemenangan PNA. Selain itu, pelaku juga melempari rumah salah satu caleg dari partai itu dengan batu. Spanduk di posko dirobek dan dibakar.

Rusli menduga ada keterkaitannya dengan panasnya politik di Aceh menjelang Pemilu. Mobil yang dikendarai pelaku berstiker salah satu partai lain.

Menurut Sekretaris PNA Aceh Utara, Sofyan, bukan kali ini partainya mengalami teror. Sebelumnya, caleg dari partainya di Aceh Selatan ditembak orang tak dikenal pada Minggu malam, 2 Maret 2014. Caleg DPR bernama Faisal diberondong 46 tembakan. Aksi sadis itu terjadi saat korban melintasi sebuah kawasan sepi di pegunungan.

Sebelum ditembak, korban sempat didatangi orang tak dikenal. Selain itu, beberapa kali juga ada telepon gelap yang meminta almarhum untuk segera kembali ke Sawang, basis Faisal.

Faisal yang mengendarai Honda Freed kemudian kembali ke Sawang, melintasi pegunungan yang sepi. Mobil yang dikendarainya kemudian diberondong dengan senjata yang menurut Ketua Umum PNA, Tengku Muksalmina, M16 kaliber 5,56 milimeter.


Faisal terkena tembakan di perut, punggung, dan dada. Ia meninggal dan dibawa ke Rumah Sakit Umum Yulidin Away, Aceh Selatan. Polisi menduga kasus ini pembunuhan berencana

PNA menyatakan, pembunuhan Faisal dilakukan dengan sangat terencana dan sistematis. PNA sendiri menyatakan, Faisal merupakan pemuda berusia 35 tahun yang pendiam dan sangat sopan. Dia bekas kombatan Gerakan Aceh Merdeka dan dipastikan tidak memiliki musuh. Dia dikenal sangat dekat dengan masyarakat dan mempunyai basis dan dukungan yang kuat di Kecamatan Sawang.

Ditambahkan Tengku Muksalmina, tindakan pembunuhan almarhum merupakan bukti kepanikan yang melanda kelompok yang memusuhi PNA. Aksi sadis itu untuk meneror caleg dan kader PNA. Kelompok lawan merasa tidak nyaman karena dukungan masyarakat kepada PNA semakin kuat dan masif di kawasan Pantai Barat Selatan.

Teror tidak hanya menimpa partai lokal, PNA. Sebelumnya, Posko Partai NasDem di Alue Awe, Geureudong Pase, Aceh Utara, dibakar orang tak dikenal pada Rabu 5 Maret 2014. Ruko yang dijadikan posko pemenangan partai NasDem tersebut dibakar sekitar pukul 05.00 WIB.

Pada malam yang sama, terjadi aksi tawuran di Desa Meunasah Kanot, Aceh Utara. Keributan melibatkan dua kader Partai Aceh (PA) dan PNA. Pemicunya adalah penurunan bendera partai.

Pada Minggu dini hari, 16 Februari 2014, posko pemenangan caleg DPRD Kota Aceh Utara, dari Partai Nasdem di Desa Munyee Kunyet, Kecamatan Matang Kuli, Kabupaten Aceh Utara, juga ditembaki orang tak dikenal.
© VIVA.co.id(Laporan: Zulfikar Husein/ Aceh)