Ekor Pesawat MAS 777-200 Pernah Patah

TRIBUNNEWS/DANY PERMANA Pesawat Malaysia Airlines mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (26/5/2013).

Pesawat Boeing 777-200 milik Malaysia Airlines yang hilang dalam perjalanan dari Kuala Lumpur (Malaysia) menuju Beijing (China), Sabtu (8/3/2014) dini hari ternyata pernah mengalami insiden kecil pada pada tahun 2009. Pada saat itu, ujung sayap pesawat berusia 11 tahun ini patah akibat bertabrakan dengan ekor China Airlines A340. Kejadian ini terjadi ketika pesawat Malaysia Airlines tengah melakukan taxiing di Bandara Internasional Pudong, China. Taxiing adalah aktivitas pesawat dari apron menuju ke ujung landas pacu atau sebaliknya dengan menggunakan tenaga sendiri.

Demikian warta AP, Sabtu (8/3/2014). AP mengatakan, tak ada korban dalam insiden ini.

Saat ini, pihak Malaysia Airlines mengatakan, belum ada sinyal yang dikirimkan oleh pesawat yang membawa 239 penumpang dan kru, termasuk 7 warga negara Indonesia. Militer Vietnam mengatakan, pesawat ini jatuh perairan antara Malaysia dan Vietnam, sekitar 300 kilometer dari Pulau Tho Chu di Provinsi Kien Giang. Hal ini kemudian dibantah oleh Malaysia Airlines. Mereka hanya mengatakan tidak ingin berspekulasi.

Jika hal ini benar, pencarian kotak hitam dari pesawat yang jatuh ke laut dapat menjadi pekerjaan yang sangat sulit. Benar bahwa kotak hitam yang berisi data penerbangan dan rekaman suara di kokpit dilengkapi dengan teknologi yang memungkinkan alat tersebut mengirimkan sinyal ultrasonik. Sinyal ini pun dapat dideteksi meskipun berada di dalam air.

Mantan anggota Badan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat John Goglia mengatakan, dalam kondisi bagus, sinyal dapat dideteksi dari ratusan kilometer. Namun, apabila kotak hitam ini terperangkap di dalam puing-puing pesawat, hal ini dapat melemahkan sinyal ultrasonik. Terlebih jika kotak hitam berada di dalam palung laut.

Hal ini yang terjadi ketika pesawat Air France 447 hilang di sekitar Laut Atlantik 1 Juni pada 2009. Pesawat berpenumpang 228 ini hendak menuju Paris dari Rio de Janeiro. Puing-puing dan badan pesawat ditemukan sekitar dua minggu kemudian. Namun, petugas memerlukan waktu dua tahun untuk menemukan kotak hitam.

Insiden fatal Malaysia Airlines terakhir diketahui terjadi pada 1995. Saat itu, salah satu pesawatnya jatuh di kota Tawau, Malaysia, dan menewaskan 34 penumpang dan kru. Sementara itu, kejadian paling mematikan sepanjang sejarah terjadi pada 1977 ketika pesawat penerbangan lokal Malaysia jatuh setelah dibajak. Hal ini menyebabkan 100 penumpang dan kru tewas.

Pada Agustus 2005, pesawat Malaysia Airlines 777 yang terbang dari Perth, Australia menuju Kuala Lumpur, tiba-tiba menanjak setinggi 3.000 kaki sebelum akhirnya pilot melepaskan fungsi pilot otomatis dan mendarat selamat. Perangkat lunak pesawat tersebut diketahui salah menghitung kecepatan dan akselerasi. Perangkat lunak tersebut kemudian diperbarui.
Kompas