Kisah Dua Sejoli Dalangi Pembunuhan Sadis Mahasiswi

 Kisah Dua Sejoli Dalangi Pembunuhan Sadis Mahasiswi

Sekumpulan remaja menyesaki rumah duka Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, Kamis siang, 6 Maret 2014. Mereka saling berangkulan, tak kuasa menahan tangis.

Meratapi tubuh seorang wanita seumurannya terbujur kaku di dalam peti mati. Keluarga dan juga kerabat masih tak percaya, Ade Sara Angelina Suroto, pergi secepat itu, di usianya yang belum genap 19 tahun.

Semua larut dalam kesedihan. Tak terkecuali Hafitd (19), mantan kekasih Ade. Sama seperti yang lainnya, Hafitd turut memanjatkan doa untuk almarhumah.

Namun, dia tak menyadari gerak geriknya diawasi. Pemuda berbadan gempal itu memang sudah dibuntuti sejak meluncur dari kampusnya di Kalbis Institute di Pulomas, Jakarta Timur.

Beberapa pemuda berbadan tegap dan berpakaian rapi yang hadir di ruangan itu sedikit berbisik pada ayah dan ibu Ade. Pria tersebut memberi isyarat kepada Elisabeth, ibunda Ade, meminta teman-teman anaknya mendekati Hafitd.

"Saya mengangguk buat bantu," kata Nadia, salah satu teman Ade saat ditemui usai pemakaman di TPU Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat 7 Maret 2014.

Awalnya, Nadia sempat bingung, karena dia tidak begitu mengenal pria berkacamata itu. Akhirnya, dia minta beberapa teman yang kenal untuk mengajak Hafitd mengobrol biar tak cepat pergi. Mereka berbincang di jalan depan rumah duka RSCM.

Tidak lama kemudian, rombongan polisi tiba. Tanpa basa-basi, polisi itu membawa Hafitd yang saat itu mengenakan kemeja warna gelap dan celana jeans. "Hafitd dibawa untuk mengambil mobilnya yang diparkir di kampusnya," ujarnya.

Setelah berhasil menciduk Hafitd, Nadia kebagian tugas memancing dan menahan Assyifa bin Iwan Sulaeman (18). Assyifa datang ke RSCM sekitar pukul 14.00 WIB dengan diantar taksi. Assyifa memakai baju warna belang-belang putih hitam dan di lehernya tergantung pasmina motif bunga bunga.

Assyifa juga dibawa pergi oleh rombongan polisi. Berdasarkan interogasi, polisi berkeyakinan Hafitd dan Assyifa adalah orang yang bertanggung jawab di balik kematian Ade.

Penyidik melihat ada bekas luka di bagian tangan Hafitd. Saat ditanya, dia memberikan jawaban yang tak meyakinkan. "Akhirnya mengaku bahwa itu adalah bekas gigitan Sara," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto.



Ide menghabisi nyawa mahasiswi psikologi Universitas Bunda Mulia, Jakarta Utara itu muncul pertama kali dari Hafitd. Menurut Rikwanto, Hafitd yang pernah menjalin kasih bersama Ade itu kecewa, karena korban tidak mau lagi ditemui dan dihubungi.

Rupanya, pemilik nama lengkap Ahmad Imam Al Hafitd bin Sumatri Ownie, masih memendam rasa dan berharap bisa kembali. Perasaan sakit hati itulah yang membuatnya gelap mata. Dan, dia merencanakan pembunuhan bersama Assyifa, kekasih barunya itu.

Kebetulan, Assyifa juga tak senang dengan keberadaan Ade. Dia cemburu, khawatir Hafitd dan Ade berpacaran lagi. Pembunuhan direncanakan selama satu pekan.

Hafitd meminta Assyifa menghubungi Ade untuk membuat janji bertemu pada Selasa malam, 4 Maret 2014. Mereka sepakat bertemu di Stasiun Gondangdia, tak jauh dari Goethe Institute, tempat Ade kursus bahasa Jerman.

Tak disangka, di sana ada Hafitd yang sudah menunggu di mobilnya, KIA Visto warna abu-abu B 8328 JO. Ade langsung ditariknya masuk. "Selama pembicaraan dalam mobil, korban sempat emosi dan langsung berusaha melarikan diri. Namun, dihadang oleh Assyifa, dan sempat memberontak," ucap Rikwanto

Hafitd tancap gas meluncur ke arah Jakarta Selatan, Rawamangun, lalu menuju kawasan Jakarta Timur. Selama perjalanan, Ade dianiaya. Anak semata wayang pasangan Elisabeth dan Suroto itu disetrum oleh Assyifa menggunakan alat berdaya 330 volt hingga pingsan.

Melihat korbannya tak berdaya, Hafitd menyumpal mulut Ade dengan kertas koran. Karena kesulitan bernapas, Ade akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Hafitd kemudian memutar kemudi mencari lokasi pembuangan. Hingga akhirnya, mereka menemukan tempat yang pas, yaitu di pinggir Tol Bintara KM 41 Kota Bekasi pada Rabu dini hari.

Sebelum dibuang, pasangan sejoli itu melepaskan ikatan tali di tangan korban. Barang-barang Ade berupa dompet dan ponsel ikut dibuang. Alat setrum dibuang di kawasan Bantar Gebang, dekat kediaman Hafitd.

Jasad Ade ditemukan oleh petugas derek jalan tol bernama Didin Hermansyah pukul 06.30 WIB. Saat ditemukan, Ade, mengenakan baju warna putih lengan panjang, dan rok warna hitam. Di tubuhnya terdapat bekas luka lebam. Ade memakai gelang karet warna merah di tangan kiri, dengan tulisan "Java Jazz Festival."


Sempat meninggalkan kesan baik di mata kedua orangtua Ade, rupanya Hafitd memiliki perangai buruk: temperamental. Teman Ade, Bebi, mengatakan bahwa Hafitd sering menulis komentar ancaman di situs jejaring sosial milik korban.

Sejak berpisah dengan Ade Sara, Hafitd kerap meneror melalui pesan singkat BBM maupun SMS. Hafitd yang pernah cekcok mulut dengan Ade, karena berselingkuh dengan Assyifa, juga menulis komentar tak senonoh di situs jejaring sosial.

"Hafitd bahkan nekat membayar mahal orang lain untuk menjebol situs jejaring sosial Facebook dan Twitter milik Ade Sara tanpa alasan yang jelas," kata Bebi.

Ibu Ade, Elisabeth, kecewa terhadap Hafitd. Sebab, selama pacaran dengan anaknya, dia mengenal Hafitd sebagai sosok kekasih yang romantis dan sopan. Elisabeth kaget mengetahui Hafitd selalu mengancam akan mencelakai gadis yang memiliki cita-cita jadi psikiater itu.

Firasat buruk Elisabeth, dan suaminya itulah yang menjadi titik awal pengungkapan pembunuhan ini. Orangtua Ade yakin pembunuh putrinya adalah Hafitd. Mereka kemudian melaporkannya ke Polres Bekasi Kota.

Identitas warga Jalan Layur, Rawamangun itu mudah terlacak berkat sidik jari yang datanya sudah terekam di e-KTP.

Tak menyesal

Hafitd dan Assyifa kini mendekam di tahanan Mapolresta Bekasi Kota. Ancaman hukuman mati membayangi mereka. Polisi menjerat keduanya dengan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

"Ancamannya hukuman mati atau penjara seumur hidup, selam-lamanya 20 tahun penjara," kata Kepala Sub Bagian Humas Polresta Bekasi Kota, Ajun Komisaris Siswo. Meski demikian, tak ada penyesalan di wajah mereka.

"Saya tanya sama keduanya, kenapa kamu tega membunuh Ade. Bukannya dijawab malah cengengesan," kata Siswo. "Setelah itu, mereka bilang menyesal. Tapi, raut wajahnya itu biasa banget, kayak tidak tulus ngomongnya," Siswo melanjutkan.

Dalam konferensi pers yang digelar Jumat siang, polisi menghadirkan Hafitd dan Assyifa. Wajah keduanya ditutup dengan jaket dan pasmina. Saat diberondong pertanyaan oleh wartawan, kedua tersangka menolak memberikan keterangan.

Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Hafitd dan Assyifa. Mereka juga menolak minta maaf kepada keluarga korban.

Untuk kebutuhan penyelidikan, petugas mengamankan sejumlah barang bukti, antar lain, sepatu milik Assyifa yang digunakan untuk memukul Ade, dan mobil Hafitd. Sejumlah identitas korban yang ditemukan di saluran air di depan rumah Hafitd ikut diamankan.

"Sejauh ini, sesuai hasil pemeriksaan, pembunuhan ini dilatarbelakangi motif sakit hati dan cemburu. Tapi, kami masih dalami lagi, apakah ada motif lainnya," kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polresta Bekasi Kota, Komisaris Nuredy Irwansyah.(metro.news.viva.co.id)