Awal Ramadhan, Muhammadiyah-NU siap 'islah' lewat Astrofotografi

Awal Ramadhan, Muhammadiyah-NU siap 'islah' lewat Astrofotografi
Penentuan Awal Puasa Ramadhan 1435 H Tahun 2014
Fenomena perbedaan penentuan awal Ramadhan dan Syawal selalu muncul tiap tahun. Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), memiliki metodologi berbeda. Namun, untuk tahun 2014 ini, dua organisasi Islam terbesar di Indonesia ini, siap 'islah' menggunakan teknik Astrofotografi.

"Ini merupakan upaya untuk menyatukan umat Islam di Indonesia. Jadi saya optimis, masalah perbedaan penentuan awal Ramadhan dan 1 Syafal tahun ini bisa disatukan," kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin usai menghadiri Workshop Festival Astrofotografi di Jatim Expo (JX) Surabaya, Sabtu (26/4).

Seperti diketahui, dalam menentukan 1 Ramadhan dan 1 Syawal itu, ada dua metodologi. Yang pertama berdasarkan Hisab, yaitu perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan pada kalender Hijriyah. Metodologi ini, biasa dilakukan Muhammadiyah.

Yang kedua adalah dengan cara Rukyat, yaitu aktivitas mengamati visibilitas hilal, untuk mengetahui penampakan bulan sabit yang nampak kali pertama setelah terjadinya ijtimak (konjungsi). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop.

Karena hilal hanya akan tampak setelah matahari terbenam atau waktu magrib, maka Rukyat dilakukan setelah matahari terbenam. Hal ini disebabkan, intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya matahari, serta ukurannya sangat tipis.

Jika hilal terlihat, maka pada petang (maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah. Dan apabila tidak terlihat, maka awal bulan ditetapkan mulai magrib hari berikutnya. Metodologi inilah, yang biasa digunakan Nahdliyin untuk menentukan 1 Ramadhan dan 1 Syawal.

Karena perbedaan inilah, khususnya di Indonesia, umat Islam kadang memulai awal Ramadhan dan Syawal di hari yang berbeda. Namun, untuk tahun ini (2014) diyakini, antara Muhammadiyah dan NU akan kompak.

Sebab, ada metodologi baru yang digagas Agus Mustofa untuk menyeragamkan perbedaan metodologi tersebut. Agus memiliki solusi terkait penentuan awal Ramdhan 1435 Hijriyah.

Agus yang juga seorang penulis buku tentang Tasawuf Modern itu, menggagas teknik Astrofotografi, yang akan menjadi jalan tengah persoalan Hisab dan Rukyat. Astrofotograhi ini, berdasarkan ilmu pengetahuan modern.

Dan dengan tekni Astrofotografi ini, Din Syamsudin mengaku optimis perbedaan penentuan awal Ramdhan dan 1 Syawal bisa disatukan. Dengan metode Astrofotografi yang digagas Agus Mustofa itu, dia juga berharap perbedaan yang selama ini terjadi di Indonesia bisa teratasi.

"Saya optimis masalah perbedaan yang selama ini terjadi, akan bisa teratasi dengan cara dan atau melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Saya sangat yakin perbedaan umat Islam di Indonesia bisa disatukan," katanya yakin.

Sementara itu, penggagas metode Astrofotografi sendiri mengatakan, Astrofotografi ini mampu dijadikan sebagai solusi penyatuan Hisab dan Rukyat. Bahkan, Agus sangat yakin, metode yang digagasnya itu bisa memberi hasil yang sama antara metode Hisan dan Rukyat.

Sebab, metodologi Astrofotografi ini, berdasar Rukyah Qobla Ghurub (RQG). "Sekarang kita coba cermati pada sidang Isbat tahun 2010, karena perbedaan pandangan, sidang diwarnai walk out. Kemudian tahun 2012, ada yang tidak hadir. Dan pemandangan yang sama juga terjadi di tahun 2013. Terlepas salah atau benar ternyata sidang Isbat sudah tidak mampu lagi menjadi media pemersatu umat," terang penulis buku berjudul: Jangan Asal Ikut-Ikutan Hisab dan Rukyat itu.

Teknik Astrofotografi ini, lanjut dia, adalah merukyat hilal sebelum magrib. Dengan cara itu, pembuktian hadirnya bulan sabit awal Ramadan ataupun 1 Syawal tidak perlu menunggu saat matahari tenggelam atau mahgrib, melainkan bisa dilakukan di siang hari atau pagi hari.

Dia menjelaskan, pergantian bulan Hijriah dari Syakban ke Ramadhan tahun 2014 ini, akan terjadi pada tanggal 27 Juni pukul 15.09 WIB. "Dengan RQG, tim Astrofotografi sudah bisa memotret dan merekam posisi bulan sebelum ijtimak dan sesudahnya di waktu ashar. Saat-saat peralihan bulah Syakban ke Ramadhan, akan dipotret dan direkam selama dua sampai tiga jam," papar dia.

Agus juga sangat yakin, kalau tahun 1435 Hijriyah ini, hilal dipastikan tidak tampak karena ukurannya sangat tipis, yaitu sekitar 0,5 derajat. "Sehingga, para penganut metodologi Hisab, akan memutuskan awal Ramadhan pada tanggal 28 Juni. Sedangkan, penganut Rukyat tidak bisa melihat hilal dan baru akan memulai puasa Ramadhan pada 29 Juni."

Tapi, masih kata dia, jika pemerintah sepakat dengan hasil Astofotografi, maka bisa dipastikan awal Ramadhan 1435 Hijriyah akan terjadi bersamaan dan bisa dibuktikan dengan visual serta foto pada sore hari. "Karena hilal sudah akan terlihat pada sore hari yaitu sekitar pukul 15.09 WIB di tanggal 27 Juni," tandas dia.
[ian-merdeka]