Plus Minus 'serangan' isu HAM

http://dangstars.blogspot.com/2014/06/plus-minus-serangan-isu-ham.html
Debat calon presiden/wakil presiden tahapan pertama mempertontonkan cawapres Jusuf Kalla menyerang Capres Prabowo Subianto dengan pertanyaan seputar Hak Asasi Manusia (HAM). Isu yang selama ini dilekatkan pada mantan Danjen Kopassus itu. Bagaimana dampak serangan Kalla tersebut?

Serangan Kalla kepada Prabowo Subianto dimaknai beragam oleh tim sukses masing-masing kandidat. Bagi tim pendukung Joko Widodo-Jusuf Kalla, serangan Kalla tersebut merupakan hal yang dinanti dan jawaban yang yang disampaikan Prabowo bersifat emosional. Namun sebaliknya, bagi tim pendukung Prabowo-Hatta, jawaban Prabowo sudah tepat.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Prabowo-Hatta M Romahurmuziy mengatakan pertanyaan yang sifatnya menyerang dari Kalla kepada Prabowo justru berdampak positif bagi Prabowo-Hatta. "Pak Prabowo memetik poin penuh dengan menjawab di depan publik, dengan membawa pada situasi siapa atasannya saat itu," ujar Romi di sela-sela Sidang Paripurna DPR di Gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, hari ini.

Lebih lanjut Romi mengatakan, strategi menyerang memiliki dua kemungkinan bisa berdampak positif bagi yang menyerang, namun bisa juga berdampak positif bagi pihak yang diserang. "Timkamnas memberikan masukan agar selama debat tidak ada pertanyaan untuk menyerang, karena kita ingin rakyat memilih berdasar keunggulan," tegas Romi.

Selain soal pertanyaan Kalla yang sifatnya menyerang, Romi juga menyoroti pernyataan penutup yang disampaikan Joko dengan mengucapkan ucapan terima kasih kepada istrinya Iriani Joko yang dilanjutkan dengan standing applause. "Ini kesannya menyindir. Jadi Joko sangat ofensif dan Prabowo defensif," imbuh Sekjen DPP PPP ini.

Sementara adik kandung Kalla, Halim Kalla yang juga anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar mengatakan sudah semestinya dalam debat capres/cawapres Kalla melakukan serangan terhadap Prabowo. "Harus ada saling serang-menyerang. Apapun boleh. Itu (soal HAM) bukan menuduh," cetus Halim ditemui usai sidang paripurna DPR.

Ia tidak khawatir dengan tipologi masyarakat Indonesia yang tidak suka dengan kampanye yang sifatnya menyerang. Menurut dia, politik harus terbuka dan menuntut pemimpin yang bersih. "Jadi bukan soal suka tidak suka. Namanya politik harus terbuka," tandas Halim.

Serangan Joko kepada Prabowo tidak hanya kali ini saja. Dalam beberapa kesempatan kampanye, Joko secara vulgar melakukan sindiran kepada Prabowo. Seperti saat melakukan kampanye di Jayapura, Papua, Joko menyindir model kampanye yang dilakukan Prabowo Subianto yang dilakukan di hotel. “Kalau yang lain yang di sana, kampanye di hotel. Kalau kita, kampanye di kampung saja, karena Jokowi dan Jusuf Kalla milik orang-orang kampung, milik orang-orang di daerah," kata Joko di Jayapura, Kamis (5/6) lalu.

Gaya kampanye menyindir ala Joko ini tidak dilakukan sekali saja. Masih dari Papua, Joko kembali menyindir Prabowo tentang klaim kerakyatan yang disuarakan saat Pilpres ini. Menurut dia, kerakyatan hanya menjadi klaim namun enggan bertemu rakyat.

"Sekarang ada pemimpin yang menyatakan diri kerakyatan, tapi tidak pernah bertemu rakyat, tidak pernah hidup di lingkungan kumuh, tidak pernah bersentuhan kulit dengan rakyat. Apa itu yang kita inginkan?" tambah Joko.

Joko juga sempat menertawakan kondisi Prabowo yang melajang, saat berkampanye di Bali.

Serangan dan sindiran Joko-Kalla kepada Prabowo-Hatta tampaknya mengabaikan kosmologi Jawa yang menjadi unsur penting dalam strukur budaya di Indonesia. Falsafah Jawa populer seperti "menang tanpa ngasorake" tampaknya lalai dipegang oleh Joko-Kalla.

Karakteristik Masyarakat Jawa yang antipati dengan sikap menyerang satu sama lain bisa saja justru menjadi blunder bagi Joko-Kalla. Kosmologi Jawa dalam politik nasional menjadi faktor penting. Karena populasi masyarakat Indonesia 60 persennya berada di pulau Jawa.
(image:antara/dat06/inilah-waspada.co.id)