Sekali berkicau (tweet) bisa dihargai Rp500 ribu- 1 juta.

Kicauan Berbayar di Media Sosial
Sebuah studi tahun 2012 oleh social sales specialist, Jim Keenan, memperlihatkan fakta menarik. Sebanyak 78,6 persen tenaga penjual (sales person) yang menggunakan media sosial mampu menjual lebih banyak produk dibanding rekannya yang tidak menggunakan media sosial.

Media sosial yang menjadi andalan para tenaga penjual antara lain Linkedin, Twitter, Facebook, Blog, dan Google. Bisa dibayangkan, kekuatan media sosial sebagai alat pemasaran dan penjualan yang efektif dewasa ini.

Akun media sosial para selebritas pun menjadi sasaran para pengiklan. Adalah lumrah melihat selebritas dibayar untuk mempromosikan produk lewat Twitter.  Kepopuleran sang artis dianggap mampu mempengaruhi para penggemar mereka yang cenderung loyal.

Di Indonesia, tak hanya artis yang dibidik oleh para pengiklan. Mereka yang punya follower atau pengikut berjumlah ribuan pun dibayar untuk mempromosikan merek atau produk lewat akun Twitter.

Dibandingkan kota lain di dunia, Jakarta memang memiliki lebih banyak pengguna Twitter. Oleh karena itu tak mengherankan apabila Twitter menjadi salah satu media sosial paling favorit para pengiklan.

Mereka yang dibayar untuk setiap tweet ini biasa disebut dengan buzzer. Umumnya, dibayar mulai dari sekitar US$21 per tweet.  Beberapa buzzer yang dikenal luas masyarakat saat ini antara lain @bowdat, @ernestprakasa, dan @FebryMeuthia.

Pada 4 April 2014, VIVAlife berkesempatan mewawancarai salah seorang buzzer, Febry Meuthia, di rumahnya di kawasan Bekasi.  Wanita kelahiran 20 Februari 1973 tersebut, pernah  menjabat sebagai Manajer Musik dan Variety Show di sebuah stasiun televisi swasta. Kini dia banting setir jadi buzzer.

Febry memiliki lebih dari 170 ribu follower di Twitter.  Ia laris manis dikontrak oleh sejumlah pihak. Mulai dari mempromosikan produk hingga politik pernah dilakoni oleh Febry.


Bisa dijelaskan apa yang dimaksud dengan buzzer?

Buzzer mungkin sama seperti tugasnya meramaikan. Paling gampang, tugasnya beriklan. Sebenarnya bukan beriklan yang bagaimana-bagaimana. Tapi dia lebih sebagai megafonnya. Jadi kalau punya materi iklan ingin lebih didengar orang, biasanya di-buzz atau dikencangkan suaranya.

Anda lebih condong ke buzzer produk atau politik?

Kalau saya sendiri cenderung menyebut saya buzzer apa saja. Artinya saya tidak membedakan apakah itu buzzer untuk brand, buzzer untuk katakanlah politik. Karena saya treat itu sama semua.

Awal menggunakan media sosial Twitter?

Saya main Twitter dari 2010. Kebetulan saya pegang acara musik di salah satu televisi. Saya perguakan Twitter saya untuk promosi acara-acara yang saya pegang. Dari situ, kemudian saya berteman dengan banyak orang, termasuk artis pengisi. Akhirnya follower saya lumayan banyak. Terakhir, waktu saya kerja di televisi jumlah follower saya 18.000.

Bagaimana akhirnya bisa menjadi buzzer?

Saya ditarik jadi buzzer. Saya pikir ini anugerah, ajaib, karena saya tadinya nggak tahu apa-apa tentang bagaimana berkampanye di social media. Saya hanya waktu itu ingin mempromosikan acara yang saya buat.

Kemudian saya membuat juga beberapa activation lewat akun Twitter saya. Misalnya, saya bagi undangan untuk nonton acara yang saya buat. Kemudian dari situ setelah saya pensiun, ada teman yang pernah undang ke acara saya lewat Twitter, mengajak saya untuk jadi buzzer pertama kali.

Pertama kali langsung dibayar. Jadi diajak, “Mau nggak promosi salah satu event. Promosi event ini, nanti saya kasih arahannya. Dikasih fee sekian untuk berapa kali tweet”.

Seberapa efektif iklan lewat buzzer?

Kalau saya lihat Indikator Kinerja Utama (Key Performance Indicator/KPI)-nya buzzer bukan sales, bukan driven sales. Tapi seperti juga namanya buzz hanya menimbulkan buzz atau keramaian saja. Dan KPI-nya dilihat dari bagaimana si buzzer ini menciptakan conversation dari brand yang di-buzz.

Berapa bayaran buzzer untuk sekali tweet?

Rata-rata para buzzer itu range harga sekitar Rp500 ribu sampai Rp1 juta per tweet. Tapi jangan dihitung, oh kalau begitu misalnya satu hari dikali tiga terus dikalis 30 hari, penghasilannya bisa Rp100 juta. Nggak.

Berapa lama jangka waktu untuk satu proyek?

Bisa sebulan, dua bulan, 1-2 minggu. Dalam rentang waktu sekian itu biasanya kita diminta melakukan beberapa kali tweet. Satu, sampai 10 hingga 20.

Ada jam khusus yang diminta?

Biasanya memang ada beberapa jam yang dianggap prime time. Jam-jam yang dianggap prime time itu biasanya jam pulang kerja dan berangkat kerja.

Apakah pernah menerima kritikan dari follower?

Kalau saya walaupun belum menggunakan etika iklan di Twitter sebagaimana seharusnya yang biasanya di belakang tweet adan hashtag advertorial atau apa gitu. saya memang belum pakai itu, tetapi di bio, saya sudah mencantumkan bahwa akun ini kemungkinan akan dipakai untuk melakukan kampanye dan melakukan kegiatan advertorial.

Jadi dimohon kebijaksaannya. Saya sudah tulis disclaimer-nya di akun saya. Jadi saya nggak terlalu minta mereka mengerti itu juga nggak apa-apa. Tapi saya sudah mengasih peringatan loh.

Apakah penghasilan sebagai buzzer ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?

Tergantung. Kadang-kadang biasanya ada musim ramai. Ada beberapa produk yang campaign bareng. Ada dalam satu bulan tidak ada sama sekali. Sama kayak seperti pekerja freelance yang lain.

Ada trik khusus untuk menjadi buzzer?

Kalau saya lihat sih sebetulnya beberapa teman yang punya follower banyak lebih banyak tweet apa yang ada di pikiran. They tweet what they think instead of tweet about what they are. Jadi misalnya tulis status, “Gue makan nih.” Orang nggak peduli. Tapi kalau misalnya, “Eh makanan di restoran itu enak loh.” Itu bisa menimbulkan percakapan.

Bagaimana prospek buzzer ke depannya?

Saya berharap profesi ini akan ada terus. Tapi saya bukan expert di bidang itu. Saya bukan social media strategy. Saya hanya menjalankan pekerjaan ini.  (ren)
Sumber: Reuters