Ratusan ribu buruh yang tergabung dalam KSPI, KSPSI, KSBSI, SPN, FSPMI dan 41 federasi serikat pekerja lainnya akan melakukan aksi di seluruh Indonesia

50 ribu buruh dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Karawang dan Purwakarta siap mengepung ibu kota pada Rabu (10/12/2014). Hal itu disampaikan oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal melalui siaran pers diterima di Jakarta.


Aksi para buruh tersebut akan berlangsung di beberapa titik di ibukota, seperti Bundaran Hotel Indonesia, Istana Kepresidenan dan Balai Kota DKI Jakarta. Ditempat terpisah namun dalam waktu bersamaan Said mengklaim puluhan ribu buruh lainnya dari 12 provinsi juga akan melakukan aksi serupa di depan kantor Gubernur masing-masing daerah.

Adapun tuntutan para buruh dalam aksi unjuk rasa kali ini tidak jauh berbeda dengan aksi-aksi buruh sebelumnya, yaitu: pertama, buruh menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di saat harga minyak dunia menurun. Menurut Said, kenaikan harga BBM telah mengakibatkan daya beli buruh turun hingga 50 persen serta kenaikan upah minimum menjadi sia-sia karena tidak bisa dinikmati buruh.

Karena itu, buruh akan mendesak gubernur se-Indonesia untuk merevisi nilai upah minimum menjadi sekitar Rp3 juta. Buruh juga mendesak Menteri Ketenagakerjaan untuk merevisi kebutuhan hidup layak (KHL) menjadi 84 butir. “Kami juga mendesak pemerintah untuk mengesahkan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pensiun pada Desember ini sehingga jaminan pensiun wajib bisa dijalankan pada 2015,” katanya.

Terkait pelaksanaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, buruh mendesak pemerintah memperbaiki jaminan kesehatan untuk rakyat dan buruh dengan cara menambah anggaran Penerima Bantuan Iuran (PBI) menjadi Rp30 triliun dan mengganti sistem INA CBGs dengan “Fee For Service”.

Terakhir, buruh mendesak pemerintah menghapuskan sistem kerja alih daya atau “outsourcing” terutama di badan usaha milik negara (BUMN). “Presiden Joko Widodo harus berani menghapus ‘outsourcing’ sebagai bukti implementasi revolusi mental melawan perbudakan modern,” ujarnya.