Cara Membuat Anak Supaya Pintar (fakta dan mitos)

Cara Membuat Anak Pintar  (fakta dan mitos)
Berikut ini adalah cara-cara membuat anak pintar baik itu fakta dan mitos yang beredar. Bagi orangtua, memiliki anak pintar dan cerdas merupakan suatu harapan. 

Oleh karena itu, tidak heran jika banyak orangtua yang berusaha menempuh berbagai cara untuk mewujudkan harapan tersebut. Mulai dari memberikan susu bermerek, suplemen vitamin mahal, hingga memperdengarkan musik klasik dilakuakn dengan tujuan agar anak pintar. 


Pada artikel kali ini, kami akan menyajikan ulasan yang berimbang supaya orangtua lebih bijak ketika berusaha memiliki anak yang pintar. Jangan sampai kita memilih ikhtiar (usaha) yang berlebihan, apalagi jika sampai melanggar syariat.

Jangan Asal Percaya Mitos

Banyak mitos yang beredar di sekitar kita dan kebanyakan tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Berikut ini beberapa mitos yang keliru namun masih banyak yang percaya :

Mitos : Susu formula dapat mencetak anak pintar

Saat ini, para produsen sangat gencar mempromosikan produk susu formulanya. Mulai dari memasang model iklan yang lucu dan menggemaskan hingga mengklaim bahwa produknya dapat membuat anak menjadi pintar dan berprestasi. Gambaran anak ”ideal” ditanamkan ke benak para orangtua sehingga orangtua merasa belum memberikan yang terbaik jika belum memberikan susu dengan harga mahal pada buah hatinya.

Orangtua cenderung lebih khawatir jika anaknya tidak mau minum susu dibanding jika anaknya tidak mau makan, karena menganggap susu sebagai minuman ”super” yang mampu mencukupi segala kebutuhan nutrisi anak. Lebih parahnya lagi, keberadaan susu formula ini lambat laun mulai menggantikan posisi ASI yang merupakan hak bagi seorang anak.

Mobilitas dan kesibukan kaum wanita yang makin tinggi membuat susu formula menjadi pilihan sebagai pengganti ASI dan aktivitas menyusui.


Faktanya, susu formula tidak akan mampu menandingi ASI meski kandungannya dibuat sedemikian rupa supaya mendekati komposisi ASI. Banyak sekali kekurangan dari susu formula jika dibandingkan dengan ASI. Mulai dari kompisisinya yang tidak mungkin setepat ASI, kemungkinan terkontaminasi, tidak ekonomis, kurang praktis dan kurang higienis. Untuk itu, sebaiknya orangtua tidak terkecoh dengan iklan susu. Semahal apapun susu yang diberikan, jika tidak diimbangi dengan stimulasi yang memadai dari lingkungan sekitar maka tidak akan mencapai hasil yang maksimal.

Mitos : Suplemen vitamin dapat mencerdaskan anak

Vitamin memang dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang anak. Namun demikian, tubuh juga membutuhkan zat gizi lainnya seperti karbohidrat, protein, dan lemak. Mengandalkan pemberian vitamin saja bukanlah tindakan yang bijak. Bahkan, ahli gizi lebih menyarankan pemenuhan vitamin dan mineral dari makanan yang dikonsumsi seharihari seperti sayur dan buah. Pemberian suplemen yang berlebihan justru akan berdampak kurang baik karena menyebabkan orangtua cenderung mengandalkan suplemen dan tidak berusaha memperhatikan menu makanan yang tepat bagi putra-putrinya.

Mitos : Musik klasik dapat membuat anak jadi jenius

Kita tentu sudah sangat akrab dengan mitos yang satu ini. Bagi sebagian orang, musik klasik mendapat tempat yang eksklusif dibanding musik lain karena dianggap musik yang “baik” dan memiliki banyak manfaat mulai dari menenangkan, mencerdaskan, hingga dipakai untuk terapi berbagai penyakit. Berbagai penelitian dipaparkan untuk makin memantapkan klaim bahwa musik klasik dapat mencerdaskan anak. Tidak heran jika para ibu berlombalomba memperdengarkan musik klasik sejak bayi masih dalam kandungan.


Setelah sekian tahun lamanya, kini mulai bermunculan bantahan terhadap musik klasik. Beberapa orang peneliti dari University of Vienna, Austria yakni Jakob Pietschnig, Martin Voracek dan Anton K. Formann dalam riset mereka yang diberi judul “Mozart Effect” mengemukakan kesalahan besar dari hasil penelitian musik yang melegenda ini. Pietschnig dan kawan-kawannya mengumpulkan semua pendapat dan temuan para ahli terkait dampak musik Mozart terhadap tingkat intelegensi seseorang kemudian mereka membuat riset terhadap 3000 partisipator. Hasilnya ternyata bertolak belakang dengan apa yang sudah beredar saat ini.


Berdasarkan penelitian terhadap ribuan partisipator itu, Pietschnig dan rekan-rekannya menyimpulkan bahwa musik klasik tidak memberikan stimulus atau mendorong peningkatan kecerdasan spasial (daya ingat/daya pikir terhadap keruangan yang dianggap mengindikasikan kejeniusan). Meski tanpa hasil penelitian sekalipun, kita tidak boleh ragu untuk meninggalkan musik klasik (dan juga jenis musik lainnya).


Dalam Islam sendiri, sudah dijelaskan mengenai haramnya musik, seperti apa yang dijelaskan dalam hadits shahih dari Abu Malik Al-Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


Sungguh, akan ada orang-orang dari umatku yang meminum khamr, mereka menamakannya dengan selain namanya. Mereka dihibur dengan musik dan alunan suara biduanita. Allah akan membenamkan mereka ke dalam bumi dan Dia akan mengubah bentuk mereka menjadi kera dan babi”.

Mitos : Meletakkan pensil dan buku di samping ariari (plasenta) bayi akan membuat anak menjadi pintar

Sebagian orangtua memperlakukan ari-ari secara berlebihan. Masyarakat di beberapa daerah tertentu merasa tidak cukup jika ari-ari sekedar dikuburkan saja, sehingga mereka juga memberikan penerangan, memagari, dan menyertakan berbagai macam barang untuk dikubur bersama ari-ari.


Ada yang menyertakan jarum dengan harapan anak memiliki pikiran yang tajam (cerdas), meletakkan pensil dan buku di samping ari-ari agar anak pintar, bahkan menyertakan kertas dengan tulisan arab dan jawa supaya anak jadi orang pintar. Kepercayaan seperti ini sangat tidak ilmiah bahkan dapat menjerumuskan pelakunya pada kesyirikan jika disertai dengan keyakinan bahwa benda-benda tadi mampu mendatangkan manfaat bagi seseorang. Apalagi jika disertai dengan tulisan atau bacaan yang tidak jelas karena berpotensi mengarah pada meminta kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala yang merupakan perbuatan

syirik.

Usaha Apa Yang Bisa Dilakukan Orang Tua Agar Anak Pintar?

Sebagai seorang muslim, hendaknya kita selalu bertawakal pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun demikian, kita diperbolehkan bahkan harus berusaha untuk mendapatkan apa yang kita cita-citakan. Ibnu Rajab mengatakan bahwa menjalankan tawakal tidaklah berarti seseorang harus meninggalkan sebab atau sunnatullah yang telah ditetapkan dan ditakdirkan.

Karena Allah memerintahkan kita untuk melakukan usaha sekaligus juga memerintahkan kita untuk bertawakal. Oleh karena itu, usaha dengan anggota badan untuk meraih sebab termasuk ketaatan kepada Allah, sedangkan tawakal dengan hati merupakan keimanan kepada-Nya. Berikut ini beberapa usaha yang bisa kita lakukan agar anak pintar :

Senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Agama Islam memberi tuntunan bagi pemeluknya untuk selalu berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan doa merupakan ibadah yang sangat agung, karena di dalamnya terdapat penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.dan menunjukkan bahwa seorang hamba selalu membutuhkan pertolonganNya. Setiap orangtua tentu menginginkan kebaikan bagi putra putrinya, untuk itu sudah selayaknya para orangtua senantiasa mengiringi dengan doa.


Hendaknya orangtua tetap bersyukur dengan kondisi anak yang mungkin tidak pintar secara akademik, karena setiap anak pasti memiliki kelebihan dan potensinya masing-masing. Meskipun memiliki anak pintar bukanlah suatu hal yang terlarang, namun hendaknya jangan dilupakan untuk mendoakan anak supaya menjadi anak yang shalih, beraqidah lurus dan tentunya berakhlak mulia.


Seperti firman Allah Subhanahu wa ta’ala yang artinya, Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.(Al Furqan:74).

Memberikan stimulus yang tepat

Stimulasi merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk merangsang kemampuan dasar anak agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Stimulasi tumbuh kembang anak dapat dilakukan oleh setiap orang yang berinteraksi dengan anak, mulai dari ibu, ayah, nenek, kakek, anggota keluarga lain dan kelompok masyarakat di lingkungan rumah tangga masing-masing dalam kehidupan sehari-hari. Setiap anak perlu mendapat stimulasi sedini mungkin dan berlangsung kontinu (terus menerus) pada setiap kesempatan.


Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang anak bahkan gangguan yang menetap. Kemampuan dasar anak yang dirangsang dengan stimulasi terarah meliputi setiap aspek perkembangan, yaitu kemampuan motorik (gerak) kasar, kemampuan motorik (gerak) halus, kemampuan bicara dan bahasa, serta kemampuan sosialisasi dan kemandirian.

Memberikan nutrisi yang cukup dan bergizi

Usaha memberikan nutrisi terbaik bisa dimulai sejak dalam kandungan, yaitu seorang ibu yang hamil harus senantiasa mengonsumsi makanan yang bergizi. Setelah anak lahir, segera berikan ASI karena di dalam ASI yang pertama kali keluar terdapat kolostrum.


Kolostrum adalah susu pertama yang diproduksi setelah melahirkan dan mengandung banyak immunoglobulin, rantai antimicrobial (lactoferrin dan lactoperoxidase) serta molekul bioaktif lain termasuk faktor pertumbuhan. Ciriciri kolostrum yaitu berbentuk seperti susu, kental dan berwarna lebih kuning.


Biasanya kolostrum sudah diproduksi pada tahap akhir kehamilan sehingga sudah ada segera setelah melahirkan sampai hari ke-7 kelahiran. Kolostrum juga mengandung beberapa zat dalam jumlah yang tinggi seperti natrium, kalium dan kolesterol. Kombinasi zat ini ampuh untuk perkembangan jantung, otak serta sistem saraf pusat bayi.


ASI mengandung DHA (asam lemak pembangun otak) yang berperan dalam meningkatkan kecerdasan anak (IQ), paling tidak sampai usia 15 tahun. ASI juga mengandung asam sialat yang merupakan komponen penting yang diperlukan untuk membentuk molekul gangliosida pada membran sel otak. Molekul gangliosida berperan merangsang saraf agar dapat bekerja optimal dan membentuk memori otak jangka panjang.


Selain karena komposisi ASI, alasan lain mengapa pemberian ASI sangat dianjurkan ialah karena adanya kontak kulit dan mata antara ibu dan bayi selama menyusui. Kepuasan emosional, keintiman, dan saling berbagi cinta bukan saja sangat memuaskan dan membentuk hubungan ibu-anak yang kuat, tapi juga dapat meningkatkan perkembangan otak anak. Hubungan seperti ini tidak akan didapatkan dari susu botol.


Setelah disapih, lanjutkan dengan pemberian makanan yang bergizi. Berbagai penelitian membuktikan bahwa struktur dan fungsi otak dipengaruhi secara permanen oleh zat gizi yang diberikan di usia dini, terutama pada masa bayi dan balita. Oleh karena itu, hendaknya orangtua berusaha mencukupi kebutuhan nutrisi buah hatinya. Nutrisi yang baik tidak harus mahal, yang terpenting adalah pemilihan bahan yang segar dan beranekaragam dan hindari makanan instan. Begitu pula ketika anak makin bertambah usianya, biasakan hanya menyajikan makanan yang terjamin kebersihan dan kesehatannya, serta bebas 3P (pengawet, pewarna, dan pemanis buatan).

Penutup

Selain faktor keturunan, kecerdasan anak ditentukan oleh faktor lain seperti lingkungan, stimulus (rangsangan), dan makanan bergizi. Hanya mengandalkan faktor nutrisi tidak akan membuahkan hasil yang maksimal jika tidak diimbangi dengan stimulus (rangsangan) yang memadai dari lingkungan sekitarnya. Orangtua yang pintar juga bukan jaminan nantinya akan memiliki anak-anak yang pintar pula. Dibutuhkan keseimbangan dari berbagai faktor penentu kecerdasan anak. Selain itu, doa dan tawakal tidak boleh dilupakan. Demikian pembahasan seputar mitos dan fakta mencetak anak pintar. Semoga bermanfaat.