Cara Membuat Motivasi kerja Semakin Membara

Cara Membuat Motivasi kerja Semakin Membara
Dalam artikel ini kita akan membahas bagaimana Anda bisa menemukan motivasi kerja Anda, bahagia, bersemangat dan begitu hidup di pekerjaan Anda maupun bisnis Anda.
 
Sepertiga kehidupan kita bahkan lebih, kita habiskan untuk bekerja. Untuk membangun bisnis. Tidak jarang orang yang bekerja tidak memiliki motivasi kerja. Pebisnis sekalipun tidak luput dari hilangnya motivasi kerja atau motivasinya untuk berkarya. 

Tanda sederhana yang sangat jelas adalah apakah Anda bangun di pagi hari dengan semangat atau menyeret diri Anda untuk bangun setelah sekain kali menghentikan alarm Anda dari suara yang memberikan Anda beban bukan semangat.


Dalam bekerja, kita haruslah memiliki 4E: Easy, Enjoy, Excellence, Earn. – Sapta Dwi Kardana, Ph.D.


Apapun pekerjaan kita, selalu akan ada tantangan.

Jika kita tidak passion, kita akan dengan mudah keok. Tidak kuat menghadapi masalah dan mundur. Ini adalah hal yang tidak diinginkan semua pihak. Jadi passion haruslah sesuai dengan pekerjaan. Passion adalah sesuatu yang sangat suka kita lakukan. Sehingga kita bisa lupa waktu saat melakukannya. Ini adalah komponen Enjoy.

Bakat adalah kemampuan Anda dalam mengatasi pekerjaan. Jika Anda tidak berbakat tentu Anda akan kesulitan dalam bekerja. Dan Anda tidak akan melakukan pekerjaan dengan Easy.

Indah sekali jika Anda bekerja sesuai passion Anda. Motivasi kerja akan membara, dan Anda akan jauh lebih hidup, belum mempertimbangkan efek positif lainnya dari kita begitu hidup dalam pekerjaan kita.

Apa yang membuat pekerjaan kita excellence?  Brain power

Tidak jarang saya menemukan orang yang bekerja hanya menunggu perintah. Jika ia sudah melakukan pekerjaannya dan tidak sesuai dia akan mengatakan: “Apa lagi yang harus ia lakukan, apa yang diminta untuk dikerjakan, sudah dilakukan, tapi hasilnya tidak sesuai.” Bagi seorang atasan, ini adalah sesuatu yang memicu emosi. Ini membuktikan bahwa karyawan ini, maaf, tidak memiliki brain power. Tidak bisa dan tidak mau mikir. Bisa jadi takut salah. Bisa jadi kebiasaan dari dulu yang selalu “disuapi” tidak bisa mandiri.



Ini faktor krusial. Karena untuk bisa bahagia bekerja dan termotivasi, kita perlu memiliki brain power ini. Kemudian Earn adalah efek samping yang kita dapatkan dengan kita bekerja.

Berlalunya Era Tongkat dan Wortel

Era yang selama ini berjalan adalah era motivasi dari luar. Dari penghargaan dan juga hukuman. Yang dikenal dengan Stick and Carrot. Atau tongkat dan wortel. Masalahnya adalah sistem motivasi kerja ini berasal dari luar atau eksternal. Bukan dari dalam diri. Motivasi dalam diri akan bertahan lama, sedangkan motivasi dari luar hanya bertahan sementara.

Ada tujuh hal yang membuat sistem motivasi dari luar ini tidak bekerja:

  1. Motivasi kerja ini memadamkan motivasi instrinsik
  2. Motivasi kerja ini bisa mengurangi kinerja
  3. Motivasi kerja ini bisa mematikan kreativitas
  4. Motivasi kerja ini bisa mendesak perilaku baik keluar
  5. Motivasi kerja ini bisa mendorong orang untuk berbuat curang, mencari jalan pintas, dan perilaku tidak etis
  6. Motivasi kerja ini membuat orang ketagihan dan terus harus meningkatkan hadiah yang lebih besar
  7. Motivasi kerja ini memicu pemikiran jangka pendek saja


Motivasi kerja dari luar bergantung pada perilaku tipe X atau Eksternal. Tipe X didasari lebih pada kehendak luar daripada kehendak dari dalam diri. Ia menggambarkan dirinya kurang melekat dengan kepuasan dari aktivitas yang dilakukan dan lebih mengharapkan penghargaan yang dibawa oleh aktivitas itu.

Motivasi Internal membutuhkan tipe I – yang didasari dari dorongan intrinsik daripada dorongan ekstrinsik. Ia menggambarkan dirinya kurang melekat pada penghargaan yang ada dalam sebuah aktivitas dan lebih melekat pada kepuasan dari aktivitas itu sendiri. Perilaku tipe X berpusat pada dorongan kedua. Perilaku tipe I berpusat pada dorongan ketiga.

Tipe I tidak dilahirkan, tapi ia bisa dicapai dengan melatih diri. Pola perilaku ini bukanlah sifat bawaan. Sifat-sifat ini cenderung muncul dari situasi, pengalaman dan konteks tertentu. Perilaku tipe I, karena ia muncul dari dorongan kebutuhan universal manusia, ia tidak bergantung usia, gender, atau kebangsaan. Ketika seseorang belajar dan mempraktikkan sikap yang fundamental ini – dan bisa diterapkan dalam lingkungan yang mendukung – motivasinya, kinerjanya meningkat.

Setiap tipe X bisa menjadi tipe I.

Tipe I pada akhirnya selalu mengalahkan tipe X. Orang yang termotivasi dari dalam selalu mencapai lebih banyak dari pada orang yang terus mencari penghargaan. Fokus yang tinggi dari orang yang mengejar penghargaan memang bisa membawakan hasil yang cepat. Masalahnya, pendekatan ini sulit bertahan lama. Dan sikap ini juga tidak mendukung mastery – yang mana ini adalah kunci sukses jangka panjang.

Orang sukses bekerja keras dan bertahan melewati tantangan dan kesulitan karena dorongan dari dalam mengendalikan kehidupan mereka, mempelajari tentang dunia mereka, dan mencapai sesuatu yang tahan lama.

Perilaku tipe I tidak meremehkan uang atau penghargaan. Kedua tipe ini peduli pada uang. Jika perusahaan tidak membayar angka yang cukup baginya, tidak peduli ia adalah tipe I atau X, motivasinya akan menurun. Namun, ketika kompensasinya sudah memenuhi tingkat tertentu, orang tipe I dan X akan berperilaku berbeda. Tipe I tidak menolak kenaikan gaji.

Namun satu alasan bayarannya perlu sesuai dan adil adalah hal penting sehingga mereka bisa mengesampingkan masalah uang dan fokus pada kinerja mereka. Sebaliknya, X akan selalu membicarakan uang. I lebih senang dikenal karena hasil pekerjaan mereka. Sedangkan X mencari penghargaan bukanlah gol-nya.

Perilaku tipe I adalah sumber daya yang selalu terperbaharui. Bayangkan tipe X adalah bahan bakar batubara. Dan tipe I adalah sinar matahari. Batubara itu murah, mudah didapat, dan paling efisien. Tapi batubara ada dua kelemahan, ia menimbulkan asap hitam dan polusi; dan kedua, ia terbatas; menjadikannya semakin mahal setiap tahun. Penghargaan “Jika – maka” harus meningkat setiap tahun.

Tipe I seperti cahaya matahari. Dibangun dari motivasi internal, menarik energi yang mudah diisi kembali dan hanya menimbulkan sedikit masalah. Motivasinya adalah energi murni: tidak mahal, aman untuk digunakan, dan bisa diperbarui tanpa batas.

Perilaku tipe I mendorong kesejahteraan fisik dan mental yang lebih baik. Berdasarkan penelitian, orang yang berorientasi kepada otonomi, dan motivasi intrinsik memiliki kepercayaan diri lebih tinggi, relasi interpersonal yang lebih baik, dan secara keseluruhan kesejahteraan yang lebih baik dari tipe X.

Autonomy

Otonomi – Keadaan dasar atau bawaan kita sebenarnya bersifat otonomi dan mengerakkan diri sendiri secara mandiri. Sayangnya, situasi dan lingkungan, termasuk gagasan yang telah kuno dari sistem manajemen – sering bersekongkol untuk mengubah keadaan dasar atau bawaan ini dan mengubah kita dari tipe I menjadi tipe X.

Untuk mendorong perilaku tipe I, dan orang berkinerja tinggi yang bisa dihasilkan tipe I, kebutuhan pertama yang harus dipenuhi adalah otonomi. Orang memerlukan otonomi atas tugas atau apa yang mereka lakukan, atas waktu atau kapan mereka melakukan, atas tim atau dengan siapa mereka melakukannya, atas teknis atau bagaimana mereka melakukannya.

Perusahaan yang menawarkan otonomi kepada timnya, terkadang dalam dosis yang radikal, selalu mengalahkan kompetitornya.

Mendorong otonomi bukan berarti mengabaikan akuntabilitas. Apapun sistem operasinya, setiap orang harus bisa mempertanggungjawabkan pekerjaan mereka. Namun cara mencapainya berbeda.

Mastery

Mastery – Sementara Motivasi Ekstrinsik memerlukan penyesuaian, Motivasi Intrinsik menuntut keterlibatan. Hanya dengan terlibat penuh seseorang bisa menghasilkan Mastery – menjadi lebih baik pada hal yang penting. Dan pengejaran mastery, telah menjadi begitu penting untuk membuat seseorang sukses.

Mastery dimulai dengan “flow” – pengalaman optimal ketika tantangan yang kita hadapi sebanding dengan kemampuan kita menyelesaikannya. Namun mastery juga mematuhi 3 aturan istimewa. Mastery adalah pola pikir: ia menuntut kapasitas utnuk melihat kemampuan Anda bukan sesuatu yang terbatas, tapi kondisi yang bisa terus ditingkatkan tanpa batas.

Mastery adalah penderitaan: Ia membutuhkan usaha, ketabahan, dan latihan terus menerus dengan sengaja. Mastery adalah sebuah asimtot: Tidak mungkin bisa sampai potensi yang sebenarnya, yang akan membuat frustrasi dan juga menarik.


Purpose

Tujuan – Manusia, secara alami, selalu mencari tujuan – suatu kegiatan yang lebih besar dan lebih tahan lama dari dirinya. Namun bisnis tradisional telah lama menganggap tujuan sebagai ornamen penghias belaka – sebuah aksesoris yang sempurna, selama ia tidak mengganggu hal penting.

Namun itu sudah berubah. Dalam Motivasi kerja intrinsik, memaksimalkan tujuan sejalan dengan memaksimalkan keuntungan sebagai sebuah aspirasi dan prinsip. Dalam sebuah organisasi, tujuan yang baru ini dinyatakan dalam tiga cara: dalam gol untuk menggunakan keuntungan untuk mencapai tujuan; dalam kata-kata untuk menekankan usaha ini lebih dari sekedar kepentingan diri sendiri; dan dalam kebijakan yang mengijinkan orang untuk mengejar tujuan dalam istilahnya masing-masing.


Bagikan pengalaman Anda di bawah ini.