Larangan Berdoa Di Sekolah Tidak Benar Kata Mendikbud

Larangan dan anggapan mendikbud bahwa membaca doa sebelum dan sesudah belajar di sekolah negeri sebagai masalah karena dinilai memaksakan agama tertentu, sehingga perlu ditertibkan menjadi kritikan sendiri bagi Anies baswedan.

Tata tertib berdoa sebelum dan sesudah belajar di sekolah yang akan diatur dalam penyusunan tatib yang identik dengan islam belakangan ini menjadi sorotan publik. Rencana Mendikbud Anies Baswedan untuk mengubah penyusunan tata tertib berdoa membuka dan menutup proses pembelajaran di sekolah hanya salah paham saja.

Perihal pemberitaan yang mengabarkan akan dievaluasinya peraturan untuk berdoa bagi siswa Muslim di sekolah membuat pemimpin Pesantren Darul Qur’an Yusuf Mansur ini langsung menghubungi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan.

Twitter Yusuf Mansur menyatakan kegeramannya jika memang kebijakan adanya perubahan Tatib Pengaturan berdoa di sekolah. Ia mempertanyakan mengapa pemerintah seolah semakin alergi saja dengan Islam dan simbol-simbol Islam.

"Ampun, ampun yaaa Allah. ampunin kami. bukannya bela agama-Mu. malah jd begini," ujarnya seperti yang dilansir dari SalamOnline.com.


Bantahan Pernyataan Anies Baswedan Bahwa Kemendikbud Tidak Melarang Materi Doa Disekolah

Berikut informasi yang dilansir dari jpnn.com dengan pemberitaan yang berjudul Bantah Melarang Materi Doa di Sekolah, Anies: Ada-Ada Aja.

Mantan Rektor Universitas Paramadina itu menyampaikan bahwa kementerian yang ia pimpin (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan) memang sedang mengkaji beberapa hal rutin yang perlu dibiasakan pada peserta didik salah satunya berdoa sebelum dan sesudah belajar.

Itu menurutnya bertujuan untuk membentuk kebiasaan yang baik untuk anak didik sejak dini. Dalam hal pembacaan doa, Mendikbud ingin agar kegiatan sekolah memulai hari pelajaran dengan membaca doa dan menutup hari belajar juga dengan doa.

"Adapun isi doa sedang kami konsultasikan kepada Kementerian Agama. Kami sedang menunggu tindak lanjut dan rekomendasi dari Kementerian Agama," kata Anies lewat siaran persnya, Selasa (9/12) malam.

Menanggapi ramainya pemberitaan mengenai dirinya yang diberitakan melarang doa di sekolah, Anies Baswedan dengan tegas menyatakan berita tersebut sama sekali tidak benar.

Karena Kemdikbud justru ingin mendorong suasana belajar yang mencerminkan tujuan pendidikan nasional. Yaitu anak-anak yang beriman, bertakwa dan cinta tanah air.

"Tidak benar mau melarang. Ini lagi fokus Kurikulum 2013, kok malah dikatakan menghapus doa di sekolah. Masa saya melarang doa. Ada-ada aja," ujar Anies.

Kritikan Rencana Perubahan Tata Tertib Berdoa Sebelum Belajar

Wacana yang dilakukan Menteri Kebudayaan Pendidikan Dasar d‎an Menengah Anies Baswedan untuk merevisi doa di sekolah memperoleh banyak pertentangan

Kritikan Rencana Perubahan Tata Tertib Berdoa Sebelum Belajar

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan tengah menuai kritik atas pernyataannya yang menganggap membaca doa sebelum dan sesudah belajar di sekolah negeri sebagai masalah karena dinilai memaksakan agama tertentu, sehingga perlu ditertibkan.

Manuver sejumlah "kebijakan" Pemerintah yang akhir-akhir ini sering diwacanakan oleh pemerintah kerap menyentuh rasa keberimanan kaum Muslimin di Indonesia.

Seakan kebijakan tersebut sengaja digaungkan untuk menguji bagaimana reaksi umat Islam terhadap kebijakan tersebut. Kalau diam, maka kebijakan akan dilanjutkan, kalau bereaksi keras, ngeles saja, tinggal bilang, “Itu hanya wacana.”

Mantan Ketua DPR Marzuki Alie meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan tak repot-repot mengatur tata tertib berdoa sebelum dan sesudah belajar di sekolah. Menurut Marzuki, urusan seperti itu cukup diserahkan kepada masing-masing sekolah.

Menurutnya yang terpenting diperhatikan pemerintah adalah bagaimana pembangunan akhlak peserta didik dilakukan secara baik agar generasi penerus bangsa memiliki kecerdasan intelektual dan spiritual.

Berikut informasi pemberitaan yang dikutip dari JPNN.COM terkait dengan hal tersebut diatas. "Sekolah di Indonesia mempromosikan agar anak-anak kita taat menjalankan agamanya, tapi bukan memaksakan satu agama. Jadi, kita sedang susun, ada tata tertib saat memulai dan tutup sekolah, dan terkait dengan doa, yang menimbulkan masalah.

Prinsipnya gak boleh sekolah negeri promosikan sikap satu agama, tapi bhineka tunggal ika," kata Mendikbud Anies saat itu.

Pernyataan ini dikritik karena dinilai menyudutkan agama Islam. Sebab, lumrahnya doa sebelum dan sesudah belajar yang kerap dibaca siswa di sekolah-sekolah negeri adalah doa secara Islam yang dianut mayoritas siswa.

Nah, Anggota Komisi X DPR yang menerima informasi ini langsung bereaksi meski tak mendengar langsgung. "Jika itu benar, sangat disayangkan. Padahal itulah awal terbentuknya pribadi yang religius pada anak di sekolah," kata Reni Marlinawati, Anggota Komisi X DPR, Selasa (9/12).

Politikus perempuan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu mengatakan tujuan pendidikan itu adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi anak yang beriman bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, cerdas, kreatif, inovatif, sehat dan bertanggungjawab.

"Maka hal pertama yang wajib ditanamkan adalah nilai-nilai religiusitasnya terlebih dahulu yang ditanamkan kepada anak, salah satu bagiannya adalah membiasakan berdoa sebelum dam sesudah belajar," tegasnya