Masalah Libido Memuncak dan Seks Bebas Pengidap Bipolar

Masalah Libido Memuncak dan Seks Bebas Pengidap Bipolar
Menurut Natalia, pengidap bipolar sebenarnya bersikap sangat wajar dalam kesehariannya. Namun, ketika kambuh, akan terjadi perubahan emosi yang drastis.

Hidup di negara yang kental dengan adat Timur, seperti Indonesia, hubungan seksual bebas masih merupakan hal tabu dan terkesan melanggar norma. 

Di tengah stigma masyarakat tersebut, hidup pula orang-orang yang tak dapat membendung hasratnya melakukan hubungan seksual. Bukan karena nafsu biasa, tetapi gangguan emosi yang disebut bipolar.

"Mungkin orang lebih banyak tahu tentang orang bipolar yang depresi sampai bunuh diri. Namun, ada juga bipolar dengan episode mania yang suasana hatinya bukan secara tiba-tiba turun, tapi naik," ujar seorang psikiater dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Natalia Widiasih, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (19/8).

Menurut Natalia, pengidap bipolar sebenarnya bersikap sangat wajar dalam kesehariannya. Namun, ketika kambuh, akan terjadi perubahan emosi yang drastis.

"Pada umumnya, bipolar itu kan gangguan suasana hati yang berubah sangat drastis. Pada pengidap episode mania, semangat sangat berlebih. Aktivitas fisik juga meningkat drastis dan tingkat kepercayaan dirinya berlebihan," kata Natalia.

Pada titik tersebut, pengidap gangguan bipolar mania dapat melakukan apapun tanpa pikir panjang. "Salah satunya adalah meningkatnya libido yang sangat tinggi. Ditambah dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi, ia dapat melakukan hubungan seks di manapun, dengan siapapun, kapanpun," papar Natalia.

Natalia pun menjabarkan maksudnya dengan sebuah contoh kasus. Sebut saja Nona (26), seorang pasien Natalia yang tengah hamil delapan bulan. Anehnya, orang tua mereka memohon Natalia untuk menggugurkan kandungannya.

"Ternyata, ini sudah kehamilan ketiga tanpa jelas ayahnya siapa. Sebelumnya, Nona ini sudah melahirkan anak usia 5 tahun dan 3 tahun dan dirawat oleh kakek neneknya," tutur Natalia.

Bukan sembarang kehamilan, kedua anak tersebut lahir akibat hubungan seksual yang tidak disadari Nona. Ternyata, Nona sudah mengidap bipolar sejak umur 17 tahun.

"Kalau sedang biasa, dia pakai jilbab dan santun. Kalau kambuh, dia tiba-tiba dandan centil dan pergi ke terminal atau hotel. Karena saat kambuh percaya dirinya berlebihan, siapapun yang enggak sengaja senyum, misalnya, dia pikir tertarik dan diajak berhubungan seksual," tutur Natalia.

Namun, ketika suasana hatinya mereda, rasa sesal pun melanda. "Biasanya orang seperti ini akan menyesal, tapi saat melakukan dia tidak sadar karena dorongan impulsif dalam otaknya yang tidak bisa ditahan," kata Natalia.

Menurut Natalia, ada banyak faktor penyebab perilaku impulsif ini. Salah satu faktor utamanya adalah biologis.

"Saat seperti ini, neutransmitter di otak, seperti dopamine dan serotonin itu dalam kondisi tidak seimbang. Lobus frontal tidak bekerja. Akibatnya, stimulus bisa masuk ke otak, tapi remnya tidak ada," kata Natalia.

Keadaan ini, kata Natalia, bukan hal aneh dalam dunia kedokteran. Bahkan, studi gagasan Frederick K. Goodwin dan Kay Redfield Jamison (1990) menunjukkan bahwa 57 persen pengidap gangguan bipolar mengalami masalah seksual.

Situasi ini tentu bukan hanya menjadi masalah bagi pasien, tapi juga orang di sekitarnya. "Biasanya pasangan, suami atau istrinya, kecewa. Padahal mereka melakukan itu tanpa perasaan apa-apa. Banyak pasangan akhirnya bercerai," ucap Natalia.

Guna menghindari hal fatal, Natalia mengimbau orang terdekat untuk mengenali gejala bipolar pasien. "Salah satu yang paling terlihat ya perubahan perilaku drastis tadi. Bawa ke dokter, dirangkul. Kalau sudah sampai masalah hubungan pernikahan, lebih baik ke konseling," katanya.


Masalah Libido Memuncak dan Seks Bebas Pengidap Bipolar 
Sumber cnnindonesia/Ilustrasi (Getty Images/Thinkstock)