Inilah Sejarah Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia

Inilah Sejarah Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia
Agama Islam merupakan agama terbesar di dunia. Agama ini pada awalnya dibawa dan disebarluaskan oleh Nabi Muhammad SAW. Dari kota Mekah Arab Saudi, agama ini mulai berkembang untuk pertama kalinya. 

Setelah beberapa waktu hingga Islam tersebar ke seluruh dunia hingga kini, bisa dibilang Indonesia adalah satu dari sekian negara yang penduduknya beragama Islam, bahkan Indonesia merupakan penduduk dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia.

Awal mula masuk agama Islam ke Indonesia adalah dengan kegiatan perdagangan dan pelayaran yang dilakukan oleh bangsa Arab pada waktu itu. Saat awal perkembangan Islam di Indonesia, para pedangang itu mengajarkan ajaran Islam kepada masyarakat dengan tidak memaksa, sopan santun dan ramah. 


Hal ini membuat ajaran Islam cepat menyebar dikalangan masyarakat setempat, sehingga ajaran Islam masuk di lingkungan kerajaan-kerajaan pada waktu itu. Semua kerajaan pada waktu itu akhirnya berubah menjadi kerajaan-kerajaan Islam.


Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia


Saat kerajaan-kerajaan Islam mulai terbentuk, ajaran Islam pun semakin cepat penyebarannya di Indonesia. Adapun kerajaan-kerajaan Islam yang terbentuk pada waktu itu, antara lain sebagai berikut.


1. Kerajaan Islam Samudra Pasai

Kerajaan Islam Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini berdiri pada abad ke 13 dan didirikan oleh Sultan Malik al Saleh yang sekaligus menjadi raja pertama kerajaan ini. Letak geografis kerajaan ini berada di Aceh utara tepatnya di kabupaten Lokseumawe.

Pada tahun 1927 Sultan Makik al Saleh meninggal, kemudian untuk meneruskan pemerintahan yang sudah ada ditunjuklah putranya yang bernama Sultan Mahmud untuk menggantikan posisi Ayahnya sebagai raja. Selang 29 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1326 Sultah Mahmud juga meninggal. kemudian untuk meneruskan pemerintahan Kerajaan Islam Samudera Pasai ditunjuklah Sultan Ahmad untuk menggantikan posisi beliau. 


Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad, kerajaan Islam Samuderai Pasai mendapat kunjungan dari utusan Sultan Delhi, yaitu Ibnu Batuta. Beliau memberitahukan bahwa Samudra Pasai adalah bandar utama pelabuhan yang sangat penting. Sebab, di pelabuhan ini menjadi tempat segala aktifitas bongkar muat seluruh barang dagangan yang dibawa oleh para pedagang baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sehingga, hal ini tentu harus dimanfatkan oleh Samudra pasai untuk mendongkrak perekonomian pemerintahannya.


2.Kerajaan Islam Demak

Kerajaan Islam Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Kerajaan ini berdiri pada abad ke 15 dan didirikan oleh seseorang yang bernama Raden Patah. Beliau sebenarnya merupakan salah seorang Bupati di kerajaan Majapahit yang berada di Demak waktu itu dan sudah memeluk Islam. Pada waktu itu Kerajaan Majapahit sedang dalam kondisi terpuruk, hal ini mendorong seorang Raden Patah untuk mendirikan kerajaan Islam Demak. 


Akhirnya Raden Patah bisa mendirikan kerajaan Islam ini, dengan hal ini berarti membuat dia telah melepaskan diri dan terbebas dari belenggu kekuasaan Majapahit. Selain itu, hadirnya kerajaan Demak ini mendapatkan dukungan dari daerah di sekitar Jawa Timur yang sudah terlebih dahulu menganut agama Islam, seperti Gesik, Jepara dan Tuban.

Hanya dalam waktu singkat, kerajaan Demak sudah berkembang menjadi sebuah kerajaan besar yang banyak disegani. Selain itu, kerajaan Demak juga menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa. Apalagi sesudah Malaka jatuh berada di kekuasaan Portugis pada tahun 1511, maka peranan dan kedudukan Demak sangatlah penting dalam perkembangan agama Islam di Jawa.

Sultan Demak merasa tidak senang terhadap kedatangan penjajah Portugis pada waktu itu di Malaka, sebab hal ini juga merupakan ancaman terhadap kerajaan Demak secara tidak langsung. Pada tahun 1513 kerajaan Demak mulai melancarkan peperangan terhadap kaum penjajah portugis, dengan diawali mengirimkan armada dibawah pimpinan Pati Unus. Namun ternyata langkah pertamanya itu gagal, sebab Portugis memiliki armada yang jauh lebih kuat serta memiliki persenjataan yang lebih lengkap. Walaupun usaha pertama mengusir penajajah Portugis di Malaka mengalami kegagalan, akan tetapi peristiwa ini patut dibanggakan sebab mereka dengan gagah berani menghadapi para Penjajah walaupun dengan senjata seadanya.

Pati Unus pada waktu itu juga diberi gelar Pangeran Sabrang Lor yang mempunyai arti yaitu pangeran yang menyebrangi laut ke utara. Penghargaan itu ia dapat sebab keberaniannya sebagai panglima yang memimpin penyerangan ke Malaka.

Raden Patah meninggal Pada tahun 1518. Kemudian dia digantikan oleh putranya yang bernama Pati Unus. Namun pemerintahan kerajaan Demak di bawah Pati Unus hanya berlangsung selama 3 tahun, sebab sesudah itu beliau meninggal. Setelah meninggalnya Pati Unus, Kerajaan Demak dipimpin oleh adik Pati Unus yang bernama Sultan Trenggono.

Sultan Trenggono dikenal sebagai seorang raja yang arif, bijaksana dan tegas. Sebab akhlaknya yang disenangi semua orang serta mempunyai jiwa kepimpinan yang bagus, pemerintahan Demak pada waktu itu mengalami puncak kejayaan. Kekuasaan kerajaan Demak menyebar ke hampir semua daerah Jawa Timur bahkan sampai ke Jawa Barat.

Kerajaan Demak di bawah pemerintahan Sultan Trenggono tetap antipati dan memusuhi kepada penjajah Portugis. Apalagi saat itu Portugis terus meluaskan jajahannya sampai ke seluruh wilayah Indonesia. Pada tahun 1522 Portugis tiba di Sunda Kelapa yang merupakan pelabuhan utama kerajaan Pajajaran. Ketika itu Portugis menjalin kerja sama dengan Raja Pajajaran dengan membuat sebuah perjanjian dimana didalamnya kedua belah pihak akan bekerja sama dan menyerang kerajaan Islam Demak. Pada waktu itu Portugis berencana membangun sebuah benteng di Sunda Kelapa.

Pada tahun 1527 Kerajaan Islam Demak di bawah pimpinan Fatahillah mengirimkam tentara untuk memerangi dan menghancurkan Portugis yang menguasai Sunda kelapa. Akhirnya setelah terjadi pertarungan hebat, Fatahillah bersama pasukannya berhasil mengusir penjajh dari Sunda kelapa. Selanjutnya, Fatahillah mngganti nama Sunda kelapa menjadi Jayakarta yang berarti Kemenangan. Seiring berjalannya waktu, Jayakarta berubah mnenjadi Jakarta yang merupakan Ibukota Indonesia.

Selain berhasil menaklukkan Sunda Kelapa, kerajaan Demak juga berhasil menguasi seluruh Jawa timur pada waktu itu. Penaklukkan Jawa timur ini dipimpin langsung oleh Sultan Trenggono, akan tetapi pada tahun 1546 dalam peperangan di Pasuruan, Sultan Trenggono meninggal.

Setelah meninggalnya Sultan Trenggono, terjadi konflik di keluarga kerajaan sendiri, konflik itu terjadi tentang siapa yang berhak meneruskan kekuasaan dan menjadi raja. Kerajaan Islam Demak berakhir seteah Pangeran Adiwijoyo atau lebih dikenal dengan Joko Tingkir berhasil mengalahkan Arya Penangsang yang suka bertindak sesuka hati dia, sehingga banyak orang yang menentang tindakannya itu. Akhirnya pangeran Adiwijoyo memindahkan keraton Demak ke pajang. Dengan perpindahan ini pula berakhirlah riwayat kerajaan Demak pada tahun 1568.


3. Kerajaan Islam Pajang

Kerajaan Islam Pajang berdiri pada tahun 1586, pendirinya adalah Sultan Adiwijoyo atau yang sering dikenal Joko Tingkir. Dia berhasil mengalahkan Raja Demak pada waktu itu yaitu Arya Penangsang. Setelah berhasil mengalahkan Arya Penangsang, kemudia dia memindahkan pusat kerajaan dari Demak Menuju Pajang. Jadi, kerajaan Islam Pajang sebenanrya erat sekali kaitannya dengan Kerajaan Demak.

Seorang Joko Tingkir atau Sultan Adiwijoyo merupakan seorang yang suka menghargai pengikut atau pendukung yang turut bertempur bersamanya ketika melawan Arya Penangsang. Mereka yang sudah berjasa dan melakukan banyak pengorbanan oleh Sultan Adiwijoyo diberi penghargaan. Ada dua orang yang dinilai sangat berjasa yaitu Kiai Panjawi yang diberi tanah di daerah pati. Sedangkan Ki Ageng Pemanahan diberi tanah di daerah Mataram. Selain itu mereka juga diangkat menjadi bupati oleh sultan Adiwijoyo di daerahnya masing-masing.

Kiai Ageng Pemanahan yang menjadi Bupati Mataram memiliki seorang putra yang bernama Sutowijoyo, dia mempunyai kemampuan di bidang kemiliteran. Sutowijoyo sendiri lebih dikenal dengan sebutan Senapti Ing Alaga (Sang panglimahan Perang). Pada tahun 1575 Kiai Ageng Pemanahan meninggal, setelah itu pemerintahan diteruskan oleh putranya yaitu Sutowijoyo.

Dalam perkembangannya, kerajaan Islam di Pajang mengalami pergolakan hebat. Sesudah Sultan Adiwijoyo meninggal pada tahun 1582, maka Arya Pangiri anak dari Sunan Prawoto dari demak mencoba menggulingkan kekuasaan pangeran Benowo yang saat itu menjadi Raja menggantikan ayahnya yaitu Sultan Adiwijoyo. 


Dalam menghadapi Arya Pangiri, Pangeran Benowo meminta bantuan kepada kepada Sutowijoyo, sehingga percobaan penggulingan kekuasaan yang dilakukan oleh Arya Pangiri tidak berhasil sama sekali. Selanjutnya Pangeran Benowo menyerahkan kekuasaan kerajaan Pajang Sutowijoyo yang tak lain adalah saudara angkatnya karena dia merasa tidak mampu lagi melanjutkan pemerintahan. 


Akhirnya Sutowijoyo memindahkan pusat pemerintahan Pajang ke mataram. Dengan perpindahan pusat pemerintahan itu, maka berakhirlah kerajaan Pajang.


4. Kerajaan Islam Mataram

Kerajaan Islam Mataram berdiri pada tahun 1586, pendirinya adalah Sutowijoyo yang mempunyai gelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Pantagama. Posisi kerajaan ini berada di Kotagede, sebelah tenggara kota Yogyakarta. Saat memerintah di Kerajaan Mataram, banyak Bupati yang ingin membebaskan diri dari kekuasannya. 

Salah satu Bupati yang ingin membebaskan diri dari kekuasaannya adalah Bupati Cirebon, Galuh, Madiun, Kediri, Ponorogo, Madiun dan Surabaya. Akan tetapi usaha mereka membebaskan diri tidak berhasil sama sekali karena Sutowijoyo dikenal hebat mempunyai keahlian di bidang kemiliteran. Sutowijoyo akhirnya berhasil mengatasi segala pemberontakan yang ada.

Sutowijoyo meninggal pada tahun 19601. Kemudian dia dimakamkan di Kotagede. Walaupun demikian, banyak yang menilai dia berhasil meletakkan pondasi yang kokoh bagi Kerajaan Mataram saat itu. Setelah Sutowijoyo meninggal, Kemudian Kerajaan Mataram dipimpin oleh Mas Jolang yang mempunyai gelar Penembahan Seda ing Krapyak.

Di awal pemerintahan terjadi lagi pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh Ponorogo dan Demak. Namun Mas Jolang masih bisa menghentikan pemberontakan tersebut. Nampaknya pemberontakan masih berlanjut. Pada tahun 1612 SUrabaya melakukan pemberontakan. Sementara upaya menghentikan pemberontakan terus terjadi dan belum bisa dihentikan. Akhirnya Mas Jolang meninggal. Kemudian dia dimakamkan di Kotagede.

Mas Jolang digantikan oleh seseorang yang bernama Adipati Martapura. Namun penggantinya ini tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik karena kondisi fisiknya yang lemah. Kemudian agar pemerintahan tetap berlangsung, Adipati Martapura akhirnya digantikan oleh Mas Rangsang. Penggantian pemimpin ini sangat tepat, karena Mas Rangsang bisa membawa Kerajaan Mataram menuju puncak kejayaan. Saat itu Kerajaan Mataram merupakan kerajaan terhormat dan sangat disegani oleh kerajaan-kerajaan lain yang ada di pulau Jawa maupun luar Jawa.

Selain seorang pemimpin yang hebat, Mas Rangsang juga merupakan seorang Sastrawan yang sudah sudah menulis buku berjudul Sastra Gending. Saat itu kesenian wayang berkembang pusat dan merupakan kesenian yang sangat digemari oleh rakyat. Pada tahun 1633, pemerintahan Mas Rangsang menetapkan perhitungan tahun Islam. Oleh karena itu, Mas Rangsang yang merupakan seorang raja lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung.

5. Kerajaan Islam Cirebon

kerajaan Islam Cirebon bediri pada tahun 1522. Kerajaan ini didirikan oleh Fatahillah yang sekaligus menjadi raja pertamanya. Di bawah pemerintahan Fatahillah, Kerajaan Islam Cirebon mencapai puncak kejayaannya. Dia sangat berjasa dalam mengislamkan daerah jawa Barat. Selain itu, Kerajaan Islam Cirebon juga mempunyai hubungan yang baik dengan Kerajaan Islam Mataram.

Fatahillah meninggal pada tahun 1570. Kemudian dia digantikan oleh Pangeran Pasarean yang merupakan putranya. Dalam perkembangannya, Kerajaan Islam Cirebon pada tahun 1679 dibagi menjadi dua, yakni Kanoman dan Kasepuhan.

Pada masa itu keudukan VOC Belanda di Batavia semakin kuat sehingga ingin meluaskan kekuasaannya sampai ke Cirebon. Mereka kemudian mengatur strategi dengan menerapkan politik adu domba atau yang sering biasa disebut Devide et Impera. Strategi ini bertujuan untuk memecah belah kekuatan Kerajaan Islam Cirebon. Saat itu Kerajaan Islam Cirebon yang sudah terbagi menjadi dua kemudia dipecah lagi menjadi tiga. Yakni, Kanoman, Kasepuhan dan Kacirebonan.

Akibat semakin terpecahnya Kerajaan Islam Cirebon ini membuat kekuatannya semakin lemah. Hal ini dimanfaatkan oleh Belanda VOC yang akhirnya melakukan penyerangan sehingga pada abad ke-17, Kerajaan Islam Cirebon berhasil diduduki oleh Belanda VOC.
6. Kerajaan Islam Banten

kerajaan Islam Banten bediri pada tahun 1522. Kerajaan ini didirikan oleh seseorang yang bernama Hasanuddin. Dia menjadi seorang raja setelah mendapat perintah dari ayahnya yaitu Fatahillah. Raja fatahillah ini pada awalnya menguasai daerah Banten, Cirebon dan Sunda Kelapa.

Hasanuddin mewarisi sifat ayahnya yang gemar menyebarluaskan ajaran Islam. Saat itu Kerajaan Pakuan Pajajaran masih mempercayai agama Hindu. Di bawah pemerintahan Hasanuddin, Kerajaan Islam Banten makin hari makin besar pengaruhnya. 


Di sisi lain Kerajaan Pakuan makin lemah kedudukannya. Walaupun demikian, Hasanuddin tidak memanfaatkan keadaan itu untuk menyerang Kerajaan Pakuan Pajajaran. Hasanuddin kemudian meluaskan pengaruhnya sampai ke lampung. Bahkan dia akhirnya menikah dengan Putri Sultan Indrapura. Kemudian oleh mertuanya Hasanuddin diberi hadiah tanah di wilayah Selabar.

Kemudian Hasanuddin meninggal dan digantikan oleh putranya yaitu Pangeran Yusuf. Di bawah pemerintahan Pangeran Yusuf, kekuasaan Kerajaan Islam Banten makin menyebar hingga pada tahun 1579 bisa menaklukan Kerajaan Pakuan Pajajaran. Akhirnya pangeran Yusuf meninggal pada tahun 1580

Selanjutnya yang menggantikan Pangeran Yusuf untuk memimpin kerajaan Islam Banten adalah Maulana Muhammad. Pada masa pemerintahan Maulana Muhammad, pada tahun 1596 mencoba meluaskan daerah kekuasaannya dengan mencoba merebut wilayah Palembang yang saat itu merupakan saingan utama Banten dalam hal perdagangan. Ketika itu Palembang dipimpin oleh ki Gede ing Suro yang berasal dari Surabaya. Dalam pertempurannya, Palembang hampir jatuh ke dalam kekuasaan Maulana Muhammad. Namun karena Maulana Muhammad meninggal di tengah pertempuran, akhirnya serangan dihentikan dan pasukan Banten ditarik mundur kembali ke Kerajaan Banten.

Sepeninggalnya Maulana Muhammad, timbul persoalan di kalangan Kerajaan tentang siapa yang harus menggantikan Maulana Muhammad. Saat itu yang seharusnya menggantikan adalah putranya yang bernama Abdul Mufakkkir. Namun pada waktu itu dia masih bayi yang berumur 5 bulan. Sehingga untuk mengisi kekosongan pemimpin, maka pemerintahan waktu itu dipimpin oleh seorang Mangkubumi.

Dalam perjalanannya, muncul orang hebat yang bernama Pangeran Ranamenggala. Dia mendampingi Abdul Mufakkir yang belum dewasa mengendalikan pemerintahan Kerajaan Islam Banten. Pada tahun 1624 Pangeran Ranamenggala meninggal dunia.

Puncak kejayaan Kerajaan Islam Banten terjadi sekitar tahun 1600 Masehi. Ketika itu Banten adalah bandar pelabuhan terbesar yang ada di pulau Jawa. Banyak para pedagang dari dalam maupun luar pulau Jawa yang singgah untuk menjual maupun membeli cengkeh, lada dan pala.

Awal kemunduran Kerajaan Islam Banten terjadi saat masa pemerintahan Sultan Abdul Mufakkir. Saat itu Belanda terus melakukan blokade dan pengepungan yang berakibat menyempitnya ruang gerak Kerajaan Islam Banten. Meskpiun begitu, semangat rakyat Banten yang tidak mau ingin dijajah tetap menyala.
7. Kerajaan Islam Ternate dan Tidore

Pada abad ke 13 di Maluku telah berdiri beberapa kerjaan seperti Bacan, Obi, dan yang paling terkenal adalah Kerajaan Islam Ternate dan Tidore. Penyebab Kerajaan Islam Ternate dan Tidore lebih maju adalah karena dua kerajaan ini memiliki hasil rempah-rempah yang begitu melimpah terutama cengkeh. Tak sedikit pedagang yang datang dari berbagai penjuru di Indonesia berlayar ke Ternate. Para pedagang ini membawa barang-barang dagangan seperti beras, pakaian, dan yang lainnya untuk ditukarkan dengan rempah-rempah.

Agama Islam mulai berkembang pesat di Ternate pada abad ke 14. Dahulu Ternate bukan merupakan kerajaan Islam, akan tetapi saat dipimpin oleh Sultan Harun kerjaan ini mulai berubah menjadi kerajaan Islam. Selanjutnya orang-orang Portugis mulai berdatangan ke Maluku untuk berdagang. 


Namun dalam aktifitasnya orang-orang Portugis ini sering membuat onar seperti bertindak sewenang-wenang, mencampuri urusan pemerintahan waktu itu dan sering melakukan monopoli secara paksa. Akibatnya, sering terjadi peperangan antara orang-orang Portugis dengan penduduk asli Maluku. Untuk mengakhiri peperangan ini, pada tahun 1570 akhirnya Sultan Ternate dengan Portugis membuat suatu perjanjian damai. Namun ternyata Portugis menipu Sultan Harun dan melanggar perjanjian itu. Akhirnya Sultan Harun meninggal karena dibunuh oleh orang Portugis.

Setelah Sultan Harun meninggal, kemudian dia digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Baabullah. Peristiwa meninggal Sultan harun yang disebabkan pengkhianatan bangsa Portugis menimbulkan kemarahan dari Sultan Baabaullah dan rakyat Maluku. Saat itu Sultan Baabullah bersumpah akan membalas kematian ayahnya dengan cara menghabisi bangsa portugis di bumi Maluku. Dengan tekad yang kuat dan semangat yang berapi-api, Sultan Baabullah memimpin pasukannya bertempur memerangi bangsa Portugis. 


Peperangan ini terjadi selama 4 tahun yakni dari tahun 1570 – 1574. Akhirnya setelah bertempur mati-matian, Sultan Baabullah dan pasukannya berhasil menguasai benteng Portugis. Bangsa Portugis waktu itu yang masih hidup menyerah dan diusir dari bumi Maluku. Sejak saat itu, wilayah Maluku utara khususnya Tenate bersih dan tak ada gangguan lagi dari orang-orang Portugis. Pada masa itu pula Kerajaan Islam Ternate mencapai puncak kejayaannya.

Sementara itu Kerajaan Tidore juga mengalami perkembangan yang pesat. Dahulunya Ternate juga bukan merupakan Kerajaan Islam, namun dalam perjalannya akhirnya berubah menjadi Kerajaan Islam Tidore seperti halnya Ternate. Awal mulanya dua kerajaan ini hidup berdampingan dengan damai dan saling menghormati satu sama lain. Namun oleh bangsa Spanyol dan Portugis dua kerajaan ini saling diadu domba sehingga nyaris terjadi peperangan antata keduanya. Tetapi hal ini tidak sampai terjadi, yang ada kedua kerajaan ini bersatu dan saling bekerja sama dalam menghadi bangsa Portugis dan Spanyol.
8. Kerajaan Islam di Makassar

Di Sulawesi Selatan tepatnya pada abad ke 16, sudah berdiri beberapa kerajaan seperti Luwu, Soppeng, Waju dan Bone. Adapun dalam perkembangannya, Kerajaan Tallo dan Gowa mengalami kemajuan yang begitu pesat dibanding dengan kerajaan yang lainnya. Hal ini disebabkan karena posisi kerajaan ini sangat strategis dan sangat menguntungkan yaitu posisinya berada di tengah-tengah lalu lintas perlayaran antara Maluku dan Malaka. Kedua Kerajaan yakbi Tello dan Gowa yang rajanya sudah memeluk agama Islam membuat kesepakatan akan menyatukan kedua kerajaan mereka menjadi satu kerajaan yakni menjadi Kerajaan Islam Makassar. Kerajaan ini mempunyai raja yang bernama Sultan Alauddin. Raja Gowa bernama Daeng Manrabia. Raja Tallo bernama Karaeng Matoaya. Sedangkan yang menjadi Mangkubumi adalah Sultan Abdullah.

Selain memimpin pemerintahan pada waktu itu, raja dan mangkubumi Kerajaan Islam Makassar tersebut sangat rajin dalam menyebarkan ajaran Islam. Berkat kegigihannya itu, Makassar menjadi sebuah Kerajaan Islam yang sangat kuat dan disegani. Wilayah kekuasaannya juga bukan hanya meliputi daerah Sulawesi dan pulau-pulau disekitarnya saja, melainkan sampai ke wilayah Nusa Tenggara bagian timur.

Di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin yang berkuasa dari tahun 1654-1669, Kerajaan Islam Makassar mencapai puncak kejayaan. Dia merupakan cucu dari pendiri Kerajaan Islam Makassar yakni Sultan Alauddin. Sultan Hasanuddin terkenal sangat berani melawan penjajahan Belanda. Pada waktu itu Belanda dengan VOC-nya meminta kepada Sultan Hasanuddin agar rakyatnya tidak melakukan aktifitas perdagangan di Maluku. Namun saat itu Sultan Hasanuddin dengan tegas menolak permintaan tersebut.

Belanda dengan segala upaya ingin menaklukkan Sultan Hasanuddin. Saat itu sedang terjadi perselisihan antara Sultan Hasanuddin dengan Raja Bone, Soppeng dan Aru Palaka. Kondisi ini dimanfaatkan oleh Belanda dengan membuat politik adu domba antara mereka. Dalam strateginya Belanda memihak kepada pihak Aru Palaka dan bekerja sama melawan Sultan Hasanuddin. Selanjutnya terjadilah peperangan hebat yang terjadi pada tahun 1666-1669 yang terjadi antara Sultan Hasanuddin dan Malaka dengan pihak Belanda (VOC) yang bekerja sama dengan Aru Palaka. Saat itu Makassar hampr bisa direbut oleh Belanda. Sultan Hasanuddin terdesak, akhirnya dia bersedia membuat perjanjian damai yang dikenal sebagai perjanjian Bongaya pada tahun 1667.

Meskipun perjanjian itu sudah disepakati, akan tetapi Belanda melanggar perjanjian itu. Belanda bertindak sewenang-wenang dan berbuat dzhalim. Hal ini membangkitkan kembali kemarahan Sultan Hasanuddin. Akhirnya Sultan Hasanuddin kembali memerangi Belanda.

Dalam pertempuran kali ini Sultan Hasanuddin mendapat serangan hebat dari pasukan Belanda, hingga pada tahun 1669 Sultan Hasanuddin terpaksa menyerah sampai Belanda akhirnya bisa menguasai Makassar. Walaupun begitu rakyat Makassar tetap menyimpan semangat anti penajajahan. Oleh karena itu banyak diantara mereka yang pergi meninggalkan Makassar dan merantau pergi ke Banten, Madura dan yang lainnnya untuk membantu daerah yang masih berperang memerangi Belanda.