Mahasiswa Ini Kuliah Gratis ke Jepang

Mahasiswa Ini Kuliah Gratis ke Jepang
Sebanyak 50 pelajar Indonesia menerima beasiswa Monbukagakusho dan siap berangkat ke Negeri Sakura. Dari jumlah ini, 35 orang mengambil program Research Student (S-2 dan S-3), 3 orang dari program S-1, dan 12 orang akan menempuh pendidikan Diploma.

Tampil rapi dengan setelan kemeja batik bercorak hijau dan celana sepan, lelaki ini berdiri tegak di depan podium. Dia mewakili 50 penerima beasiswa dari Monbukagakusho, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jepang (MEXT).




"Kami berterima kasih telah diberi kesempatan untuk mengeksplorasi pengetahuan di Jepang," kata lelaki bernama lengkap R Yusrifar Kharisma Tirta itu, Kamis (31/3/2016), di Kedutaan Besar Jepang, Jakarta, Kamis (31/3/2016).




Sambutan itu disampaikan dalam upacara pemberangkatan penerima beasiswa Monbukagakusho. Yuyus, panggilan Yusrifar, adalah salah satu penerima beasiswa master (S-2) yang akan menyusul 700 pelajar Indonesia yang telah lebih dulu berangkat ke Jepang pada tahun ini.




Setiap tahun, Kedutaan Besar Jepang memang membuka pendaftaran beasiswa untuk program D-2, D-3, S-1, S-2, dan S-3. Jurusan yang ditawarkan beragam pula, mulai dari sains sampai bahasa.




"Saya sudah tahu beasiswa ini sebenarnya dari SMA, kebetulan ada kakak kelas juga yang keterima beasiswa jadi saya termotivasi," ungkap Yuyus.




Pria yang menamatkan program sarjana jurusan Biologi pada 2014 ini sebelumnya sudah berkarier sebagai peneliti di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Namun, keinginan melanjutkan studi ke Jepang tak terbendung lagi sehingga ia lebih memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk belajar ke Negeri Matahari Terbit.




"Persiapannya cukup lama, hampir satu tahun. Enam bulan untuk mengumpulkan dokumen sekaligus les bahasa Jepang, enam bulan lagi proses seleksi," tutur Yuyus.




Untuk mewujudkan keinginannya belajar ke Jepang, sejumlah tahapan seleksi harus Yuyus lewati. Tahapan itu dimulai dari skrining dokumen, ujian tertulis, lalu wawancara. Khusus pelamar program S-2 dan S-3, Letter of Acceptance (LOA) dari universitas tujuan wajib dikantongi sebelum menerima beasiswa.




"Umumnya, kalau kita sudah mendapat supervisor (dosen dari universitas tujuan) ditambah bukti otentik yaitu LOA itu, akan sangat membantu kita saat diwawancara nanti," kata Yuyus.




Yuyus mengatakan, kandidat akan diuji kemantapannya saat wawancara. "Kalau sudah punya supervisor berarti kita sudah tahu betul apa yang akan kita lakukan di sana," ujar dia.




Cari "guru"




Proses pencarian supervisor, diakui Yuyus, cukup menantang. Dia harus mencari dosen setingkat profesor yang tidak hanya berlatar pendidikan sama tetapi juga memiliki kesamaan minat.




"Kebetulan saya tertarik di bidang biologi kelautan tapi arahnya ke genetika atau molecular biology. Kebetulan supervisor di sana ternyata tema risetnya memang kelautan tapi sudah mulai masuk ke ranah teknologi biologi molekuler," tutur Yuyus.




Yuyus pun mengaku dia ingin mendalami dua ilmu tersebut dalam satu kali belajar. Pemikiran ini mulai mencuat saat dia merenungkan kontribusi yang dapat dia berikan kepada Indonesia dan Jepang.




"Di Indonesia sendiri kita punya biodiversitas sumber daya alam tapi belum banyak dieksplorasi, sedangkan Jepang punya teknologi canggih tetapi (semua sumber daya alamnya) hampir semua sudah dieksplor," ungkap dia.




Karena itu, lanjut Yuyus, Jepang membutuhkan subjek penelitian baru. "Jadi saya mencari cara bagaimana supaya bisa meneliti subjek Indonesia tapi di sana (dilakukan di Jepang) dengan teknologi dan expert yang sudah ada. Beliau (supervisor) sangat excited dengan hal itu," lanjut Yuyus.




Sepulang studi nanti, Yuyun pun sudah menyiapkan rencana untuk meneruskan minat menjadi peneliti. "Indonesia masih membutuhkan banyak peneliti. Saat ini kita masih kekurangan. Jadi saya ingin kembali untuk berkontribusi sebagai peneliti," tutur Yuyus.




Dalam kesempatan sama, Wakil Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Kozo Honsei, berharap para penerima beasiswa ini bisa membangun kerja sama dengan perusahaan-perusahaan Jepang setelah lulus dan kembali ke Tanah Air. Dengan begitu, kolaborasi dua negara akan makin lincah.




"Kami berharap program beasiswa ini bisa meningkatkan hubungan antara Indonesia dan Jepang," ucap Kozo.

Penulis : Adhis Anggiany Putri S

Editor : Palupi Annisa Auliani