Mengenang Betapa Sulitnya Menyusun Pancasila, Kini Kau Tega Merusaknya

Mengenang Betapa Sulitnya Menyusun Pancasila, Kini Kau Tega Merusaknya
Siang  ini mencoba browsing berbagai isi lengkap pidato Bung Karno 1 Juni 1945 yang disampaikan saat berlangsung sidang BPUPKI 1 Juni 1945.

Pidato Bung Karno inipula yang dijadikan dasar untuk diperingatinya hari Lahirnya Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni.

Mendengarkan kata demi kalimat yang disampaikan Bung Karno tersebut, entah kenapa saya benar-benar merasa merinding dibuatnya.

Saya juga langsung membayangkan suasana saat itu, dimana saat itu kondisi bangsa ini masih dijajah.

Saat kondisi belum merdeka, tentunya tekanan, ancaman, bisa saja terjadi kapanpun dan tidak ada yang bisa menjamin keselamatan atas setiap orang, termasuk mereka para pejuang yang sedang mengikuti rapat BPUPKI.

BPUPKI [Badan Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia], saat itu berlangsung sejak 29 Mei - 1 Juni 1945, yang diketuai oleh Dr KRT Radjiman Wedyodiningrat.

Inti dari sidang yang ebrlangsung selama tiga hari tersebut yaitu untuk menemukan jawaban atas pertanyaan Dr Radjiman, yaitu sebuah pertanyaan berbunyi, “Indonesia merdeka yang akan kita dirikan nanti, dasarnya apa?”

Dari banyaknya gagasan, maka yang paling bersejarah adalah gagasan Bung Karno yang disampaikan melalui pidato yang kemudian saat ini kita kenal menjadi tonggak sejarah lahirnya pancasila.

Kalau saya memahami secara keseluruhan bunyi pidato Bung Karno tersebut, saya memahami jika inti dalam pidato Bung Karno tersebut memang bisa disimpulkan melalui bunyi dari 5 sila yang sekarang seharusnya kita hafal di luar kepala kita yaitu,
  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Dalam pidato Bung Karno saat itu tentunya tidak langsung berbunyi serapi dan peris dengan 5 pasal diatas.

Karena pidatonya sendiri memang lebih seperti penjabaran dari kelima sila tersebut diatas, yang kemudian diolah dan disimpulkan dengan bahasa yang simple diatas.

Pesan yang sangat dalam dari pidato Bung Karno saat itu adalah, dirinya sangat menginginkan bahwa negara yang dibangun adalah negara yang menyatukan dari ujung Sumatera hingga ujung Irian.

Bung Karno juga menegaskan bahwa kemerdekan Indonesia dibuat bukan untuk satu orang, satu kelompok, satu agama, tapi untuk seluruh rakyat Indonesia.

Bung Karno juga sempat menyebut dan mencontohkan dalam pidatonya tersebut seperti kejayaan Sriwijaya dan Majapahit.

Singkatnya, Bung Karno saat itu menginginkan negara kita adalah negara yang bersatu dan menjadi satu kesatuan walau dari berbagai suku, agama, etnis, dan berbagai perbedaan lainya.

Bung Karno sangat menyadari bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia direbut dan diperjuangkan oleh seluruh rakyat Indonesia tanpa melihat perbedaan yang ada. Tidak tanggung-tanggung, pengorbananya juga tak terhitung jumlahnya, mulai dari ahrta benda dan ribuan nyawa pejuang kita.

Namun sayangnya, kini, saat kita merdeka berpuluh-puluh tahun lamanya, ternyata ada sekelompok atau beberapa orang yang dengan tega justru ingin memecah belah kita, bangsa Indonesia!

Sungguh sebuah kondisi yang sangat tidak bisa diterima dengan akal fikir kita.

Mereka tak pernah ikut berjuang melawan penjajah apalagi bertaruh nyawa untuk kemerdekaan ini, namun mereka justru tiba-tiba ingin merusak dan menghancurkan pancasila.

Yang saya maksud mereka para penghancur pancasila, adalah mereka yang saat ini tetap masih sibuk saling hujat dan saling cela di sosial media. Mereka yang saat ini masih suka memaksakan kehendak demi keuntungan segelintir orang dan kelompok mereka saja, mereka yang saat ini merasa paling benar dan kemudian menghina yang lainya.

Mereka-mereka apra pejabat negara yang jauh dari ammanat isi 5 sila diatas juga menurut saya adalah para penghancur pancasila.

Mereka itu bisa pejabat yang korupsi, pejabat yang malas, dan berbagai perbuatan buruk lainya.

Mereka-mereka itulah menurut saya para penghancur pancasila.

Jika memang tidak ingin disebut sebagai penghancur pancasila, tunjukanlah dengan moral dan akhlaq kita.

Khusus untuk netizen, jangan mudah memecah belah antar sesama walau hanya di sosial media. Harusnya jadikanlah sosial media untuk menyatukan berbagai perbedaan dan gunakanlah untuk mempersatukan kita sebagai bangsa Indonesia.

Apalagi khusus untuk yang muslim, saat ini sedang berpuasa, yuk hentikanlah cerewet di sosial media untuk menghina dan mencela sesama manusia.

Lebih baik lakukan hal yang positif dan sebarkanlah kebaikan melalui sosial media agar puasa kita lebih bermakna.

Selamat Hari Lahirnya Pancasila, 1 Juni 2017