INGAT! Berlalu Satu Hari Berlalu Pula Sebagian Dari Hidupmu


INGAT! Berlalu Satu Hari Berlalu Pula Sebagian Dari Hidupmu |   Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam terlimpah kepada Rasulullah ­-Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Waktu adalah kehidupan. Umur manusia terdiri dari kumpulan hari. Jika berlalu satu hari berarti telah berlalu pula bagian dari umurnya. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,

يَا ابْنَ آدَمَ, إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ, إِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ


"Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah (kumpulan) hari-hari, apabila berlalu satu hari maka berlalu pula bagian darimu." (Al Hilyah: 2/148 dan dalam Siyar A'lam Nubala: 4/585).
Al-Hasan juga pernah berkata, "Tidaklah ada satu hari dari hari-hari dunia kecuali ia berbicara dan berkata: Wahai manusia, sesungguhnya aku ini hari baru. Aku menjadi saksi atas apa yang engkau kerjakann padaku. Sesungguhnya jika matahariku telah terbenam, maka aku tidak akan kembali lagi kepadamu sampai hari kiamat." (dikeluarkan Imam Ahmad)


Ibnu Mas'ud radliyallah 'anhu berkata, "Sesuatu yang aku sesali adalah jika dari pagi hari sampai matahari tenggelam amalku tidak bertambah sedikitpun padahal aku tahu saat itu umurku berkurang."
Hari terdiri dari jam dan menit. Setiap orang haruslah memikirkan, untuk apa waktunya dihabiskan?


Islam sangat memperhatikan perputaran waktu dan pergantian hari, khususnya untuk beramal shalih. Islam sangat menganjurkan untuk memanfaatkan waktu dan tidak menyia-nyiakannya. Di akhirat manusia akan ditanya tentangnya. Dari Abu Barzah al-Aslami Radhiyallahu 'Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Tidak akan bergeser telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga ditanya empat perkara: tentang umurnya dihabiskan untuk apa, usia mudanya digunakan untuk apa, hartanya darimana didapatkan dan kemana ia peruntukkan, dan tentang ilmunya apa yang sudah ia amalkan." (HR. Al-Tirmidzi)

Islam telah mengatur waktu seorang muslim. Kapan ia tidur dan bangun, mengerjakan syi'ar-syi'ar Islam, pergi ke tempat kerja, dan sebagainya. Terlebih dari itu, Islam mengarahkan agar ia menjadikan semua itu sebagai ibadah kepada Allah 'Azza wa Jalla. Ia tidak melanggar batasan-batasan Allah dan menerjang larangan-Nya. Ia senantiasa mengisinya dengan kebaikan-kebaikan dan mengirinya dengan dzikrullah (mengingat Allah) Subhanahu wa Ta'ala.

Memperhatikan waktu berarti tidak menyia-nyiakan kesempatan beramal, saat ia datang. Karena menunda-nunda kebaikan yang sudah ada di depan mata akan menyebabkan penyesalan di kemudian hari.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

 وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

"Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?"." (QS. Al-Munafikun: 10)


Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Setiap yang menyia-nyiakan kesempatan beramal shalih akan menyesal ketika datang kematian. Ia meminta dipanjangkan waktu walau sebentar untuk bertaubat dan mendapatkan kembali apa yang telah luput darinya. Tidak mungkin bisa, yang lalu telah berlalu, telah datang apa yang harus datang. Dan setiap orang menyesal sesuai dengan penyia-nyiannya."


Diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi, dari Ibnu Abbas rahimahullah, "barangsiapa yang memiliki harta yang sudah bisa menyampaikannya untuk berhaji ke Baitullah atau mewajibkannya zakat, tapi tidak melaksanakannya, ia akan minta raj'ah (dikembalikan lagi ke dunia) ketika sudah mati." Ada seorang berkata, "wahai Ibnu Abbas bertakwalah kepada Allah! sesungguhnya yang minta dikembalikan lagi ke dunia adalah orang kafir." Ibnu Abbas berkata, "aku akan bacakan kepadamu ayat Al Qur'an tentang hal itu." Kemudian beliau membaca ayat di atas.
. . . Hari terdiri dari jam dan menit. Setiap orang haruslah memikirkan, untuk apa waktunya dihabiskan? . . .
Penutup
Baru saja kita berpisah dengan Tahun 1433 Hijriyah. Bahkan sekarang sudah berlalu beberapa hari dari tahun yang baru, 1434 Hijriyah. Semua hari-hari pada tahun yang telah lalu sudah ada catatannya dan kelak kita akan ditanya tentangnya. Sedangkan hari-hari yang akan datang -dari tahun yang baru- kita tidak tahu apakah bisa melampuinya. Maka manfaatkan hari yang kita ada padanya. Jangan disia-siakan. Karena kepergiannya tidak akan pernah kembali. Sementara catatan amal pada hari tersebut tersimpan baik dalam catatan yang tak akan lapuk.


Rabi'ah pernah berkata kepada Sufyan, "Sesungguhnya kamu adalah kumpulan dari beberapa hari. Maka jika berlalu satu harimu berarti telah berlalu sebagian dari dirimu. Aku merasa, jika berlalu sabagiannya maka akan pergi pula keseluruhannya. Maka kapan saja engkau mengetahui (hakikat) ini maka beramalah."   
Sekali lagi, jangan sia-siakan waktu dengan berleha-leha karena kaki kita belumlah menapak di surga. Setiap detik yang berlalu dari kehidupan kita akan dilakukan perhitungan terhadapnya di sisi Allah.


أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ


"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) Arasy yang mulia." (QS. Al Mukminun: 115-116) [PurWD/voa-islam.com]