Lewat Internet Menggenggam Dunia

Lewat Internet Menggenggam Dunia
Diana Rikasari, yang kini dikenal sebagai salah seorang fashion blogger ternama di Tanah Air, awalnya hanya iseng membuat blog. Diana, panggilannya, mulai menulis blog pada awal tahun 2007, mengikuti jejak teman-temannya. Namun, kini produknya telah menembus pasar internasional.

Sekarang memang makin mudah mengoneksikan diri dengan dunia ini. Hanya dibutuhkan sebuah komputer jinjing dengan modem, atau bahkan dengan sebuah telepon cerdas, dunia ibaratnya dalam genggaman.

Diana, contohnya, memanfaatkan internet dengan menulis apa saja di blognya. ”Karena saya suka fashion, maka saya cerita hari ini pakai baju apa, barang yang lagi pengin dibeli apa. Eh, ternyata banyak yang suka dengan foto-foto dan outfit saya. Jadinya keterusan dan lebih mengarah ke fashion,” kata Diana.

Berawal dari keisengan belaka, Diana akhirnya kian populer di dunia maya dan fashion.

Suatu hari, sebuah majalah fashion remaja bahkan menulis tentang blog Diana dalam artikel ”Rated: Stylish”. Sejak itulah banyak merek tertarik menjalin kerja sama dengan Diana.

”Aku pernah kolaborasi dengan Wondershoe, Bloop Endorse, terus diajak jadi fashion stylist Go Girl (majalah) dan film Queen Bee. Mereka mendekati aku karena suka gayaku,” kata Diana.

Berbekal kolaborasi dengan sejumlah merek, ditambah kecintaannya pada fashion, akhirnya Diana meluncurkan sepatu dengan merek UP. ”Pasar utama Indonesia, diikuti Malaysia, Singapura, Filipina, dan Amerika Serikat. Aku ingin bisa kuat di pasar internasional agar Indonesia lebih dihargai secara global,” harapnya. UP anti- plagiarisme dan cenderung membentuk tren.

Kemajuan teknologi juga ikut membesarkan komikus asal Tulungagung, Jawa Timur, Ardian Syaf. Aan, panggilannya, adalah komikus pada penerbit komik terkenal Amerika Serikat, DC Comics. Sebagai penciler, Aan menggarap sosok-sosok superhero seperti Batman, Superman, Batgirl, dan Green Latern.

Karier Aan di industri komik internasional dimulai tahun 2004. Ketika itu, Aan melamar melalui situs digitalwebbing.com—sebuah situs internasional yang menjadi forum komikus dunia—untuk mendapat proyek komik di sejumlah negara.

”Waktu itu saya belum melek internet. Saya minta tolong teman saya itu untuk membuatkan alamat surat (e-mail). Saya juga belajar scanning gambar yang saya buat, kemudian mengirimkannya dalam bentuk digital melalui e-mail,” kata Aan terus terang.

Sejumlah proyek ”kecil” sempat digarap oleh Aan. ”Bayarannya 25 dollar-35 dollar AS,” katanya. Namun, tahun 2009, DC Comics menghubungi Aan, bahkan dikontrak eksklusif selama dua periode. Kontrak eksklusif keduanya akan habis pada September 2013.

Bekerja jarak jauh dengan memanfaatkan internet bukan masalah bagi Aan. ”Kerja samanya sudah berjalan baik,” katanya. DC Comics hanya menuntut satu hal dari Aan, ketepatan waktu.

Masih bertumbuh

Teknologi dengan jaringan internet di Indonesia memang tumbuh pesat. Dengan 55 juta pengguna, penetrasi internet di Indonesia pada posisi keempat Asia setelah China (513 juta), India (121 juta), dan Jepang (101,2 juta).

Pertumbuhan internet bahkan belum akan selesai. Tahun 2012, tercatat impor 52,35 juta telepon genggam yang sebagian besar berupa telepon cerdas (smartphone). Hingga tahun 2012, berdasarkan data Asosiasi Perusahaan Nasional Telekomunikasi, terdapat 267 juta nomor aktif.

Pemerintah bahkan menargetkan, tahun 2015 semua kota besar di Indonesia tersambung dengan jaringan pita lebar. Kini, kemajuan proyek telah mencapai 80 persen dan sedang dikerjakan di kawasan Indonesia timur. Bila tuntas, diharapkan pertumbuhan ekonomi makin melejit.

Telekomunikasi saat ini memang makin dimanfaatkan oleh kaum muda seperti Diana dan Aan. Dalam skala masif, turut menggerakkan ekonomi meski sebatas adanya toko-toko online.

Operator telekomunikasi menyadari bisnis besar di samping sekadar membangun jaringan internet. Terlepas dari pro-kontra nada sambung pribadi (ringback tone/RBT), operator sempat membesarkan bisnis RBT hingga 25 juta pengguna.

”Meski sempat diterpa kasus, itulah contoh sinergi antara operator dan musisi, para pelaku industri kreatif,” kata Manajer Humas PT XL Axiata Tbk Henry Wijayanto.

Excelcomindo juga terus membantu mengembangkan industriawan kreatif. Caranya dengan menyediakan ”toko aplikasi” hingga mendampingi developer lokal untuk monetizing—menjadikan bisnis mereka mendapatkan uang.

Bekerja sama dengan The Mobile Gamer (TMG), perusahaan game dari Singapura, Januari 2013 Excelcomindo meluncurkan ”XL Developer Network: Road to GameHack 2013”. Ditargetkan ada 100 peserta dari pengembang game profesional Indonesia, pelajar, dan juga para kreatif lainnya.

Meski potensi bisnis dari industri kreatif ada di depan mata, juga telah ada dukungan internet, perangkat keras dan lunak, ada pula yang menunggu momen terbaik. Walau tak asal menunggu, tetapi juga mempersiapkan diri.

”Tidak dapat dibantah banyak orang Indonesia yang kreatif. Karyanya diakui di dunia luar, seperti menggarap adegan di film Tintin. Persoalannya, perlu persiapan matang agar industri kreatif animasi lebih ’berbicara’,” kata Presiden Direktur Grup KATV Soegeng Setyo.

Sebanyak 30-60 stasiun televisi lokal diperkirakan segera tayang dalam beberapa tahun ke depan. Tentu saja tak melulu berisi pemberitaan atau sekadar sinetron dari pagi hingga pagi lagi, tetapi diharapkan dapat menayangkan konten animasi, terutama yang mendidik anak Indonesia.

Dengan sekolah Asia Animation-nya, Soegeng Setyo, akrab dipanggil Mas Soegeng, berharap mencetak 15-20 grup animator dalam tiga tahun mendatang. Tiap grup akan terdiri atas 8-10 orang.

Berkelanjutan

Mengapa harus tim besar? Menurut Mas Soegeng, supaya produksinya berkelanjutan sekaligus efisien. Sebagai gambaran, serial animasi Upin-Ipin diproduksi oleh 18-20 animator. Hitungan Mas Soegeng, per film animasi idealnya diproduksi oleh 40-100 animator.

”Jadi, selama delapan bulan ini pabrik animasi kami belum berproduksi,” ujar Mas Soegeng. Meskipun demikian, Mas Soegeng paham betapa industri animasi akan berkibar di negeri sendiri dalam beberapa tahun mendatang.

Saat ini, Mas Soegeng telah menginvestasikan dana miliaran rupiah untuk pabrik animasinya. Di Bumi Serpong Damai, sekolah tersebut telah berdiri di rumah toko miliknya. Belasan unit komputer merek ternama melengkapi sekolah tersebut. Namun, ia belum mendapatkan pengembalian modal.

Mas Soegeng pun menjelaskan, ketika sebuah grup animasi menuntaskan pelajaran langsung dibuatkan perusahaan. ”Kemudian dimasukkan orang pemasaran dan administrasi. Kesulitan para seniman itu terkadang tidak mengerti bisnis dan kurang profesional,” ujarnya.

Keberadaan pemasaran, menurut Mas Soegeng, sangat penting, untuk meraup bisnis iklan. ”Saya rasa pendapatan pabrik animasi awalnya tak cukup dari film animasi. Kira-kira 40-50 persen dari iklan dulu,” katanya. Upin-Ipin, kata Mas Soegeng, adalah contoh kasus berbeda karena disokong pemerintah.

Mas Soegeng menunjukkan ada industri kreatif yang membutuhkan pendampingan bisnis. Jadi, tidak sekadar persoalan penguasaan teknologi, tetapi juga komersialisasi oleh karena label industri yang melekat padanya.

Atau istilah kerennya, monetizing itu tadi.
kompas.com