Ribuan Peziarah Padati Makam Tionghoa Tebing Tinggi

Hari ini Warga kota Tebingtinggi Keturunan Tionghoa melakukan Ziarah Sembahyang Kuburan   atau yang disebut Cheng Beng
Hari ini Warga kota Tebingtinggi Keturunan Tionghoa melakukan Ziarah Sembahyang Kuburan   atau yang disebut Cheng Beng
RIBUAN masyarakat penganut Budha memadati Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tionghoa di Seisegiling, Kecamatan Padang Hilir, Kota Tebingtinggi, Minggu (31/3) pada puncak sembahyang makam atau yang disebut Cheng Beng.

Sejak Minggu pagi warga yang didomominasi warga Tionghoa memadati jalan masuk TPU Tionghoa di Seisegiling yang menyebabkan antrean panjang.

Cheng Beng ada ritual sembahyang makam leluhur yang dilaksanakan setiap tahun usai peringatan Imlek. Dalam ritual ini, segenap sanak saudara berkumpul di makam leluhurnya untuk mendoakan pendahulunya yang sudah meninggal.

Susianto, warga Kota Medan, yang melaksanakan ritual Cheng Beng di Kota Tebingtinggi mengatakan ritual tahunan itu merupakan keharusan sesuai ajaran agama.

“Hal itu juga sudah jadi tradisi orang Tionghoa, datang berziarah ke makam leluluhur sudah menjadi keharusan. Mumpung hari ini libur (Minggu) maka saya baru bisa hadir,” terangnya.

Dalam ritual itu, kata Susianto, dalam ritual Cheng Beng mereka membersihkan makam leluhur. Bagi warga Tionghoa, pelaksanaan ritual yang telah dilaksanakan secara turun temurun dan sudah berlangsung ribuan tahun.

Dalam ritual itu, ribuan peziarah membakar berbagai peralatan sembahyang di depan makam leluhur. Doa-doa juga dipanjatkan untuk para leluhurnya. Sejumlah barang-barang ritual yang dibakar seperti uang duplikat, baju, dan buah-buahan.

“Dengan membakar barang-barang seperti uang dan baju, kami percaya itu akan sampai kepada para leluhur kami di alam baka,” ungkap peziarah Liem yang juga datang dari Kanada.


Dulang Rezeki

Sementara itu, Ketua Yayasan Sosial Budi Amal Sukhavati (Yasobas) Kota Tebingtinggi, Gino Susanto didampingi Sekretarisnya, Jimmy serta ketua Panitia Cheng Beng, Riyanto alias Aciong bersama Edy Hu, Satgas Cheng Beng mengakui puncak Cheng Beng kali ini diperkirakan mencapai ribuan peziarah.

Gino mengatakan, warga yang datang melakukan ziarah juga berasal dari luar negeri.

Guna mengantisipasi kemacetan, panitia ritual Cheng Beng dibantu petugas kepolisian dan menerapkan satu jalur jalan masuk ke lokasi pemakaman.

“Ini dilakukan untuk menimbulkan rasa aman, bagi penziarah yang melakukan ritual Cheng Beng serta memanjatkan doa mengenang para leluhur yang sudah meninggal,” sebut Riyanto.

Riyanto mengaku sangat mengapresiasi masyarakat Kota Tebingtinggi. Pasalnya, menurut dia, berkat dukungan semua warga, situasi dan kondisi kemanan dalam ritual Cheng Beng kali ini tetap aman dan kondusif.

“Dari tahun ke tahun perayaan Cheng Beng ini selalu berjalan aman, ini berkat dukungan seluruh lapisan masyarakat kota Tebingtinggi,” ucapnya.

Sementara itu, ritual Cheng Beng juga memberi berkah bagi warga yang berdomisili tak jauh dari pemakaman Tionghoa Seisegiling. Dalam ritual tahunan itu, warga sekitar bisa mendulang rezeki dari membersihkan dan pemeliharaan makam atas permintaan peziarah.

“Kami tinggal menunggu keluarga yang punya kuburan. Mereka pasti datang saat Cheng Beng dan langsung membayar honor kami,” kata salah seorang pemelihara makam yang tidak mau namanya disebutkan.

Salah seorang warga yang turut membantu membersihkan makam, Muhammad Idris (15) yang juga warga sekitar bersama salah seorang temannya mengaku, dalam sehari mampu mengumpulkan uang sebanyak ratusan ribu rupiah yang mereka dapatkan dari upah membantu membersihkan makam selama musim Ceng Beng sudah mencapai puluhan makam, biasanya pemilik makam membayar jasa kami sebesar Rp25 ribu sampai Rp50 ribu permakam.