Selamat Hari Perempuan Internasional di Google Doodle Hari ini


Jika Anda mengakses Google hari ini, maka Anda akan melihat simbol Venus berwarna-warni pada tampilan logo raksasa mesin pencari tersebut. Apa maksudnya?

Hari ini, 8 Maret 2014, Google turut memperingati Hari Perempuan Sedunia atau International Woman's Day dengan menampilkan Google Doodle khusus. Beraneka warna simbol Venus yang melambangkan perempuan terlihat menari-nari.

Apabila Anda mengklik tombol 'play' pada simbol Venus yang terbesar, maka akan terputar sebuah tayangan video yang menampilkan berbagai wajah perempuan dari seluruh dunia.

Beberapa wajah di antaranya merupakan tokoh-tokoh perempuan yang sudah Anda kenal, seperti karakter kartun Dora The Explorer, aktivis muda Pakistan Malala Yousafzai, penyanyi India Asha Bhosle, dan presenter Indonesia Sarah Sechan.

Penetapan 8 Maret sebagai Hari Perempuan Sedunia, karena pada tanggal yang sama di tahun 1917, untuk pertama kalinya perempuan di Rusia diberikan hak suara dalam pemilu. Inilah yang menjadi tonggak awal dari sejarah peringatan ini.

Sejarah Hari Perempuan Sedunia

Hari Perempuan Sedunia sesungguhnya merupakan kisah perempuan biasa dalam menoreh catatan sejarah; sebuah perjuangan berabad-abad lamanya untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat, seperti juga kaum laki-laki.

Di masyarakat Yunani Kuno, Lysistrata menggalang gerakan perempuan mogok berhubungan seksual dengan pasangan mereka untuk menuntut dihentikannya peperangan.

Sedangkan dalam Revolusi Prancis, perempuan di Paris berunjuk rasa menuju Versailles sambil menyerukan 'Kemerdekaan, Kesetaraan dan Kebersamaan’ menuntut hak perempuan untuk ikut dalam pemilu.

Wacana untuk memperingati Hari Perempuan Sedunia sebetulnya telah berkembang sejak seabad lalu ketika dunia industri ini sedang dalam masa pengembangan dan pergolakan, peningkatan laju pertumbuhan penduduk dan pemunculan paham-paham radikal.

Berikut ini adalah kronologi singkat dari beberapa kejadian penting yang mengiringi perjalanan Hari Perempuan Sedunia seperti dikutip dari situs Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH-APIK):

1909: Dalam rangkaian pendirian Partai Sosialis Amerika, Hari Perempuan Nasional pertama kali diperingati pada 28 Februari di AS. Hari tersebut kemudian terus diperingati oleh para perempuan AS pada setiap hari Minggu terakhir bulan Februari hingga 1913.

1910: Pertemuan kelompok sosialis internasional di Copenhagen, Denmark, memutuskan untuk memiliki Hari Perempuan Internasional sebagai penghormatan atas hak-hak asasi perempuan dan mendorong diperolehnya hak suara bagi semua perempuan di dunia.

Keputusan ini diterima secara bulat oleh semua peserta yang diikuti lebih dari 100 perempuan dari 17 negara, termasuk tiga perempuan pertama yang dipilih sebagai anggota parlemen Finlandia. Namun pada saat itu, mereka belum memutuskan pada tanggal berapa peringatan hari tersebut akan diadakan.

1911: Sebagai tindak lanjut dari keputusan yang telah diambil setahun lalu, Hari Perempuan Sedunia untuk pertama kali diperingati (pada 19 Maret) di Austria, Denmark, Jerman dan Swiss. Lebih dari sejuta perempuan dan laki-laki bersama-sama turun ke jalan untuk merayakannya.

Selain hak untuk ikut serta dalam pemilu dan posisi di dalam pemerintahan, mereka menuntut hak bekerja, kesempatan memperoleh pelatihan, dan penghapusan diskriminasi gender dalam pekerjaan.

Kurang dari seminggu sejak peringatan tersebut, pada 25 Maret terjadi insiden tragis di New York, AS, yang menewaskan lebih dari 140 buruh perempuan yang kebanyakan adalah imigran asal Italia dan Yahudi.

Kejadian ini sangat mempengaruhi peraturan perburuhan di AS dan kondisi kerja yang menyebabkan insiden ini terjadi kemudian dikecam habis-habisan selama peringatan Hari Perempuan Internasional tahun berikutnya.

1913-1914: Sebagai bagian dari upaya perdamaian yang berkembang selama berlangsungnya Perang Dunia I, perempuan Rusia memperingati Hari Perempuan Internasional untuk pertama kali pada Minggu terakhir Februari 1913.

Di belahan Eropa lainnya, pada atau sekitar 8 Maret di tahun berikutnya, perempuan berunjuk rasa baik untuk memprotes perang maupun sebagai ungkapan solidaritas kepada saudara-saudara perempuan di manapun juga.

1917: Karena dua juta tentara Rusia terbunuh dalam perang, perempuan Rusia sekali lagi turun kejalan pada hari Minggu terakhir di bulan Februari menyerukan 'Roti dan Perdamaian'. Para pemimpin politik menentang unjuk rasa tersebut, tetapi para perempuan ini tetap bertahan.

Sejarah mencatat bahwa empat hari kemudian, Raja Rusia Tsar Nicholas II turun tahta dan pemerintahan sementara mengakui hak perempuan untuk ikut serta dalam pemilu.

Hari bersejarah itu jatuh pada 23 Februari di Kalender Julian yang digunakan di Rusia atau tanggal 8 Maret menurut kalender Gregorian (kalender Masehi yang juga kita gunakan).

Pada 1920, hampir tidak pernah lagi diperingati Hari Perempuan Sedunia. Namun pada tahun 1975, melalui kepeloporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Hari Perempuan Sedunia akhirnya diperingati kembali pada setiap tanggal 8 Maret.(inilah)