Multiple Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran Kajian Pengembangan SDM

Ringkasan: Pada diri manusia sudah dilengkapi kemampuan/kebakatan berganda (multiple intelligent) berupa kemampuan kebahasaan, kemampuan bermusik, kemampuan logika matematika, kemampuan gerak/kinetik, kemampuan penguasaan ruang, kemampuan rohani/intrapersonal communication, kemampuan komunikasi interpersonal, dan kemampuan membaca alam. 

Memisahkan materi pembelajaran hard skill dan soft skill merupakan kesalahpahaman yang memerlukan peninjauan ulang dalam aplikasinya, sebab kemampuan hard skill yang excellent adalah cermin dari soft skill yang excellent dan tidak dapat dipisahkan dan merupakan satu kesatuan untuk semuanya.
Penulis: Syaiful Anwar, Widyaiswara Pusdiklat Bea & Cukai. 


Oleh: Syaiful Anwar
(Widyaiswara Pusdiklat Bea & Cukai)

Abstrak
Pada diri manusia sudah dilengkapi kemampuan / kebakatan berganda (multiple intelligent) berupa kemampuan kebahasaan, kemampuan bermusik, kemampuan logika matematika, kemampuan gerak / kinetik, kemampuan penguasaan ruang, kemampuan rohani / intra personal communication, kemampuan komunikasi inter personal, dan kemampuan membaca alam.


Kemampuan manusia terpapar / termanifestasi berupa ketrampilan berbahasa, berlogika dan gerak kinetik dikenal sebagai hard skill, akan tetapi yang terpapar tidak dapat dipisahkan dari yang tersembunyi (tacid) berupa kemampuan mengembangkan mental models diri melalui proses komunikasi intra personal (kemampuan olah rohani), komunikasi interpersonal, pemahaman dimensi ruang dan pemahaman tentang alam sekitarnya sebagai dasar kompetensi terpapar (hard skill).


Tujuan pembelajaran untuk organisasi lembaga pemerintahan seperti Kementerian Keuangan sudah melewati dan diatas tujuan pembelajaran Bloom yang didesain untuk tujuan pendidikan dasar dan menengah. Seharusnya tujuan pembelajaran dalam diklat Kementerian Keuangan adalah:
 
Dengan memahami tujuan pembelajaran Diklat Lembaga Kementerian seperti Keuangan yang pesertanya telah lulus perguruan tinggi (S1, S2, S3) maka pengembangan soft skill tidak dapat dipisahkan dengan hard skill, karena kemampuan tingkat tinggi suatu kompetensi terpapar (hard skill) adalah cermin mental model seseorang dalam mengolah kemampuan rohani diri, kemampuan berinteraksi sesama dan berinteraksi dengan alam yang bersifat tersembunyi (tacid) sebagaimana dikenal sebagai soft skill.

Memisahkan materi pembelajaran hard skill dan soft skill merupakan kesalah pahamanan yang memerlukan peninjauan ulang dalam aplikasinya, sebab kemampuan hard skill yang excellent adalah cermin dari soft skill yang excellent dan tidak dapat dipisahkan dan merupakan satu kesatuan untuk semuanya.


Pendahuluan
Howard Gardner (1983) mengindikasikan bahwa pada diri manusia dikaruniai multiple intelligent atau multiple kompetensi kebakatan dalam upaya mempertahankan hidupnya, kompetensi itu meliputi kompetensi/bakat kebahasaan (linguistic competences), kompetensi/bakat logika matematika (logic competences), kompetensi/bakat gerak kinetik / olahraga (kinetic competences), kompetensi/bakat musik, kompetensi/bakat penguasaan ruang, kompetensi/bakat pemahaman kerohanian / kebatinan (intra personal competences), kompetensi/bakat hubungan antar manusia (inter personal competences) dan kompetensi/bakat memahami lingkungan kehidupan / alam sekitarnya.


Kompetensi kebahasaan, kompetensi logika, kompetensi kinetik / olahraga adalah kompetensi yang termanifestasi dan secara nyata dapat diamati kepiawaian pribadi atau kelompok pribadi tentang seberapa luas dan dalam penguasaan kompetensi 3 (tiga) ranah termaksud, biasa dikenal sebagai hard skill. Akan tetapi kompetensi kerohanian (intra personal), kompetensi inter personal, komptensi/bakat musik, kompetensi/bakat penguasaan ruang (spasial) dan kompetensi/bakat memahami alam sekelilingnya adalah kompetensi yang belum termanifestasi (bersifat tacid) dan agak sulit diketahui dan sulit diukur karena biasanya termanifestasi dalam bentuk perilaku / attitude seperti rasa sympaty, empaty, tidak menyakiti atau tidak merusak alam dll yang biasa dikenal sebagai soft skill.


Membangun Kompetensi
Kebutuhan kompetensi (misal kompetensi naik sepeda) lahir dari kesadaran bahwa saya sadar tidak kompeten (concious incompetences) ketika untuk pertama kali melihat sepeda, oleh sebab itu saya belajar naik sepeda dan kemudian saya sadar kompeten / mampu naik sepeda (concious competence) akan tetapi kompetensi / kemampuan saya masih terbatas, mudah lelah atau jatuh bila melewati gundukan batu / tanah.
Kemudian saya terus menerus belajar (learning continually) sehingga saya mampu bersepeda dengan baik, bisa dengan lepas tangan, santai, tidak mudah jatuh dan tetap menjaga keseimbangan walaupun jalan tidak mulus atau bergelombang. Dengan demikian kompetensi / kemampuan bersepeda saya meningkat menjadi kompetensi yang menyatu dan mengintuisi (unconcius competence).


Membangun kompetensi dalam suatu organisasi berawal dari tidak tahu kalau diri tidak kompeten (unconcious incompetence)belajar →menjadi sadar berkompeten (concious competence)belajar terus - menerus → menjadi tidak sadar berkompeten atau kompetensi yang mengintuisi (unconcious competence). Dengan demikian belajar secara terus menerus (learning continually) adalah prasyarat mencapai kompetensi yang mengintuisi.


Membangun Kompetensi Individual / Pribadi (Self)

Membangun kompetensi individual adalah sama dengan membangun mental models pribadi dan merupakan dasar pengembangan kompetensi termanifestasi (hard skill). Melalui memahamkan proses pengambilan keputusan (decesion making process) personal atas stimulus – responsi yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari, agar responsi atas stimulus yang dialaminya sebagai kesimpulan pribadi, adalah kesimpulan yang sahih (valid) sebagai informasi personal dan layak sebagai pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan skala pribadi.


Ladder of Inferences memberi bimbingan bagaimana model mengolah stimulus – responsi secara valid, dilengkapi mengolah otak kiri (logic area) dan otak kanan (area kebahasaan dan emosional) dan menjaga keseimbangan berargumentasi dan bertanya (balancing inquiry and advocacy) akan membentuk pribadi unggul dalam mengemban misi kemanusian pribadi dalam bermasyarakat dan berorganisasi.


Ladder of Inference

Ladder of Inference adalah proses bagaimana sebaiknya manusia menggunakan logika pengambilan kesimpulan dan keputusan dengan tujuan melatih individu agar mampu berpikir tertib, logis dan terarah. Ada tujuh langkah bagaimana manusia (self) sebaiknya melakukan proses membuat kesimpulan untuk proses pengambilan keputusan yang logis dan terarah.

Logika adalah cara berpikir manusia yang terpapar pada bagaimana manusia tersebut membuat kesimpulan – kesimpulan melalui analisis – sintesis secara sahih / valid. Hal itu menunjukkan alur pikir manusia menggunakan metoda berpikir tertentu seperti deduktif, induktif atau gabungan antara deduktif – induktif – deduktif atau induktif – deduktif – induktif.

Manusia dalam mengembangkan logika sebaiknya melalui suatu proses pemilihan dan memilah data secara sahih, sehingga menghasilkan informasi yang valid / sahih untuk kemudian melakukan konseptualisasi berupa kesimpulan – kesimpulan sementara yang hanya diketahui oleh diri sendiri (tacit) sebagai bentuk dialog dengan diri sendiri (komunikasi intra personal).


Setelah membuat kesimpulan dan berdasarkan penilaian diri sendiri adalah valid dan memutuskan untuk mengkomunikasikan kepada orang lain atau kelompok sosial dalam masyarakat maka kesimpulan itu merupakan sikap diri (komunikasi interpersonal dan komunikasi massa). Dalam mengkomunikasian sikap diri harus memperhatikan “ranah otak kiri – otak kanan” agar kesimpulan tersebut “dikemas” dalam bahasa yang santun dan mudah dipahami oleh orang lain.
 
Right Hand Column and Left Hand Column (Kawasan Otak Kiri – Otak Kanan)


Untuk membentuk manusia yang berintegritas tidak cukup hanya dengan mempunyai kemampuan berpikir tertib, terarah dan logis (wujud mencintai kebenaran, keadilan, kepantasan dan kebaikan), harus juga dilatih menggunakan otak kiri dan otak kanan secara seimbang.


Ketika seseorang menggunakan tangga Inferensi (Ladder of Inference) dan mampu membuat kesimpulan secara logis dan benar (sebagai cermin kemampuan bernalar seseorang) namun ketika akan menyampaikan kesimpulan pikiran tersebut, sebelumnya sebaiknya menyeimbangkan otak kiri (kawasan logika) dengan otak kanan (kawasan emosi, seni, artistik) agar mampu mengemas pikiran / idea / kesimpulan tersebut dalam bahasa yang santun, mudah dipahami oleh lawan bicara sehingga menghasilkan rasa sympati dan empathy rekan sekerja (cermin kemampuan mengendalikan emosi).


Balancing Inquiry and Advocacy (Keseimbangan dalam Bertanya dan Berargumen)

Berpikir logis, benar dengan bahasa yang santun ketika akan disampaikan dalam forum bahasan (kelompok kerja / in a group) harus seimbang antara bertanya (ingin tahu) dan menjawab pertanyaan (berargumentasi) dan hindari dominasi pembicaraan dan pemaksaan idea agar tercipta suasana kerjasama dengan semangat membangun komitmen bersama dalam organisasi (cermin ketrampilan mengkombinasikan kemampuan bernalar dengan kemampuan meyakinkan lawan bicara dalam suasana dialog)

Mental Models dan Integritas

Membangun Kompetensi Kolektif Melalui Pembelajaran

Team Learning adalah sekelompok orang yang mampu bekerja bersama dan bekerja sama (learning collectively) sehingga mampu menghasilkan sesuatu yang bermakna atau keberartian bagi kepentingan bersama (generative learning)

Konsep Sinergy

“Membangun dan memastikan hubungan kerjasama internal yang produktif dengan para pemangku kepentingan (stakeholder) untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dan berkualitas” atau dengan perkataan lain output dari Team Learning adalah terwujudnya proses alignment dan sinergitas melalui kecendekiaan kolektif (collective intelligent).

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa secara hypothetis dikatakan bahwa 1 + 1 = 2, namun dapat dikatakan juga bahwa 1 + 1 = 100, hal itu dapat dijelaskan sebagai berikut : Organisasi A kuat pada kualitas produk yang dihasilkan akan tetapi lemah dalam systems distribusi, Organisasi B kuat dalam systems distribusi, tetapi lemah dalam kualitas produk dan kemudian Organisasi A bersinergi dengan Organisasi B maka akan menghasilkan hasil yang luar biasa bahkan dapat disimbolkan dengan symbol 1 + 1 = 100.(multiple result).

Dengan demikian sinergi adalah proses alignment antar elemen organisasi sehingga menghasilkan output dan outcome yang nilainya jauh lebih besar, bukan dalam besaran pertambahan (+) melainkan dalam besaran perkalian (x)

Elemen Sinergi
- Alignment (penjajaran antar elemen organisasi dan kompetensi yang tersedia untuk menghasilkan konsep baru dengan nilai tambah tinggi bagi kepentingan organisasi)

- Proses Team dalam pola memobilisasi keahliannya (collective intelligent) melalu proses alignment menghasilkan hal – hal yang bermanfaat bagi organisasi (generative learning)
- Indikator kreteria berdasarkan Input – Output – Outcome – Benefit – Impact yang tinggi.
Hasil suatu sinergi muncul dalam suatu pola kerjasama bagaikan suatu Team, Team yang kompeten dan kreatif akan mendorong proses sinergi dalam suatu organisasi.


Ada dua hal pokok yang dilakukan suatu organisasi untuk mampu menghasilkan output / outcome yang sinergis yaitu harus mampu memobilisasi kecendekiaan dalam organisasi baik yang termanifestasi (tampak) maupun yang tersembunyi (tacit) dan kemudian mampu melakukan penjajaran antar fungsi organisasi dan mengintegrasikan sehingga menghasilkan output / outcome → benefit → impact yang jauh lebih besar magnitude nya.

Proses bekerja Team untuk ber – Sinergi

Sikap disiplin dibutuhkan dalam transformasi Knowledge – Skill – Attitude untuk proses mobilisasi kompetensi dan memperoleh idea kolektif sehingga mendorong lahirnya komitmen bersama dan bersedia mewujudkan komitmen itu untuk mencapai tujuan belajar bersama.
Tujuan Pembelajaran
Taksonomi Bloom membagi tujuan pembelajaran to know (mengetahui) → to ccmprehend (memahami)→ to apply (menerapkan)→ to analizessynthesis (mengurai dan merangkai elemen) → to evaluating (mengevaluasi) → to creating (menciptakan).

Bloom meletakkan kemampuan mengurai – merangkai elemen masalah dan memecahkan masalah merupakan ketrampilan tertinggi dari suatu proses belajar mengajar.
Organisasi pembelajar (learning organization) menunjukkan empat tahap tujuan belajar manusia pembelajar dalam organisasi pembelajar (learning organization)


Proses belajar yang bersifat progresive untuk membentuk manusia mencintai kebenaran, kepantasan dan keadilan maka, proses pembelajaran diharapkan memperoleh capaian tertinggi dalam intelektualitas manusia dan kemanusiaan yaitu kearifan (wisdom).


Syarat awal manusia pembelajar adalah manusia yang pada dirinya mempunyai elemen diri berupa rasa ingin tahu yang tinggi (curiousity), mempunyai cita – cita pribadi (personal vision), bersedia berbagi wawasan (share vision) dan bersedia bekerjasama (work on group or team) sehingga menghasilkan kepiawaian team organisasi (collective Intelligent) yang mempunyai nilai tambah yang tinggi bagi organisasi (sinergi).


Dari manusia dengan kualifikasi pembelajar dengan keinginan belajar secara terus menerus (learning continually) baik secara individual maupun dalam team (in a group) dengan berorientasi (keberpihakan pada hati nurani) kepada kebenaran, keadilan, kepantasan akan menghasilkan manusia yang mampu berpikir systemic / holistic.


Manusia Arif (Wise) yang dihasilkan dari proses belajar adalah manusia dengan kemampuan tinggi yaitu manusia yang mampu berpikir dengan memperhatikan keterkaitan fungsional sub systems dengan sub systems lainnya, keterkaitan fungsional systems tertentu dengan systems tertentu lainnya sehingga terbentuk kemampuan berpikir paradigmatic yaitu cara pandang dan berpikir integrative systems tertentu dengan systems tertentu lainnya sehingga mampu menciptakan konsep baru yang merupakan jawaban atau solusi atas persoalan yang kompleks (unpredictable condition) yang dihadapi manusia dan organisasi dimana mereka bernaung / berada.


Dengan demikian belajar berkelanjutan dan secara terus menerus adalah syarat mutlak, bagi upaya organisasi berbasis kompetensi untuk membangun inventory (cadangan / ketersediaan) ilmu pengetahuan, ketrampilan yang relevan didalam organisasi (baik yang terpapar maupun tersembunyi / tacid) guna menjawab sebagai solusi atas berbagai tantangan berupa intensitas perubahan yang semakin cepat dan tidak terperkirakan (unpredictable) yang dihadapi oleh organisasi pembelajar (learning organization).

Hubungan Hard Skill dan Soft Skill Dengan Tujuan Pembelajaran.


Hard Competences / Skill adalah kepiawaian pribadi maupun kolektif yang termanifestasi dalam gerak orang / pribadi dalam organisasi maupun gerak / sikap kolektif mereka dalam organisasi sehingga sikap individu mewakili sikap kolektif komunitas mereka bagaikan gambar hologram karena hard competences / skill sudah menyatu (embadied) pada diri mereka secara pribadi maupun secara kolektif. Hard Competences adalah linguistic intelligent, mathemathical logic intelligent, kinestic intelligent yang dimiliki oleh manusia dan kemampuan itu tampak / termanifestasi berupa kemampuan mengemas bahasa dalam menyampaikan pikiran mereka, kemampuan menyusun rangkaian berpikir secara systematis, logis dan bersifat holistik dan kemampuan fisik bagaikan olahragawan.


Proses manifestasi hard competences yang terpapar dan tampak merupakan hasil proses pengelolaan soft competences / skill dari masing–masing individu dalam organisasi berkat bimbingan kepemimpinan yang relevan dalam organisasi sehingga hard competences merupakan refleksi dari pengelolaan soft competences / skill sebagaimana sudah tersedia dalam diri masing–masing individu / manusia dalam organisasi, hanya belum termanifestasi. Bentuk soft skill masing – masing individu refleksi kematangan rohani pribadi (intra personal intelligent), kemampuan menyampaikan rasa emphaty dan sympathy pada orang lain tanpa menyakiti hatinya (inter personal intelligent) dan kemampuan memahami lingkungan alam.


Pada multiple intelligent/kebakatan yang dimiliki manusia meliputi kemampuan yang termanifestasi dan kemampuan yang tersembunyi (tacid). Kemampuan terpapar / termanifestasi adalah cermin dari kekampuan individu / pribadi yang tesembunyi atau dengan perkataan lain kemampuan termanifestasi dalam bentuk hard competences / skill adalah bagian integral (tidak terpisahkan) dari kemampuan yang tersembunyi dikenal sebagai soft competences / skill.


Membangun Kompetensi Bertujuan Mencapai Kearifan (Wisdom)

Sumber kearifan (wisdom) adalah kemampuan pribadi mengelola intra personal intteligent, interpersonal intelligent dan kepiawaian membaca alam (nature litteracy intelligent).

Kepiawaian intra personal pribadi tercermin pada kemampuan pribadi berpikir tertib, runut / logic, mencintai kebenaran, kebaikan, terbuka, terarah, berpikir untuk kepentingan bersama / kolektif. Kepiawaian inter personal pribadi mencerminkan kemampuan menyampaikan pikiran / idea dengan kemasan bahasa yang mudah dipahami orang lain, mudah memperoleh emphaty dan simpathy dari sesama / rekan sekerja serta memahami hukum alam secara baik sehingga mampu selaras dengan alam.


Kepiawaian yang termanifestasi adalah wujud kepiawaian yang tampak dari pribadi – pribadi yang piawai (mastery) mengelola kemampuan yang tidak tampak (tacid) sebagai soft skill dan hal itu membutuhkan sikap disiplin. Sikap disiplin akan mendorong ketrampilan mengolah data menjadi informasi yang sahih (valid), mampu membuat kesimpulan secara logis, terarah dan sahih (valid) dan mampu mengkomunikasikan kesimpulannya secara baik kepada orang lain.


Kepiawaian termanifestasi akibat soft skill yang terdisiplinkan akan mampu melakukan proses perubahan (transformasi) berbagai fenomena sebagai stimulus menjadi wujud responsi terpapar / tampak sebagai hard skill berupa kemampuan berupa komitmen bersama membangun keberhasilan, membangun alignment kompetensi (integrasi kepiawaian pribadi) yang tersedia dalam organisasi, serta mampu memobilisasi kompetensi yang tersedia dalam organisasi bagi keberhasilan bersama (organisasi).


Kesimpulan
Membangun kompetensi soft skill seharusnya melalui explorasi intra personal intelligent (proses rohani), inter personal intelligent dan kemampuan membaca alam (nature litteracy intelligent) yang pada dasarnya sudah dimiliki oleh manusia khususnya para PNS Kementerian Keuangan. Hasil explorasi soft skill (lihat sub judul : membangun kompetensi kolektif melalui proses pembelajaran) yang bersifat tacid (tidak tampak) secara benar, akan mampu menggali potensi diri pribadi – pribadi dan melakukan transformasi diri menjadi lebih baik tentang penguasaan teknikal, manajerial,dan paradigmatik dan selalu berpihak kepada nilai – nilai keadilan dan kebenaran.

Route membangun Hard Skill SDM Kementerian Keuangan yang mengandung nilai integritas dan profesionalitas yang tinggi hanya mungkin terwujud bila melalui explorasi diri (self) dengan membangun model explorasi diri melalui mental models dengan menggunakan ladder of inferences, right hand – left hand coloumn (otak kiri – otak kanan) dan berkeseimbangan dalam melakukan ingin tahu dan menjawab / berargumentasi (balancing inquiry and advocacy) secara baik dan benar.


Pendapat yang menyatakan bahwa soft skill adalah komunikasi inter personal dan komunikasi masa adalah penyederhanaan pemahaman soft skill agak dangkal, dalam hal tertentu adalah benar, sebagaimana pengalaman tentang ceritera keberhasilan seseorang (success story) menunjukkan 80 % kemampuan berkomunikasi menentukan keberhasilan mereka, dan sisanya 20 % merupakan hasil pendidikan.

Succes story demikian perlu diluruskan, yaitu jangan lupa bahwa yang 80 % itu (sukses karena kemampuan berkomunikasi) yang benar adalah merupakan hasil dari yang 20 % (hasil pendidikan / pelatihan) yaitu berupa exercises bernalar, kemampuan berlogika melalui perenungan (devotion) berupa proses ladder of inference, sinergitas otak kiri – kanan dan balancing inquiry and advocacy.


Kegagalan memahami tujuan proses yang 20 % itu (tujuan diklat Kementerian Keuangan) berupa pencapaian kemampuan membaca berbagai fenomena dan mengintegrasikan dan alignment idea menjadi inovasi dan wisdom, adalah bencana bagi organisasi karena menghasilkan SDM sekedar menguasai kompetensi tingkat rendah berupa penghafal prosedural dan jauh dari berkemampuan berpikir dan bertindak kreatif.

Daftar Pustaka Multiple Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran Kajian Pengembangan Sumber Daya Manusia dari Perspektif Building Learning Organization
  • LAN RI (2008), Kajian Paradigma Building Learning Organization, Mental Models, Personal Mastery, Team Learning (SPIMNAS Kepemimpinan, Jakarta)
  • Peter Senge (1995), The fifth Dicipline Fieldbook :Strategies and Goals for Building Learning Organization (Nicholas Befaly Publishing London)
  • http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/148-artikel-bea-dan-cukai/20154-multiple-kompetensi-dan-tujuan-pembelajaran-kajian-pengembangan-sumber-daya-manusia-dari-perspektif-building-learning-organization
  •  http://dangstars.blogspot.com/2015/10/multiple-kompetensi-dan-tujuan-pembelajaran-kajian-pengembangan-sdm.html