Mengapa kita harus beriman kepada Nabi dan Rasul

Mengapa kita harus beriman kepada Nabi dan Rasul
Secara bahasa, Nabi berarti orang yang mengabarkan dan menyampaikan syari’at dari Allah. Ini adalah definisi kebanyakan ulama bahasa. Adapun secara istilah, Nabi adalah hamba Allah yang terpilih, yang diberikan wahyu untuk dia amalkan, baik wahyu yang berupa syari’at baru maupun berupa syari’at Nabi sebelumnya. Sedang mengamalkan wahyu adalah dengan menyampaikannya, mendakwahkannya, dan berhukum dengannya.

Adapun rasul, maka kesimpulan para ulama bahasa dalam mendefinisikannya bahwa rasul adalah manusia yang diutus oleh Allah kepada segenap manusia dengan membawa risalah. Secara istilah, rasul adalah hamba Allah yang terpilih yang diberikan wahyu dan diutus kepada kaum yang kafir, terkadang dengan syari’at baru -dan ini kebanyakannya- dan terkadang dengan syari’at rasul sebelumnya. 

Sangat Butuhnya Makhluk Terhadap Terutusnya Rasul

Sesungguhnya kebutuhan makhluk terhadap terutusnya para rasul merupakan kebutuhan yang paling penting yang mengalahkan semua kebutuhan yang paling darurat sekalipun.

Imam Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata dalam Zadul Ma’ad (1/15), 

“… dari sinilah nampak bagaimana betul-betul sangat butuhnya para hamba untuk mengenal sang rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan apa yang beliau bawa, membenarkan apa yang dia khabarkan, dan mentaati apa yang dia perintahkan, karena sesungguhnya tidak ada satupun jalan menuju kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan di akhirat kecuali melalui perantaraan para rasul, dan tidak ada satupun cara untuk mengetahui yang baik dan yang buruk secara rinci kecuali dari mereka, dan sekali-sekali tidak akan bisa didapatkan ridho Allah selama-lamanya kecuali melalui perantaraan mereka. Maka tidak ada kebaikan dalam semua amalan, ucapan, dan akhlak kecuali tuntunan mereka dan apa yang mereka bawa. 

Maka mereka adalah tolak ukur yang benar yang mana seluruh akhlak dan amalan (hamba) diukur dengan amalan dan akhlak mereka, dan dengan mengikuti mereka akan nampak mana pengikut kesesatan. Maka kebutuhan (hamba) kepada mereka melebihi kebutuhan badan kepada ruh, kebutuhan mata kepada cahayanya, kebutuhan ruh kepada kehidupannya, dan bagaimanapun mendesaknya dan pentingnya suatu kebutuhan maka kebutuhan hamba terhadap para rasul melebihi semua hal itu. 

Dan bagaimana menurut kamu mengenai orang yang jika tuntunan dan apa yang datang darinya walaupun sekejap mata maka akan (mengakibatkan) hatimu rusak dan dia (hatimu) akan menjadi seperti ikan jika dia dipisahkan dari air dan diletakkan di padang pasir. Maka keadaan hamba ketika hatinya berpisah dari apa yang para rasul datang dengannya sama seperti (ikan) ini, bahkan lebih parah. 

Akan tetapi hal ini tidak bisa dirasakan kecuali oleh hati yang hidup karena hati yang mati tidak bisa merasakan sakitnya luka. Jika kebahagiaan hamba di dua negeri (dunia dan akhirat) ditentukan oleh hidayah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- maka wajib bagi setiap orang -yang (mau) menasehati dan menghendaki keselamatan dan kebahagiaan jiwanya- untuk mengetahui petunjuk, sejarah dan keadaan beliau, mengeluarkan dirinya dari jejeran orang-orang yang bodoh terhadapnya (petunjuk Nabi) dan menggolongkan dirinya ke dalam jejeran pengikut, penolong, dan kelompok beliau. 

Dan manusia dalam perkara ini ada yang (mendapatkan) sedikit, dan ada yang banyak dan ada yang diharamkan (darinya), dan keutamaan hanya di tangan Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Memiliki Keutamaan yang besar”.

Hikmah Terutusnya Nabi dan Rasul

Hikmah Allah yang agung, perhatian Allah yang besar, dan rahmat Allah yang luas mengharuskan adanya hikmah yang sangat mulia dari terutusnya para nabi dan rasul. Di antara hikmah yang Allah nampakkan kepada kita adalah:

1. Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk hanya untuk beribadah kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya, dan tidak mungkin bagi hamba untuk menyembah Tuhan mereka, melaksanakan apa yang dicintai-Nya dan menjauhi apa yang dimurkai-Nya kecuali melalui tuntunan para rasul, yang mana mereka ini adalah makhluk pilihan Allah dari kalangan manusia.
2. Sesungguhnya penegakan hujjah atas seluruh hamba akan terjadi dengan terutusnya para rasul. Allah -‘Azza wa Jalla- menegaskan:

رُسُلاً مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ لِئَلاَّ يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ

 

“Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.” (QS. An-Nisa` : 165)

3. Sesungguhnya akal-akal hamba tidak akan sanggup menggapai perkara-perkara yang gaib, seperti keimanan terhadap kebangkitan, adanya surga dan neraka, para malaikat dan jin, dan yang lainnya. Semua perkara ini hanya bisa diketahui melalui jalur para rasul yang mendapatkan wahyu dari Yang Mengutus mereka, seandainya para nabi dan rasul tidak terutus maka para hamba tidak akan memiliki keimanan terhadap perkara yang gaib.

4. Jin dan manusia sangat membutuhkan suri tauladan yang baik, yang bersifat dengan sifat-sifat yang paling sempurna yang bisa dicapai oleh seorang hamba, yaitu wahyu dan ‘ushmah (penjagaan dari dosa). Dan tidak ada seorangpun yang bersifat seperti ini kecuali orang-orang yang dipilih oleh Allah, yaitu para rasul, Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الآخِرِ


“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21 )

Nama-Nama Nabi dan Rasul
Yang merupakan aqidah kaum muslimin bahwa tidak ada yang mengetahui jumlah nabi dan rasul secara pasti selain Allah -Subhanahu wa Ta’ala- yang telah mengutus mereka. Akan tetapi Allah -Ta’ala- telah mengabarkan kepada kita sebahagian dari nama-nama mereka, sehingga kita harus mengimani akan adanya nabi-nabi tersebut secara rinci. 

Sedangkan nabi-nabi yang tidak Allah khabarkan kepada kita, maka kita wajib beriman kepada mereka secara global.

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menyatakan:

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ


“Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu”. (QS. An-Nisa` : 164)

Merupakan suatu kaidah yang asasi bahwa tidak boleh menetapkan jenjang kenabian kepada seorangpun kecuali dengan dalil yang shohih dan tegas. Syaikh Muhammad bin ‘Abdilah Al-Imam dalam kitab beliau yang berjudul Tahdzirul Atqiya` min ‘Ibadati Quburil Anbiya` wal Auliya` menyebutkan nama-nama nabi yang tsabit dan yang tidak tsabit dari Al-Qur`an dan Sunnah. 

Nama-nama nabi dan rasul yang masyhur yang jumlahnya 25 disebutkan oleh seorang penya`ir dalam dua bait sya’irnya:

فِي (( تِلْكَ حُجَّتُنَا )) مِنْهُمْ ثَمَانِيَة مِنْ بَعْدِ عَشْرٍ وَيَبْقَى سَبْعَةُ وَهُمْ

إِدْرِيْسُ هُوْدٌ شُعَيْبٌ صَالِحُ وَكَذَا ذُوْالْكِفْلِ آدَمُ بِالْمُخْتَارِ قَدْ خُتِمُوْا


“Dalam (ayat) “Itulah hujjah Kami” (1)
di antara mereka (para nabi) disebutkan 18 dan masih tersisa 7 (orang).
Mereka adalah: Idris, Hud, Syu’aib, Sholih,
demikian pula Dzul Kifli, Adam, dan semuanya ditutup dengan Sang terpilih (Muhammad)”.
Di antara nabi yang tidak disebutkan namanya oleh penya’ir di atas adalah: Nabi Khidir dan Nabi Yusya’ bin Nun -‘alaihimas salam- (HR. Ahmad: 2/325 dari Abu Hurairah)

Para Nabi dan Rasul Adalah Makhluk yang Paling Mulia Secara Mutlak

Bukan perkara yang samar bagi setiap muslim bahwa derajat nabi dan rasul jauh lebih tinggi di atas derajat hamba yang paling sholih dan paling bertaqwa yang bukan seorang nabi atau rasul.
Allah -Ta’ala- menegaskan:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا


“Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan 
orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS. An-Nisa` : 69)
Jadi, derajat Ash-Shiddiqin, Asy-Syuhada`, dan Ash-Sholihin seluruhnya tidak akan mencapai derajat seorang nabi, terlebih lagi derajat seorang rasul. 

Hal ini tentunya jelas, karena tidak mungkin mereka bisa mencapai derajat-derajat tersebut (Ash-Shiddiqin, Asy-Syuhada`, dan Ash-Sholihin) kecuali dengan beriman dan mentaati nabi dan rasul.

Peringatan:
Oleh karena itulah, di antara kebatilan apa yang dinyatakan oleh Ibnu ‘Araby bahwa jenjang tertinggi dalam agama adalah jenjang wali, setelah itu jenjang kenabian, dan yang paling rendah adalah jenjang kerasulan.Apa yang dia nyatakan ini adalah pemutarbalikan hakikat dan tidak tersembunyi kebatilannya dari setiap orang awam dari kaum muslimin, apalagi ulama’nya.

Para Nabi dan Rasul Juga Manusia Biasa

Para Rasul juga adalah manusia yang dicipta oleh Allah, mereka sama sekali tidak mempunyai hak rububiah dan uluhiah. Allah Ta’ala berfirman tentang pimpinan para nabi dan rasul:

قُلْ لاَ أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلاَ أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلاَ أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوحَى إِلَيَّ


“Katakanlah (wahai Muhammad): “saya tidak mengatakan kepada kalian, bahwa di sisi saya perbendaharaan Allah, dan tidak (pula) saya mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) saya mengatakan kepada kalian bahwa aku seorang malaikat. saya tidaklah mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku”. (Q.S.Al-An’am : 50)

Allah Ta’ala juga memerintahkan beliau untuk berkata:

قُلْ إِنِّي لاَ أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلاَ رَشَدًا


“Katakanlah (wahai Muhammad) : “Sesungguhnya saya tidak memiliki bagi kalian mudharat dan tidak pula petunjuk”. (QS. Al-Jin: 21)

Dan juga pada firman Allah Ta’ala :

قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ


“Katakanlah (wahai Muhammad) : “saya tidak berkuasa menarik kemanfa`atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya saya mengetahui yang ghaib, tentulah saya membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan saya tidak akan ditimpa kemudharatan. saya tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-A’raf: 188)

Bahkan mereka juga merasakan apa yang dirasakan oleh manusia berupa sakit, mati, makan, minum, dan seterusnya. Allah Ta’ala berfirman tentang khalil-Nya, Ibrahim -alaihishshalatu wassalam- dimana beliau berkata, “Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali).” (QS. Asy-Syu’ara`: 79-81)

Dan Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda:

وَلَكِنْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي


“Akan tetapi aku ini hanyalah manusia seperti kalian yang bisa lupa sebagaimana kalian juga bisa lupa, maka jika aku terlupa ingatkanlah.” (HR. Al-Bukhari no. 386 dan Muslim no. 889-893)

Beriman Kepada Para Rasul Mengandung Beberapa Perkara:

Pertama: 
Mengimani bahwa risalah mereka adalah benar dari Allah Ta’ala. Karenanya barangsiapa yang mengingkari risalah salah seorang di antara mereka maka sama saja dia telah mengingkari risalah semua rasul. Allah Ta’ala berfirman, “Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (QS. Asy-Syu’ara`: 105)

Kedua: 
Mengimani secara terperinci siapa di antara mereka yang kita tidak ketahui namanya, yaitu mereka yang telah kami sebutkan di atas. Adapun yang tidak kita ketahui namanya maka kita beriman kepadanya secara global, sebagaimana di atas.

Ketiga: 

Membenarkan kabar-kabar dan kisah-kisah tentang mereka selama kabar dan kisah itu benar dan shahih.

Keempat: 
Mengamalkan syariat rasul yang diutus kepada kita, yakni Muhammad -alaihishshalatu wassalam-. Allah Ta’ala berfirman, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa`: 65)

Buah Keimanan Kepada Para Rasul
Pertama: 
Mengetahui rahmat dan perhatian Allah kepada para hamba tatkala Dia mengutus kepada mereka nabi dan rasul yang akan menuntun mereka menuju jalan yang lurus.

Kedua: 

Bersyukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat yang besar ini.

Ketiga: 
Mencintai dan memuliakan para nabi dan rasul -alaihimushshalatu wassalam- karena mereka adalah hamba-hamba yang paling sempurna dalam ibadah kepada-Nya, mereka menyampaikan risalah-Nya, dan menasehati hamba-hambaNya.

____________
(1) Maksudnya adalah ayat 83-86 dari surah Al-An’am, Allah menyatakan:

(( وَتِلْكَ حُجَّتُنَا ءَاتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ. وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِينَ. وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ ))


“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada (1)Ibrahim untuk menghadapi kaumnya, Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat, sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan (2)Ishaq dan (3)Ya`qub kepadanya (Ibrahim), masing-masing dari keduanya telah Kami beri petunjuk; dan kepada (4)Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu (5)Daud, (6)Sulaiman, (7)Ayyub, (8)Yusuf, (9)Musa, dan (10)Harun, demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan (11)Zakaria, (12)Yahya, (13)`Isa dan (14)Ilyas, semuanya termasuk orang-orang yang saleh. Dan (15)Ismail, (16)Ilyasa`, (17)Yunus, dan (18)Luth, masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya)”.

Ini adalah nama 18 nabi, dan sisanya berupa 7 nabi yang lain disebutkan oleh penya’ir tersebut dalam sya’irnya

Mengapa kita harus beriman ke pada Al quran dan Rasul (mengungkap sebuah jawaban yang rasional antropologis)

Dalam rukun iman terdapat 6 hal yang harus kita imani, RUKUN IMAN ADA 6 yaitu:


    1. Iman kepada Allah

 Seseorang tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga dia mengimani 4 hal: Mengimani adanya Allah. Mengimani rububiah Allah, bahwa tidak ada yang mencipta, menguasai, dan mengatur alam semesta kecuali Allah. Mengimani uluhiah Allah, bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengingkari semua sembahan selain Allah Ta’ala. Mengimani semua nama dan sifat Allah (al-Asma'ul Husna) yang Allah telah tetapkan untuk diri-Nya dan yang Nabi-Nya tetapkan untuk Allah, serta menjauhi sikap menghilangkan makna, memalingkan makna, mempertanyakan, dan menyerupakanNya.

    2. Iman kepada Malaikat-malaikat Allah

    Mengimani adanya, setiap amalan dan tugas yang diberikan Allah kepada mereka.

   3.  Iman kepada Kitab-kitab Allah

    Mengimani bahwa seluruh kitab Allah adalah ucapan-Nya dan bukanlah ciptaanNya. karena kalam (ucapan) merupakan sifat Allah dan sifat Allah bukanlah makhluk. Muslim wajib mengimani bahwa Al-Qur`an merupakan penghapus hukum dari semua kitab suci yang turun sebelumnya.

    4. Iman kepada Rasul-rasul Allah

    Mengimani bahwa ada di antara laki-laki dari kalangan manusia yang Allah Ta’ala pilih sebagai perantara antara diri-Nya dengan para makhluknya. Akan tetapi mereka semua tetaplah merupakan manusia biasa yang sama sekali tidak mempunyai sifat-sifat dan hak-hak ketuhanan, karenanya menyembah para nabi dan rasul adalah kebatilan yang nyata. Wajib mengimani bahwa semua wahyu kepada nabi dan rasul itu adalah benar dan bersumber dari Allah Ta’ala. Juga wajib mengakui setiap nabi dan rasul yang kita ketahui namanya dan yang tidak kita ketahui namanya.

    5. Iman kepada Hari Akhir

    Mengimani semua yang terjadi di alam barzakh (di antara dunia dan akhirat) berupa fitnah kubur (nikmat kubur atau siksa kubur). Mengimani tanda-tanda hari kiamat. Mengimani hari kebangkitan di padang mahsyar hingga berakhir di Surga atau Neraka.

   6. Iman kepada Qada dan Qadar, yaitu takdir yang baik dan buruk

    Mengimani kejadian yang baik maupun yang buruk, semua itu berasal dari Allah Ta’ala. Karena seluruh makhluk tanpa terkecuali, zat dan sifat mereka begitupula perbuatan mereka adalah ciptaan Allah.

Bila kita telaah dari keenam tersebut ada yang janggal bila kita telusuri lebih dalam yang insyallah akan menemukan jawaban yang rasional mengapa kita harus beriman kepada alquran dan Rasul Allah – yang mungkin banyak di antara kita semua yang masih bingung kenapa kita harus juga mengimani keduanya, bukan kah bila kita mengimani rasul allah secara tidak langsung kita juga berarti mengimani kitab2 allah pun sebaliknya seperti itu. 

Kenapa tidak salah satu saja yang harus dimani ? dan mengapa kita harus mengimani manusia yang sama seperti kita (nabi Muhammad), dari fisik, akal, dan sebagainya selayaknya manusia biasa ? atau untuk apa kita beriman kepada kitab2 allah, sedangkan kitab2 tersebut di turunkan oleh Tuhan kepada rasulnya untuk dijadikan pedoman manusia sebagai petunjuk mana yang benar dan mana yang salah. 

Sedangkan kalau hanya untuk mendapatkan mana yang benar dan mana yang salah kita hanya cukup memakai hati nurani kita saja, karena sejatinya hati nurani manusia tidaklah pernah berbohong atau pun ingkar ?

semua pertanyaan tersebut tentulah saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya yang juga menjadi pertanyaan bagi banyak orang yang masih ragu ataupun mencari jawaban dari pertanyaan – pertanyaan tersebut.

Dalam ranah mengapa kita harus mengimani keduanya alquran dan rasul kita bisa mengambil hakikat untuk apa alquran diturunkan ke dunia dan mengapa harus melalui manusia yang jelas – jelas sama seperti kita. Kitab – kitab tuhan yang turun berangsur – angsur yang merupakan risalah dari tuhan melalui rasulnya pastilah akan mencapai yang sempurna (yang sesempurnanya) yaitu alquran al qarim, lalu untuk apa alquran itu diturunkan ke bumi kalau hanya untuk menentukan mana yang benar dan mana yang buruk dan kemudian untuk apa pula diimani. 

Memang benar, kalau hanya untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah buat apa alquran di turunkan ke dunia ini, sedangkan memakai hati nurani pun kita sudah cukup untuk mengetahui mana yang buruk dan mana yang salah. Sedangkan menurut saya beriman kepada kitab suci adalah kasih sayang tuhan kepada kita (makhluk NYA yang paling sempurna) agar tidak tersesat dan memiliki pedoman dalam hidupnya.

Tetapi apakah manusia dapat menjamin bahwa hidupnya akan baik dan benar ataupun sukses apabila hanya di bimbing oleh akal dan hati nurani dan apakah manusia dapat menjamin bahwa hidupnya tidak akan pernah lupa dan lengah?. 

Itulah sebabnya kitab suci berulang – ulang mengatakan bahwa dia(kitab suci) befungsi sebagai li dzikri, sebagai pengingat. Karena manusia tidak akan luput dari yang namanya lupa dan lengah. Namun agumen ini menyimpan titik lemah kalau hanya sebatas pengingat, setelah manusia lupa melakukan kesalahan mereka pasti akan di tegur oleh nalar dan nuraninya untuk tidak melakukan hal yang seperti itu lagi. Jadi buat apa kitab suci kalau hanya sebatas pengingat saja bagi mereka
.
Bila kitab suci hanya dibawa pada batas benar dan salah ataupun sebagai pengingat kehilafan kita sebagai manusia, jelas bahwa kitab suci tidak perlu di dunia ini. Jadi kita harus membawanya kepada fenomena bahwa Tuhan tidak akan membiarkan hambanya dalam kebingungan untuk bagaimana berhubungan dengannya. 

Sejak dahulu manusia selalu menginginkan berhubungan dengan yang maha kuasa, maka agar manusia tidak kebingungan dalam mencari jalan untuk berhubungan dengan NYA maka tuhan menurunkan Kitab Suci sebagai pedoman baginya. Misalnya orang yang tak beriman kepada kitab suci seperti Ibnu Ruwandi membuat jalan atau cara tersendiri dalam upayanya berhubungan dengan NYA, tetapi saya yakin ia tak dapat menjamin bahwa cara yang di pakainya itu benar. 

Dan apakah dapat sampai kepada NYA,pertanyaan ini pun tidak akan dapat ia jawab. Berbeda dengan kita apabila melakukan shalat sebagai cara untuk berhubungan dengan NYA. 

Sebab kita ber iman kepada firman NYA yang menyatakan bahwa shalat adalah cara untuk berhubungan dengannya dengan catatan kita melakukan shalat dengan benar dan sempurna sesuai dengan yang tuhan ajarkan. Beriman kepada kitab suci mempunyai makna bahwa tuhan tak akan membiarkan mkhlukn NYA kebingungan dalam menentukan cara untuk berhubungan dengannya, oleh karang itu tuhan menurunkan syariat sebagai jalan untuk bisa berhubungan dengan NYA. 

Apabila seseorang seperti Ibnu Ruwandi yang tidak beriman kepada kita suci melakukan hal – hal ataupun tindakan yang baik dan benar, ia tidak akan mendapatkan kepuasan batin yang perbuatannya tersebut adalah untuk menyenamgkan NYA dan taat kepada NYA, ia hanya sebatas level perbuatannya adalah benar. 

Adapun apakah itu perintah tuhan ataupun bukan, mereka bungkam. Mereka bingung karena mereka tidak beriman kepada kitab suci, mereka tidak beriman kepada firman NYA yang berkata bahwa perbuatannya tersebut merupakan perbuatan yang saleh.

Untuk menyampaikan risalah dan syariat – syariat nya yang termuat dalam kitab – kitab suci NYA dan sekaligus sebagai suri tauladan, tuhan pun memilih seorang rasul di antara para makhluk NYA untuk disampaikan kepada manusia yang ada di bumi. 

Disini timbul pertanyaan yang membuat telinga kita gerah juga yaitu mengapa rasul juga harus kita imani sedangkan ia hanyalah sebagai penyambung dari risalah tuhan kepada manusia yang lainnya, lagi pula nabi juga hanyalah manusia biasa seperti hal nya kita dari segi rupa, jiwa dan akal. Untuk menjawab pertanyaan tersebut bisa di analogikan seperti ini. 

Setelah manusia menerima adanya tuhan yang maha esa mereka membutuhkan informasi yang pasti untuk bisa berhubungan dengannya. Karena kasih sayang NYA tuhan menurunkan kitab suci. Tak hanya sampai disini kasih sayang tuhan pun berlanjut dengan memilih manusia tertentu untuk menyampaikan risalah NYAsekaligus untuk menterjemahkan semua risalah NYA tersebut di dunia. 

Seandainya para nabi tidak sama dengan kita (manusia biasa seperti kita) tidak mungkin kita dapat mencontoh cara berhubungan dengan NYA secara benar dan tidak mungkin pula kita dapat mengambil teladan darinya. Andai saja para rasul hanya menyampaikan risalah tuhan sedangkan mereka tidak menerapkan dalam kehidupan sehari hari ”kita bisa teriak dan tidak mempercayainya”. 

Karena sesungguh nya segala tindak tanduk dari para rasul adalah cerminan dari kitab suci tersebut khususnya nabi besar agung kita MUHAMMAD SAW, semua aktifitas dan kehidupan sosial yang beliau terapkan di dalam masyarakat adalah AL QURAN itu sendiri. Kata – kata beliau menyatu dengan perbuatannya.

Sebagaimana kita ketahui para sahabat menerima kerasulan Muhammad secara mutlak, ini bukan karena mereka bodoh menerima begitu saja ke rasullan muhammad justru mereka sangat lah cerdas. Pertama mereka beriman karena apa yang dibawa oleh muhammad yakni AL QURAN AL QARIM, adalah sesuatu yang agung. Para sahabat sadar benar bahwa ALQURAN tak mungkin ciptaan muhammad dengan segala keindahan makna dan pelafassannya, kerena muhammad tidak bisa membaca dan menulis.” Muhammad telah di pilihNYA” demikian keyakinan para sahabat kalau boleh di bahaskan. Justru orang – orang bodohlah yang tidak mengakui ke rasullan muhammad.

Kedua para sahabat beriman karena keluhuran budi pekerti muhammad. Sebelumnya muhammad dijuluki oleh para sahabatnya sebagai orang yang dapat di percaya atau jujur (al amin) dan mereka tidak menyangsikan kejujuran dan kesalehan nabi muhammad.

Jadi beriman kepada kitab suci alquran dan rasul allah adalah mutlak adanya, walaupun merupakan satu kesatuan yang tidak bisa di pisahkan. Kita mengimani kitab suci lebih karena kasih sayang tuhan kepada kita agar kita tak tersesat dalam dunia ini yang akan membimbing kita kepada kenikmatan NYA dan juga agar kita bisa senantiasa bisa berhubungan denganNYA secara benar sesuai syariat – sayariatnya yang merupakan kepasrahan kita kepada NYA, yang menciptakan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. 

Dan kita mengimani rasul rasul allah khususnya nadi besar kita Muhammad tidaklah bukan karena beliau merupakan perantara risalah tuhan untuk disampaikan ke pada dunia dengan segala kesantunan budi pekerti nya dan kesalehannya kepada manusia dan keimanan nya kepada Allah, karena kita butuh contoh dan tauladan untuk menjalankan segala perintah dan larangan yang ada dalam alquran. 

Dengan kita mencontoh segala perkataan dan perbuatan nabi secara tidak langsung kita mengimani nya. Singkatnya beriman kepada kitab suci berada dalam tataran teoritis atau kejiwaan maka beriman kepada para rasul sampai pada tataran praktis.

Semoga pernyataan saya ini dapat menjawab pertanyaan – pertanyaan nakal ada di benak kita selama ini dengan mengarah pada jawaban yang rasional antropologi. Walaupun pernyataan saya ini tidak atau belum memuaskan dan masih menyisakan mesteri dalam ranah teologi, karena di butuhkan tasawuf untuk mendapatkan jawaban yang seperti itu seperti kata imam Ghazali. Untuk lebih jelasnya lagi dan untuk mengetahui seluk beluk tentang kenabian anda dapat membaca buku yang berjudul ”Berpikir Seperti Nabi” karangan Fauz Noor


Demikian Artikel Tentang Mengapa kita harus beriman kepada nabi dan rasul.

1 Comments:

Prediksi Togel Malaysia
Kami ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan KI JAWI dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi KI JAWI dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan KI JAWI meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan KI JAWI kini saya b KI JAWI isa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik KI JAWI sekali lagi makasih yaa KI dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja KI JAWI DI 0823 1100 22887 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW
1. Di Lilit Hutang


2. Selalu kalah Dalam Bermain Togel
3. Barang berharga Anda. sudah Habis Buat Judi Togel
4. Anda Sudah ke mana-mana tapi tidak menghasilkan Solusi yang tepat
5. Keluarga anda.sdh hampir.berantakan gara2 Judi togel

Jangan Anda Putus Asa…Anda sudah...
berada Di blog yang sangat Tepat..
Kami akan membantu anda semua dengan
Angka Ritual Kami.dengan bantuan mahluk Ghoib..
Mulai dari CB, AI, SHIO, 2D,3D,4D & 6D
HUB: AKI JAWI di:(0823 1100 2287 )


KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB AKI_JAWI _:(0823 1100 2287 )terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

Reply