Multimeter alat ukur listrik



Multimeter merupakan alat ukur listrik. Terdapat dua jenis multimeter yakni analog dan digital. Tak semua orang tahu bagaimana cara pengoperasian dua jenis alat ukur listrik ini. Guna memahaminya, simak berikut penjelasan mengenai multimeter beserta jenis dan cara penggunaannya.

Pengertian Multimeter Dalam Buku Ajar Listrik dan Elektronika Dasar Teknik Pertanian karya Mareli Telaumbanua dijelaskan bahwa multimeter adalah sebuah alat ukur yang digunakan untuk mengukur besaran resistansi (hambatan), arus listrik, dan tegangan listrik. Multimeter juga dikenal dengan AVO (Ampere, Volt, dan Ohm) meter.

Multimeter dibagi menjadi dua jenis, yaitu multimeter analog dan digital. Perbedaan kedua multimeter ini dapat terlihat dari segi bentuk dan juga cara penunjukan hasil pengukuran. Pada multimeter analog hasil pengukuran ditunjukkan dengan jarum skala pada papan skala, sementara hasil pengukuran menggunakan multimeter digital dapat dilihat langsung pada layar digital.

Secara fisik, multimeter analog mempunyai ciri berupa jarum jam yang memiliki batas-batas angka hasil ukur. Sementara multimeter digital banyak digunakan karena dirasa jauh lebih mudah dalam pengoperasiannya dan dinilai lebih akurat hasil ukurnya.

Jenis Multimeter

Yohansli Noya dalam jurnalnya yang berjudul Multimeter Digital, Multimeter Analog (Fungsi dan Kegunaan) menjelaskan secara rinci dua jenis multimeter sebagai berikut:



A. Multimeter Digital

Multimeter digital memiliki akurasi yang tinggi dan kegunaan yang lebih banyak jika dibandingkan dengan multimeter analog.Tambahan satuannya lebih teliti dan opsi pengukuran lebih banyak sehingga tidak terbatas pada ampere (A), volt (V), dan ohm (O) saja. Hasil ukurannya juga lebih cermat karena menggunakan display 4 digit sehingga mudah membaca dan memakainya.

Multimeter ini biasa dipakai pada penelitian atau pekerjaan mengukur yang memerlukan kecermatan tinggi. Namun kekurangannya adalah susah memonitor tegangan yang tidak stabil.

Cara menggunakan multimeter digital:

  1. Putar saklar pemilih pada posisi skala yang kita butuhkan setelah alat ukur siap dipakai.
  2. Hubungkan probenya ke komponen yang akan kita ukur setelah disambungkan dengan alat ukur.
  3. Catat angka yang tertera pada multimeter digital.


B. Multimeter Analog

Multimeter Analog lebih banyak dipakai untuk kegunaan sehari-hari, seperti servis TV atau komputer kebanyakan menggunakan jenis analog ini. Bila melakukan pengukuran tegangan yang bergerak naik-turun, sebaiknya menggunakan multimeter analog.

Kelebihannya adalah tampilan yang lebih simple membuatnya mudah dibaca. Namun memang akurasinya rendah, jadi untuk pengukuran yang memerlukan ketelitian tinggi sebaiknya menggunakan multimeter digital.

Cara Menggunakan Multimeter Analog:

  1. Saat memulai setiap pengukuran, hendaknya jarum menunjukkan angka nol apabila kedua penjoloknya dihubungkan. Putar penala mekanik apabila jarum belum tepat pada angka nol (0).
  2. Putar saklar pemilih ke arah besaran yang akan diukur, misalnya ke arah DC mA apabila akan mengukur arus DC, ke arah AC V untuk mengukur tegangan AC, dan ke arah DC V untuk mengukur tegangan DC.
  3. Saat mengukur tahanan (resistor), saklar pemilih diarahkan ke skala ohm dan nolkan dahulu dengan menggabungkan probe positif dan negatif.
  4. Apabila belum menunjukkan angka nol cocokkan dengan memutar ADJ Ohm. Kemudian sambungkan penjolok warna merah ke positif dan penjolok warna hitam ke negatif.
  5. Saat pengukuran besaran DC, jangan sampai terbalik kutub positif dan negatifnya karena bisa menyebabkan alat ukurnya rusak.

Fungsi Multimeter

Fungsi multimeter diantaranya yaitu sebagai berikut:

1. Mengukur Arus Listrik

Mengukur arus listrik dapat dikatakan sebagai fungsi utama multimeter. Perhatikan tipe arus apa yang akan diukur, sebab alat ukur multimeter mempunyai dua jenis arus listrik yaitu arus listrik DC (Direct Current) dan arus listrik AC (Alternating Current). Hal ini bertujuan untuk menghindari atau meminimalkan resiko kerusakan komponen yang mungkin terjadi.

2. Mengukur Tegangan Listrik

Fungsi lain dari multimeter ialah sebagai alat ukur tegangan atau voltase yang dihasilkan dari komponen listrik. Batas maksimum pengukuran ini digunakan sebagai batasan, agar pada saat mengukur suatu komponen nilai tegangannya tidak melebihi kemampuan batas ukur.

3. Mengukur Hambatan Listrik

Multimeter juga mampu mengukur suatu resistansi atau hambatan dari resistor. Sama halnya dengan mengukur tegangan, multimeter juga memiliki batas ukur untuk mengukur hambatan.

4. Fungsi Hfe

Tidak semua multimeter memiliki fungsi Hfe. Fungsi Hfe digunakan untuk mengetahui nilai penguat dari suatu transistor dan sebagai pengukur transistor tipe NPN dan tipe PNP.

5. Mengukur Nilai Kapasitansi

Multimeter juga memiliki kemampuan untuk mengukur nilai kapasitansi pada suatu kapasitor. Sama halnya dengan fungsi lainnya, untuk mengukur nilai kapasitansi terdapat nilai batas maksimumnya. Oleh karena itu, pastikan kembali kapasitor yang akan diukur jangan sampai melewati batas maksimumnya.

6. Mengukur Frekuensi Sinyal

Multimeter juga dapat digunakan untuk mengukur frekuensi sinyal untuk mendapatkan nilai frekuensi yang tepat, dari sinyal yang dikirimkan oleh suatu komponen elektronik.

Cara Penggunaan Multimeter

A. Mengukur Tegangan DC

  1. Atur Selektor pada posisi DCV / (Arus searah, mengukur baterai).
  2. Pilih skala batas ukur berdasarkan perkiraan besar tegangan yang akan di cek, jika tegangan yang di cek sekitar 12Volt maka atur posisi skala di batas ukur 50V.
  3. Untuk mengukur tegangan yang tidak diketahui besarnya maka atur batas ukur pada posisi tertinggi supaya multimeter tidak rusak.
  4. Hubungkan atau tempelkan probe multimeter ke titik tegangan yang akan dicek, probe warna merah pada posisi (+) dan probe warna hitam pada titik (-) tidak boleh terbalik.
  5. Baca hasil ukur pada multimeter.

B. Mengukur Tegangan AC

  1. Atur Selektor pada posisi ACV / (Arus Bolak-balik, mengukur listrik).
  2. Pilih skala batas ukur berdasarkan perkiraan besar tegangan yang akan di cek, jika tegangan yang di cek sekitar 12Volt maka atur posisi skala di batas ukur 50V.
  3. Jika mengukur tegangan yang tidak diketahui besarnya maka atur batas ukur pada posisi tertinggi supaya multimeter tidak rusak.
  4. Hubungkan atau tempelkan probe multimeter ke titik tegangan yang akan dicek. Pemasangan probe multimeter boleh terbalik.
  5. Baca hasil ukur pada multimeter.

C. Mengukur kuat arus DC

  1. Atur Selektor pada posisi DCA/ (Arus searah, mengukur baterai).
  2. Pilih skala batas ukur berdasarkan perkiraan besar arus yang akan di cek, misalnya arus yang di cek sekitar 100mA maka atur posisi skala di batas ukur 250mA atau 500mA.
  3. Perhatikan dengan benar batas maksimal kuat arus yang mampu diukur oleh multimeter karena jika melebihi batas maka fuse (sekring) pada multimeter akan putus dan multimeter sementara tidak bisa dipakai dan fuse (sekring) harus diganti dulu.
  4. Pemasangan probe multimeter tidak sama dengan saat pengukuran tegangan DC dan AC, karena mengukur arus berarti kita memutus salah satu hubungan catu daya ke beban yang akan dicek arusnya, lalu menjadikan multimeter sebagai penghubung.
  5. Hubungkan probe multimeter merah pada output tegangan (+) catu daya dan probe (+) pada input tegangan (+) dari beban/rangkaian yang akan dicek pemakaian arusnya.
  6. Baca hasil ukur pada multimeter.

Nah dangstars blog, itulah tadi penjelasan lengkap mengenai multimeter. 

Semoga membantu, ya

Admin tidak bertanggung jawab atas semua isi komentar ,Mohon dipahami semua isi komentar dengan bijak