Puasa Mendidik Zuhud dari Dunia dan Cinta Akhirat

Puasa Mendidik Zuhud dari Dunia dan Cinta Akhirat | Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kita kepada hidayah Islam. Dan kita sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi petunjuk kepada kita. Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada baginda Rasulullah, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Sesungguhnya pendidikan Ramadlan yang sudah dan sedang kita jalani, tanda kululusannya adalah menjadi insan bertakwa. Yaitu insan yang senantiasa siap menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.


"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah; 183)

Kalimat la'allakum tattaqqun menggunakan bentuk fi'il mudhari', yang memiliki fungsi lilistimrar (kontinyu/terus-menerus) dan menunjukkan masa sekarang dan akan datang. Maknanya supaya kalian semenjak berpuasa dan sampai sesudah puasa terus menerus bertakwa. Bukannya buah takwa ini ketika Ramadlan saja, namun terus berlanjut ketika Ramadlan telah berlalu.

Salah satu makna takwa yang dijelaskan Imam Ali bin Abi Thalib adalah alisti'dad liyaumirrahil (senantiasa menyiapkan diri untuk kehidupan akhirat).


Satu pelajaran dari rutinitas puasa kita, khususnya dalam berbuka. Ketika tenaga kita pulih kembali dengan santapan makanan dan minuman, kita menggunakannya untuk ibadah kepada Allah melalui shalat berjama'ah Isya' dan tarawih. Kemudian dilanjutkan dengan tadarrus al-Qur'an. Begitu juga ketika sahur. Setelah kenyang dengan makanan sahur kita gunakan untuk shalat subuh. Dan makan sahur juga kita jadikan modal untuk taat kepada Allah dengan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.

Ini mengajarkan hakikat kehidupan kita, sebagai hamba Allah, di dunia ini. Yaitu menggunakan nikmat yang Allah berikan untuk menggapai kehidupan akhirat. Hal ini sesuai dengan pesan hamba Allah yang shalih kepada Qarun, yang Allah abadikan dalam QS. Al-Qashash: 77:


"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,.."

Maknanya: Hai Qarun, carilah surga dengan harta-hartamu itu. Bersedekahlah, jangan pelit dan jangan hanya nuruti syahwat dan kenikmatan duniawi.

Perbandingan surga dengan dunia

Sesungguhnya kehidupan surga benar adanya. Kenikmatannya luar biasa. Belum pernah ada mata yang melihat, telingan mendengar dan terbersih di hati manusia manapun. Maka, janganlah kemewahan dan gemerlapnya dunia memalingkan kita dari mencari kehidupan akhirat. Sungguh negeri akhirat lebih baik dari dunia dan lebih kekal.

Dalam riwayat Muslim Nabi shallallahi 'alaihi wasallam memberikan perbandingan antara kehidupan dunia dan akhirat. "bahwa kehidupan dunia dibandingkan akhirat seperti salah seorang kalian mencelupkan tangannya ke laut, maka lihatlah apa yang diperolehnya?"

Bahkan dalam hadits lain, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan, kalau seandainya dunia di sisi Allah memiliki nilai seberat sayap nyamuk, maka orang kafir tak akan diberi seteguk air.

Usaha mendapatkan surga

Allah berfirman:


“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.”(QS. Al-Isra' : 19)

Makna berusaha mencari kehidupan akhirat dengan sungguh-sungguh adalah mengamalkan amalan yang semestinya, yaitu iman yang benar dan amal yang shalih. Yaitu amal yang sesuai dengan al-Qur'an dan sunnah Rasulullah, serta menjauhi syirik dan maksiat.


Perlu kita ingat, bahwa kehidupan dunia hanya sementara. Kenikmatannya tak akan bertahan lama. Sedangkan janji surga benar adanya.

"Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah." (QS. Luqman: 33)

"Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir." (QS. Al-Isra': 18)