Inilah potret buruh di negeri sendiri

http://dangstars.blogspot.com/2013/12/inilah-potret-buruh-di-negeri-sendiri.html
Inilah potret buruh di negeri sendiri | Skema kemitraan (inti dan plasma) atau manajemen satu atap dalam pengembangan kelapa sawit di Indonesia sejak tahun 2006 melalui program revitalisasi perkebunan, menghadapkan hidup para pekerja sawit dengan kerasnya perjuangan mencari nafkah. Bukan hanya itu, para pekerja ini harus membanting tulang untuk dapat hidup di tanah yang sebetulnya miliknya sendiri.

"Istilahnya mereka seperti menjadi buruh di negeri sendiri. Hanya saja, ini dalam bentuk inti plasma, bermitra dan lain sebagainya," ujar Head of Campaign and Public Education Departement Sawit Watch Bondan Andriyanu usai menggelar Diskusi Perkebunan Kelapa Sawit Hendak ke Mana di Warung Daun Cikini, hari ini.

Lebih lanjut Bondan menyampaikan, semakin lama lahan masyarakat semakin habis. Bahkan di Kalimantan Tengah peta kebun sawit, tambang, dan hutan lindung jauh lebih besar dari luas provinsi itu sendiri.

"Lebih enggak masuk akalnya, peruntukan lahan untuk itu (tambang, kebun sawit, dan hutan lindung) lebih besar dari pada daerah daratannya. Karena tambangnya kan juga bisa lepas pantai," ujarnya.

Kondisi ini menurut Bondan, jauh lebih buruk dibanding keadaan dulu, di mana para penduduk lebih banyak berhutan. Sayangnya, hingga saat ini, belum banyak penduduk yang mengerti tentang hal tersebut. Sebagian besar menganggap, perbaikan ekonomi semu seperti kemampuan membangun rumah dan membeli kendaraan secara kredit merupakan bentuk sebuah peningkatan ekonomi.

"Mungkin sekarang punya rumah, sepeda motor, tapi mereka tidak berpikir kredit apa enggak, utang enggak. Ini kan harus diberi pengertian," katanya.

Di akhir Bondan menyampaikan, parahnya, kondisi ini justru banyak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang hanya ingin mengeruk kepentingan. Misalnya saja para penjual kendaraan bermotor terutama sepeda motor sebagai pasar kredit yang berpeluang besar.

"Pernah ada yang menelfon dari salah satu merek motor, tanya letak kebun-kebun sawit di mana saja. Mereka kemungkinan besar memanfaatkan kondisi ini sebagai target market," pungkasnya.
(okezone-image tempo-waspada)