7 jenis penggunaan obat yang tidak tepat

7 jenis penggunaan obat yang tidak tepat
7 Kesalahan Pemakaian Obat yang Berakibat Vatal

Obat dapat membantu menyembuhkan penderita penyakit, tetapi penggunaan obat yang tidak tepat juga dapat berefek sebaliknya, bahkan ada yang sampai dirawat di rumah sakit karenanya.

Sebagai contoh di Inggris misalnya, penelitian terbaru di Lloyds Pharmacy menemukan bahwa sebesar 46% orang memiliki masalah penggunaan obat yang tidap tepat ; catatan Royal Pharmaceutical Society menunjukkan bahwa sekitar 10% kasus rawat inap di rumah sakit disebabkan penggunaan obat yang tidak tepat. Menurut ahli terkait, jika setiap orang tahu penggunaan obat secara tepat, dapat menghindari masalah yang tidak diharapkan dan menghemat banyak sumber daya pengobatan nasional.


Melansir "Daily Mail", para ahli menyebutkan 7 jenis penggunaan obat yang tidak tepat secara umum, dan menjelaskan bagaimana mereka (obat) itu merusak kesehatan :


Obat yang dihancurkan agar mudah diminum


Ada beberapa obat yang diformulasikan dengan reaksi lambat, permukaan mereka (obat) biasanya dibalut dengan suatu lapisan, agar khasiat obat perlahan-lahan bereaski setelah berangsur-angsur melarut dalam pembalut. Bagi sebagian penderita biasanya obat dihancurkan atau dilumat setengahnya supaya mudah diminum, sehingga merusak lapisan obat, dan hal ini sama dengan melepaskan sekaligus reaksi obat dalam dosis besar, yang justru berefek sebaliknya yaitu merusak kesehatan sendiri.


Setiap hari minum satu tablet/pil obat tekanan darah adalah kekeliruan penggunaan obat yang umum ditemui. Obat-obat ini mengandung diltiazem hidroklorida (diltiazem HCL) atau isosorbid mononitrat, obat yang seharusnya secara bertahap bereaksi dalam waktu 24 jam ini, namun, oleh penderitanya kerap merasa obat (pil/tablet) ini terlalu besar dan sulit ditelan, sehingga membagi obat itu menjadi 2 bagian kemudian baru diminum. Apoteker dearpharmacist.info, Sunil Kochhar mengatakan bahwa obat yang diminum penderita dengan cara seperti itu justru mudah menyebabkan tekanan darah menurun drastis, sehingga dapat menyebabkan pingsan bahkan terjatuh dari loteng.


Kesalahan penggunaan (konsumsi) obat berkhasiat lambat yang kerap dijumpai adalah obat untuk mengobati epilepsi. Sekeping kecil obat yang dihancurkan atau dipotong mengandung racun karena dosisnya terlalu tinggi, mudah menyebabkan keracunan setelah diminum. Jika penderita tidak bisa menelan seluruh obat terkait, pastikan untuk dikonsultasikan dulu dengan dokter cara minum yang aman.


Menempelkan obat tempel sebelum mandi
Obat temple memiliki formula dosis yang tidak sama, misalnya : analgesic (obat pereda sakit), hormon, obat anti mabuk perjalanan dan sebagainya. Fungsi dari obat tempel adalah agar tubuh dapat menyerap dosis obat secara perlahan dan stabil. Namun, jika setelah menempelkan obat atau melumuri badan dengan suatu obat kemudian mandi, justru akan membuat dosis obat yang diserap tubuh itu menjadi berlebihan sehingga akan berefek negatif.


Pada 2011 lalu, seorang wanita lanjut usia (67) di Inggris mandi air panas setelah menempelkan obat tempel Fentanyl di badannya, namun akibatnya malang bagi wanita itu, ia tewas seketika. Ahli terkait menyarankan, saat akan menggunakan (minum) obat, pastikan dulu apakah boleh mandi air panas, menggunakan karpet pemanas atau sunbath (mandi di bawah sinar matahari) untuk memastikan keselamatan diri.


Minum obat pereda sakit untuk mengobati flu


Sebuah penelitian baru menemukan : minum obat pereda sakit saat flu atau influenza, justru menyebabkan penyakit berlangsung lama dan sulit sembuh.


Paul Little, profesor riset medis dari University of Southampton, Inggris, mengatakan : "Meskipun ibuprofen, obat pereda sakit dapat menghambat peradangan, tetapi sekaligus juga mengurangi respon kekebalan tubuh melawan infeksi." Ketika flu, reaksi peradangan menyebabkan hidung meler dan mata berair untuk menghilangkan infeksi. Jika minum ibuprofen untuk menghambat peradangan, justru tidak baik bagi tubuh. Paul Little menyarankan parasetamol sebagai gantinya, parasetamol dapat meredakan sakit dan demam tanpa menghambat peradangan. 

Namun, terkait flu, peneliti AS tidak merekomendasikan penggunaan parasetamol, terutama pada suhu tinggi virus tidak dapat mereplikasi secara efektif, sementara tubuh biasanya membasmi virus dengan suhu tinggi dari demannya itu. Dengan kata lain, meskipun obat penghilang rasa sakit ini dapat memperlambat demam, namun, akan membuat lebih banyak virus berkembang biak.


Overdosis Parasetamol


Dosis atas minum obat parasetamol dalam waktu 24 jam adalah 4 gram, ambil contohnya misalnya 500 mg/hari, dalam satu hari maksimal 8 kali, tidak boleh minum 2 pil sekaligus. Umumnya orang beranggapan tidak apa-apa minum obat sedikit lebih banyak. 500 mg untuk satu hari, mengambil hingga delapan kali, seseorang tidak dapat sekaligus mengambil dua.


Sebuah studi dari University of Edinburgh, Skotlandia, menemukan bahwa sebanyak 161 kasus penderita sakit gigi atau nyeri punggung, dimana setelah 4 – 5 hari berturut-turut minum lebih banyak 2 atau 3 keping dari dosis yang ditentukan, akhirnya masuk rumah sakit karena merasa tidak nyaman di sekujur badan. Sebenarnya, dosis yang berlebihan dari batas yang ditentukan dapat menyebabkan kerusakan hati. Nitin Makadia dari Lloyds Pharmacy mengatakan overdosis parah dapat berakibat fatal.


Menggunakan salep berlebihan untuk meredakan sakit

Ketika merasa sakit atau peradangan, umumnya orang-orang akan mengolesi salep di badannya untuk mengurangi ketidaknyamanan di sekujur badannya, mereka selalu menganggap efek samping dari obat gosok atau salep tidak begitu serius, padahal, jika di dalam obat gosok mengandung bahan aktif, dan penggunaan yang berlebihan juga akan berdampak negatif pada kesehatan.


Kochhar memperingatkan : "Untuk penyakit eksim, dimana jika selalu melumuri salep jenis steroid berlebihan, mudah menyebabkan kulit menjadi tipis, hingga kulit merekah. Selain itu, penggunaan salep estrogen dan progesterone yang berlebihan dapat menyebabkan kelebihan kadar hormone di dalam tubuh, akibatnya timbul gejala seperti nyeri payudara dan gejala sakit lainnya." Dan di samping itu, ada peningkatan jumlah kasus kematian akibat penggunaan krim analgesik (obat penahan sakit) yang berlebihan, misalnya metil salisilat, terutama sangat rentan terjadi pada saat yang sama penggunaan pil analgesik atau obat tempel (koyo)

Sama seperti obat pada umumnya, penggunaan obat salep juga perlu mendapat keterangan dari dokter, baru tidak akan berkhasiat sebaliknya.


Melumuri steroid pada luka luar

Ketika digigit serangga atau timbul campak, dokter biasanya akan memberi resep obat salep jenis steroid untuk mengurangi peradangan. Sultan Dajani dari Royal Pharmaceutical Society menekankan : "Jika kulit terkelupas karena digaruk, sebaiknya segera hentikan melumuri salep steroid di tempat yang luka robek, terutama karena steroid dapat menghambat zat kimia inflamasi, sehingga sistem kekebalan tubuh menurun ; sementara pada saat demikian penderita justru membutuhkan zat-zat kimia ini untuk memerangi bakteri atau virus, oleh karena itu, penggunaan obat steroid dalam kondisi demikian justru lebih rentan terhadap infeksi luka."


Minum ibuprofen menjelang olahraga

Sebuah penelitian di Maastricht University, Belanda menemukan : Sebelum pertandingan balap, bersepeda dan olahraga ektrem lainnya, minum obat non steroidal anti inflammatory, meskipun dapat menghambat rasa sakit karena olahraga terkait, namun rentan terhadap kerusakan dinding lambung, sehingga berisiko meningkatkan infeksi lain.


Para ahli menjelaskan, prostaglandin selain menyebabkan respon nyeri, tetapi juga dapat menghasilkan lendir pelindung di dinding bagian dalam usus. Ketidaknyamanan prostaglandin yang disebabkan oleh olahraga (gerakan), dimana meskipun dapat ditekan dengan ibuprofen untuk mengurangi efek nyeri, tetapi juga sekaligus merusak lendir pelindung. Dan pada saat demikian, bakteri dalam perut dapat menyelinap ke dinding lambung dan meresap masuk ke pembuluh darah, dan risiko keracunan makanan secara relatif meningkat.

Dokter Sundeept Bhalar di Spire Bushey Hospital menuturkan, ini hanya salah satu kasus dari efek samping obat akibat langsung olahraga seusai minum obat.


Sebagai contoh, minum obat penurun tekanan darah β beta blockers, dimana hal ini dapat meningkatkan peluang terjadinya pingsan saat berolahraga. Para ahli mengatakan bahwa ketika berolahraga, tubuh membutuhkan lebih banyak pasokan darah ke jaringan otak untk digunakan, jika tidak, mudah menyebabkan pingsan ; sementara β beta blockers dapat menghambat gerakan tekanan darah saat berolahraga, memutuskan suplai darah tambahan.


Contoh lain dari hal terkait di atas : salah satu efek samping dari statin yang digunakan untuk mengobati kolesterol darah tinggi adalah olahraga ekstrem setelah penggunaan obat, mudah menyebabkan nyeri otot. Contoh lainya, antibiotic seperti ciprofloxacin digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih, salmonella atau campylobacter menyebabkan keracunan makanan. Saat ini sudah diketahui, bahwa ciprofloxacin dapat melemahkan tendon tubuh. Setelah penggunaan ciprofloxacin, kemudian melakukan kegiatan olahraga berat atau mengangkat beban berat mudah menyebabkan kerusakan pada tendon.


Dalam pelbagai kondisi, olahraga sangat membantu untuk meningkatkan khasiat obat, namun, demi alasan keamanan, sebaiknya minta keterangan dokter apakah perlu menyesuaikan obat terkait dalam bidang olahraga.(Epochtimes/Jhoni/Yant)