Terjangan Badai Matahari Akan Membuat Bumi Lumpuh Total

Letusan protuberan tingkat X ke dua terjadi pada 10 Juni 2014. (Fotot: NASA/SDO)
Di pusat operasi udara, selain memperhatikan gejala cuaca yang umum ditemui, juga harus memperhatikan "badai matahari" yang jarang terjadi namun lebih membahayakan. Ketika badai matahari meletus akan menyemburkan sejumlah besar arus partikel listrik ke tata surya, yang mungkin akan menyebabkan badai geomagnetik setelah tiba di bumi, dan dapat mengganggu sistem komunikasi daya serta listrik, selain itu juga berbahaya terhadap kesehatan manusia.
Terjangan Badai Matahari Akan Membuat Bumi Lumpuh Total

Terjangan badai matahari ke bumi kerap terjadi, badai matahari super yang dapat menyebabkan dampak serius tersebut mungkin baru bisa ditemui dalam beberapa dekade atau ratusan tahun.


Setiap tahun perusahaan penerbangan perlu mengatur kembali puluhan kali rute penerbangan, untuk menghindari daerah badai magnetik. Penerbangan trans-Pasifik antara Asia dan Pantai Timur AS adalah rute yang paling berkemungkinan kena dampaknya. Tapi sang kapten tidak akan memberitahu penumpang bahwa pesawat sedang mengubah arah, hal ini dilakukan karena demi menghindari badai matahari, jadi, sang kapten hanya akan mengatakan dengan alasan cuaca buruk.


Untuk mengatasi dampak badai magnetik, diperlukan kerjasama global. Dengan adanya waktu peringatan yang cukup memadai, operator jaringan di New York dapat mengubah tegangan untuk mengurangi beban dari seluruh sistem, sekaligus melindungi jaringan dari kerusakan atas arus geomagnetik yang kuat. Setelah cuaca di ruang angkasa mengganggu komunikasi satelit, perusahaan yang bergantung pada layanan GPS harus menunda operasi pengeboran, pertambangan atau survei tanah.


Para ahli mengatakan bahwa pemerintah AS dan perusahaan belum siap menyambut badai magnetik serius yang langka, sementara badai geomagnetik yang serius mungkin dapat melumpuhkan instalasi listrik, yang akan membuat kota-kota besar tidak mendapat pasokan listrik dalam waktu lama.
Pada 1 – 2 September 1859 silam, terjadi badai matahari terkuat yang pernah tercatat dalam sejarah, yang disebut "event Carrington", di berbagai sudut belahan dunia dapat menyaksikan aurora. Sistem telegraf yang melintasi hubungan Eropa dan Amerika Utara menjadi lumpuh, terjadi percikan api di menara telegraf, dan kebakaran spontan. Meskipun daya pasokan listrik telah dihentikan, namun, beberapa sistem telegraf tampaknya masih terus mengirim dan menerima email. Tapi ketergantungan listrik dan sistem elektronik dunia ketika itu tergolong kecil, jadi tidak banyak terpengaruh.


Karena dampak badai matahari, pada Maret 1989 silam, sistem listrik pada perusahaan Hydro-Quebec Kanada terputus, akibatnya pasokan listrik pun terputus lebih dari 9 jam bagi 6 juta warga setempat. Sementara pada Oktober 2003 lalu, sistem GPS di kantor pengelola penerbangan federal AS ditutup selama 30 jam, sehingga berdampak pada beberapa wilayah di Swedia. Sementara sebanyak 20 unit trafo di Afrika Selatan mengalami kerusakan parah dan tidak dapat diperbaiki. Tingkat badai angin tersebut hanya seperempatnya badai Carrington.


Selama 24 jam penuh, pusat ramalan cuaca dari US National Oceanic and Atmospheric Administration memantau matahari, dan akan mengeluarkan peringatan kepada pemerintah asing dan berbagai sektor saat badai matahari menerjang. Perusahaan listrik dan maskapai penerbangan harus selalu mengimbangi dampak badai matahari yang tidak terlalu serius. Beberapa ilmuwan memperingatkan bahwa jika terjadi badai matahari yang kuat mungkin akan membuat Amerika Serikat kehilangan pasokan listrik dan sejumlah layanan penting lainnya selama beberapa pekan.


Pemerintah AS biasanya dapat mengeluarkan peringatan dini atas gangguan geomagnetik 30 menit sebelumnya. Sementara Space Center dapat mengeluarkan peringatan adanya badai matahari satu hari sebelumnya atau lebih, hal itu bergantung pada data terkait matahari yang dikumpulkan oleh 4 satelit tua, salah satu di antaranya adalah satelit ACE yang diluncurkan pada 1997 silam dan waktu operasionalnya yang sudah melebihi masa prediksi sebelumnnya.


Amerika Serikat dan negara-negara lain berbagi informasi terkait badai matahari, sejumlah besar negara di dunia termasuk Inggris, China dan Jepang, bergantung pada data satelit AS. NASA sedang menguji suatu jenis pesawat ruang angkasa baru, yang dijadwalkan akan diluncurkan pada 2015 mendatang untuk membantu para ilmuwan membuat kajian dan prediksi cuaca di ruang angkasa.

Karena badai matahari super yang terjadi di masa lalu hanya segelintir saja, jadi sulit untuk memprediksi kapan badai matahari super berikutnya akan terjadi lagi. Siklus matahari yang berlangsung saat ini dimulai pada 8 Januari 2008 lalu, adalah siklus matahari ke-24 sejak dicatatnya aktivitas sunspot pada 1755 silam. Dampak lebih serius letusan protuberan mungkin pada saat penurunan di masa puncak aktivitas matahari, yaitu di kisaran antara tahun 2014 – 2015.