MERENUNG MENCOBA MEMAHAMI KONSEP TAQDIR

http://dangstars.blogspot.com/2014/10/merenung-mencoba-memahami-konsep-taqdir.html
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai taqdir, ada 2 ayat yang harus dipahami terlebih dahulu. Tanpa memahami 2 ayat ini akan sukar rasanya mengerti masalah taqdir.

….Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari (masa) dan (sebelum itu) ‘Arsy-Nya berada di atas air untuk menguji siapakah antara kalian yang lebih baik amal perbuatannya.
Hud:7

Bagian akhir ayat tersebut bermakna bahwa manusia dihadapkan kepada ujian besar yang kemudian akan menentukan nasibnya. Bagaimanakah nasib itu? Allah berfirman dalam ayat lain :

Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi untuk membalas orang-orang yang berbuat jahat dengan apa yang telah mereka perbuat, dan membalas orang-orang yang berbuat baik dengan anugerah yang lebih baik.
An-Najm:31

Dari ayat tersebut orang yang memperoleh pengertian yang jelas bahwa yang berbuat jahat akan menerima hukumannya dan yang berbuat baik akan menerima pahala. Hal ini merupakan suatu keadilan yang tak dapat dibantah.

Allah berfirman bahwa Dia telah mengutus para Rasul kepada umat manusia untuk menunjukan jalan lurus kepada mereka. Sabelum Allah mengutus para Rasul, manusia sudah dikaruniai lebih dahulu akal untuk dapat berfikir dengan baik, dengan akal itu manusia dapat menentukan pilihan dengan bebas. Dengan semuanya itu Allah tidak dapat menerima alasan manusia untuk mengelak dari tanggung jawab pada hari kiamat kelak, dengan menyatakan :

Sesungguhnya kami lengah mengenai itu atau kalian akan mengatakan hal: “Sesungguhnya para orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedangkan kami adalah keturunan yang datang sesudah mereka. Apakah engkau akan memabinasakan kami karena perbuatan batil orang-orang terdahulu?”
Al-A’raaf:172-173

Dengan adanya ayat-ayat sebagaimana yang dikemukakan itu (Hud:7 dan An-Najm:31), mestinya tak ada alasan apapun yang dapat diterima atas pembangkangan yang dilakukan. Walau soalnya telah segamblang itu, namun ada juga orang-orang yang keblinger yang mengatakan : “Tidak ada apapun juga selain Allah, tak ada perbuatan apapun selain Allah, jari-jari Allah ada di belakang segala sesuatu, Allah-lah yang menggerakan segala sesuatunya.”

Hal melemparkan tanggung jawab atas akibat perbuatannya kepada qadar (taqdir), disebabkan karena salah pengertian dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka mencampuradukan antara soal ‘kebebasan’ (ikhtiar) dan soal ‘keterpaksaan’ (Jabr), baik yang mengenai dirinya sendiri maupun yang mengenai soal-soal yang berada diluar dirinya. 

Jantung kita terus menerus berdenyut menunaikan tugasnya tanpa seizin kita dan di luar kemauan kita. Apakah demikian pula gerak lidah kita pada saat berbicara? Diantara kita ada yang kulitnya putih dan ada pula yang berwarna hitam. Apakah orang harus bertanggung jawab atas warna kulitnya? Seperti ia harus bertanggung jawab atas sikapnya yang iri hati terhadap kenikmatan yang ada pada orang lain, atau atas sikapnya yang mengejek orang lain yang menderita cacat badan?

Contoh lain yang menggambarkan adanya kehendak manusia dan adanya kehendak Illahi misalnya seorang petani yang menanam pohon ganja, atau tanaman narkotik lainnya. Di depan pengadilan ia membela diri dengan mengatakan :”Bagaimanakah saya harus bertanggung jawab atas tanaman yang ditumbuhkan Allah? Memang benar saya telah menanam bibitnya di tanah, tetapi siapakah yang menumbuhkannya hingga ia berdaun dan berbuah? Bukankah Allah berfirman :”Apakah kalian melihat benih yang kalian tanam? Kalinkah yang menumbuhkannya ataukah Kami menumbuhkannya?”

Banyak orang yang memecahkan masalah-masalah agama dengan logika seperti itu!. Kita mengetahui, jika orang hendak berangkat ke mesjid atau ke tempat maksiat, jantungnya tetap berdenyut berdasarkan taqdir Tuhan, susunan syaraf otaknya yang mengeluarkan perintah kepada kaki supaya bergerak juga berdasarkan taqdir Tuhan, dan bumi yang diinjak tidak diguncang gempa dan tidak lenyap karena kehendak Tuhan; apakah semuanya itu berarti Tuhan yang mendorong pergi orang itu untuk pergi ke mesjid atau ke tempat maksiat? 

Tidak, sama sekali tidak! Manusia bebas berkehendak ia ‘dipaksa’ oleh kehendaknya yang bebas itu, dan dengan kehendaknya itu ia bebas menentukan pilihan yang benar, dan dengan pilihannya yang benar itu ia memperoleh balasan yang baik. Tuhan membantu manusia untuk memperoleh apa yang dikehendaki bagi dirinya, Tuhan yang mematangkan proses pertumbuhan benih di tanah, dan Tuhan yang membantu manusia untuk dapat membuat arus listrik yang menerangi rumahnya. Semuanya itu tidak menghilangkan tanggung jawab manusia atas apa yang telah diperbuatnya.

Maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir
Al-Kahfi:29

Jadi jelaslah, seseorang dengan naluri ‘kehendaknya’nya itu dapat menempuh jalan yang terang (kebajikan), dan dapat pula menempuh jalan yang gelap (kejahatan), dapat bersukur dan dapat ingkar.
Bila kita baca firman Allah berikut :

Demikianlah Allah Menyesatkan siapa saja menurut kehendak-Nya, dan memberi hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan tiada ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu melainkan Dia,
Al-Muddatstsir :31

Ayat diatas tidak dapat diartikan bahwa Allah dengan semena-mena menentukan jalan hidup manusia. Jauh nian Allah Yang Maha Penyayang dan Maha Adil berbuat seperti itu! Tapi lihatlah siapa yang dimaksud untuk disesatkan-Nya dalam firman-firman-Nya berikut :

Dan Allah menyesatkan orang-orang zalim, dan Allah berbuat menurut kehendak-Nya.
Ibrahim:27
Demikain Alah menyesatkan orang yang melampui batas dan ragu-ragu.
Al-Mu’min:34

Dan Allah tidak memberi hidayah (petunjuk) kepada orang pendusta yang sangat ingkar.
Az-Zumar:3

Jadi pada dasarnya, sebelum Allah menghendaki kesesatan seorang manusia, manusia itu sudah lebih dulu menyesatkan dirinya. Demikian juga bila kita ingin tahu siapakah yang akan diberi hidayah oleh-Nya, dapat dilihat dalam ayat-ayat berikut :

Seungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, akan diberi hidayah oleh Tuhan mereka atas keimanan mereka.
Yunus: 9
Dan barangsiapa beriman kepada Allah, hatinya diberi hidayah oleh-Nya.
At-Taghaabun:11

Allah memberi hidayah kepada orang-orang yang kembali (bertobat) kepada-Nya, mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan selalu ingat kepada Allah.
Ar-Ra’d:27,28

Penjelasan hal ini janganlah diartikan sebagai mencari-cari, karena memang sesungguhnya ayat-ayat Al-Qur’an itu saling menafsirkan, saling membenarkan dan saling menyempurnakan.
Apakah dengan demikian dapat diartikan bahwa penentuan lebih dahulu dari Allah atas segala kejadian di dunia ini, baik yang menimpa alam atau pun diri kita, tidak ada? Lihat firman Allah berikut :

Tidak ada sesuatu kejadian pun terjadi di bumi dan tidak pula pada diri kamu melainkan telah ada dalam kitab (suratan) sebelum Kami melaksanakannya. Sesungguhnya hal itu bagi Allah adalah perkara mudah. Agar kamu tidak terlalu sedih atas sesuatu yang luput dari kamu, dan tidak perlu terlalu gembira atas sesuatu yang dikaruniakan-Nya kepada kamu. Allah tidak suka kepada setiap orang yang angkuh dan banyak membanggakan diri.
Al-Hadiid:22,23

Jadi jelas bahwa taqdir itu memang ada! Dan apa pun taqdir yang menimpa seorang Muslim tidak perlu dipermasalahkan karena tetap saja ia dituntut untuk melaksanakan makna “Islam”, yaitu menyerahkan diri seutuhnya tunduk patuh kepada segala kehendak dan ketentuan-Nya (dengan perkataan lain, ditaqdirkan bagaimana pun ia tidak terbebas dari kewajiban menjalankan “aturan main” yang dibuat-Nya). Itulah inti ajaran semua agama yang dianut oleh seluruh Nabi-nabi terdahulu. Dengan demikian, jelaslah apa pun taqdir yang menimpa manusia, itu adalah merupakan ujian-Nya apakah kita dapat tetap taat menjalankan aturan main-Nya atau tidak. 

Oleh karena itu, sebagai raja ataupun sebagai rakyat jelata pada hakekatnya adalah sama saja, karena kedua-duanya masing-masing mengemban amanah (aturan main) yang wajib dilaksanakan dan kelak harus dipertanggungjawabkan, hanya saja tentunya bentuk amanahnya itu berbeda. Hal ini ditegaskan oleh Allah dengan firman-Nya bahwa manusia yang terbaik adalah bukan kedudukannya yang paling tinggi, tetapi manusia yang terbaik itu adalah yang paling tinggi ketaatannya pada aturan main yang telah ditentukan.

Seorang muslim dituntut harus ikhlas menerima taqdir Illahi, bila tidak maka ia berdosa. Rasulullah saw. bersabda, “..dan kamu harus percaya kepada taqdir-Nya yang baik maupun yang buruk.” Dalam hal kita menerima taqdir yang menurut sangkaan kita itu adalah buruk, disamping kita percayai itu sebagai ujian, maka kitapun harus berprasangka baik bahwa Allah tidak mungkin berbuat zalim atau berbuat tidak adil. Adapun rasa tidak puas atas ketentuan yang ditetapkan-Nya, ini merupakan ‘kelemahan’ manusia yang sudah menjadi sifatnya sebagaimana yang diisyaratkan Allah dalam firman-Nya :

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.
Al-Baqarah:216

Salah satu manfaat adanya ajaran mengenai taqdir ini adalah agar kita tidak terjebak dalam sikap angkuh (kibr) dan putus asa. Angkuh dan tidak tahu diri karena mengalami keberhasilan; dan berputus asa karena mengalami kegagalan. Bukankah dua sikap ini sangat dilaknat Allah? 


Bahkan Rasulullah saw. Mengatakan, “Tidak akan masuk sorga orang yang memiliki sikap angkuh walaupun hanya sebesar biji sawi!” Demikian pula di konsep taqdir ini dipahami dengan baik, maka manusia tidak akan terjebak dalam sikap apatis (nrimo) yang jelas-jelas dilarang oleh Allah. Berusahalah sekuat kemampuan yang ada untuk menjadi lebih baik lagi, sedangkan perkara hasilnya kita percayakan sepenuhnya pada kehendak Allah (Laa haula walaa quwwata Illa billaahil Aliyyil Adzim../ tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah).

Riwayat berikut ini mungkin akan memparkaya wawasan kita dalam memahami taqdir. Dikisahkan ketika negeri Syam terjadi wabah, khalifah pada saat itu yaitu Umar bin Khatab membatalkan rencana berkunjung ke sana. Mendengar berita ini seorang sahabatnya bertanya, “Apakah anda lari/menghindar dari taqdir Tuhan?” Umar pun menjawab, “Aku lari/menghindar dari taqdir Tuhan kepada taqdir yang lain.” Demikian pula ketika Imam Ali bin Abi Thalib sedang duduk bersandar di suatu tembok yang ternyata rapuh, beliau pindah ke tempat lain. 


Beberapa orang di sekelilingnya bertanya seperti pertanyaan di atas. Jawaban Ali bin Abi Thalib sama intinya dengan jawaban Khalifah Umar r.a. Runtuhnya tembok, berjangkitnya penyakit adalah berdasarkan hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya, dan bila seseorang tidak menghindar, ia akan menerima akibatnya. Akibat yang menimpanya itu adalah juga taqdir, tetapi bila ia menghindar dan luput dari marabahaya maka itupun taqdir.

Nabi dan sahabat-sahabatnya utama beliau, tidak pernah mempersoalkan taqdir sebagaimana dilakukan oleh para ulama/teolog. Mereka sepenuhnya yakin tentang taqdir Allah yang menyentuh semua mahluk manusia, tetapi sedikitpun keyakinan ini tidak menghalangi mereka berjuang, dan kalau kalah sedikitpun mereka tidak menimpakan kesalahan kepada Allah. Sikap nabi dan para Sahabat tersebut lahir karena mereka memahami Al-Qur’an tidak secara sepotong-sepotong, tetapi memahaminya secara keseluruhan/kesatuan.

Tambahan :
Prof. DR. M. Quraish Shihab seorang pakar tafsir lulusan Al-Azhar, dalam bukunya “Lentera Hati”, mengatakan bahwa perintah Allah kepada manusia pada dasarnya ada dua jenis, Yaitu perintah-Nya yang berkaitan dengan syari’at agama dan perintah-Nya yang berkaitan dengan hukum-hukum kemasyarakatan yang disebut Sunatullah.”

Perintah yang berkaitan dengan syari’at, seperti shalat, puasa, zakat, dan lain-lain, ditunda ganjaran dan sanksinya sampai hari kemudian. Kalaupun ganjaran atau sanksi itu ada yang dapat dirasakan di dunia, itu hanyalah sekedar panjar. Sedangkan perintah yang berkaitan dengan Sunatullah, sanksi dan ganjarannya akan dirasakan dalam kehidupan dunia ini. Siapa yang giat bekerja, belajar, akan kaya dan sukses dan itulah ganjaran-Nya. 


Siapa yang membiarkan diri terserang kuman, atau menganggur tidak bekerja, pasti menderita dan itulah siksa-Nya. Bukankah hukum-hukum alam dan kemasyarakatan adalah ciptaan dan ketentuan Allah juga, dan penderitaan yang dialami akibat melanggarnya adalah ketetapan-Nya juga yang diberlakukan tanpa pilih kasih serta berdasarkan hukum-hukum itu? Dalam hal ini Al-Qur’an mengatakan, “Allah tidak menganiaya mereka, tetapi mereka yang menganiaya diri sendiri” [Al-Imran:117].

Dari pengertian tersebut kiranya tidak perlu lagi kita mempertanyakan berikut: “Mengapa non Muslim maju sedangkan mereka tidak shalat dan juga tidak puasa?” Bukankah kemajuan material mereka diraih dengan bertebarannya mereka di bumi dan cucuran keringat? “Mengapa rizki tidak kunjung datang sedangkan tahajud telah melengkungkan punggung?” Bukankah ini ganjarannya ada di akherat nanti?
Akhirnya, kita kita harus sadar bahwa kita baru mengalami setengah dari perintah Allah, sementara setengah lainnya delaksanakan dengan baik oleh umat yang lain. Padahal Al-Qur’an telah menegaskan, “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan ) yang lain.” [Alam-Nasyrah:7]

Referensi :

1. Syaikh Muhammad Al-Ghazali, “Al-Ghazali menjawab 40 Soal Islam abad 20”
2. DR. Nurcholis Madjid, “Pintu-pintu menuju Tuhan”
3. Prof. DR. M. Quraish Shihab, “Lentera Hati”

Sekali lagi mengenai taqdir :
Manusia diberi kebebasan sepenuhnya untuk berkehendak (free will) tetapi hasil akhirnya bukan ditentukan oleh upaya manusia itu sendiri melainkan Allah lah yang menentukan hasilnya. “Kebebasan” yang diberikan Allah kepada manusia ini kelak akan dituntut pertanggungjawabannya di akherat kelak. Bagi yang memilih perbuatan buruk akan diberi ganjaran berupa siksa, sedangkan bagi yang memilih perbuatan baik akan diberi ganjaran berbentuk nikmat.

Manusia hanya berupaya, Tuhan lah yang Menentukan hasilnya. Dengan demikian, keputusan apakah kita akan pergi ke mesjid atau ke tempat maksiat semata-mata itu ditentukan oleh kehendak kita sendiri, Allah sama sekali tidak ikut campur. Allah hanya ikut campur dalam perkara yang menyangkut hasilnya. Sampai tidaknya kita ke tempat yang akan dituju sepenuhnya ditentukan oleh Allah. Dari sini kita dapat mengerti mengapa Islam mengajarkan bahwa niat yang baik akan diberi ganjaran. Dan juga mengapa Al-Qur’an mengatakan bahwa kita terlarang merasa ‘pasti’ tetapi ucapkanlah ‘Insya Allah’. Juga mengapa Islam mengajarkan bersyukur apabila kita sampai dengan selamat di tempat yang menjadi tujuan kita.

Memang pembahasan mengenai taqdir seringkali berakhir dengan ngambang. Hal ini mungkin disebabkan karena pada waktu membahasnya tidak dijiwai dengan :
Al-Qur’an itu adalah merupakan pedoman hidup yang memberikan pelajaran/motivasi agar manusia dapat hidup bahagia.

Ayat Al-Qur’an harus diterapkan pada situasi dan kondisi yang tepat.
Al-Qur’an itu harus diperlakukan secara terpadu, artinya dalam menafsirkan suatu ayat kita harus juga membawa 6.236 ayat lainnya.

Ayat-ayat dalam Al-Qur’an tidak mungkin ada yang bertentangan antara satu dengan yang lainnya.